Senin, 02 Juni 2014

Pelajar Indonesia Di Luar Negeri Jembatan Antara Indoonesia dan Dunia

Di era globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan telah mencapai era baru dimana  transfer ilmu dan pengetahuan telah menembus batas-batas negara dan juga jarak dengan dinamika yang sangat berbeda dengan zaman pra-globalisasi. Salah satu bentuk dari transfer pengetahuan lintas negara ini adalah dalam bentuk pelajar Internasional, dalam artian para pelajar (umumnya mahasiswa) yang menuntut ilmu pengetahuan dan mengejar gelar akademis di negara luar yang bukan negara asalnya. Hal ini sendiri relatif tidak baru karena sudah banyak kaum terpelajar Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri di masa pra-kemerdekaan Indonesia sebelumnya. China dan Jepang sendiri saat di awal abad 20 sudah banyak mengirimkan pelajar ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat untuk menuntut ilmu yang nantinya akan berguna untuk kemajuan negara mereka. Dari sejarah dapat kita lihat bahwa kemajuan negara Jepang yang kita saksikan saat ini juga merupakan buah dari transfer ilmu dari negara barat ke Jepang, bahkan sekarang transfer pengetahuan tersebut sudah berubah menjadi transfer dua arah.  Perlu dicatat bahwa transfer ilmu tersebut bukan hanya oleh pelajar yang dikirimkan ke barat tetapi juga melalui kerjasama industri dan berbagai hal lainnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi, dinamika dan cara pikir mahasiswa internasional pun juga telah berubah jika dibandingkan dengan saat awal abad 20. Teknologi internet telah mempermudah saya untuk mengakses jurnal ilmiah dan berkomunikasi dengan ilmuwan lain di luar Indonesia. Teknologi transportasi terbaru telah mempermudah adanya konferensi ilmiah internasional ataupun memudahkan mahasiswa untuk berpindah-pindah negara dan mencari pengalaman baru. Tujuan mahasiswa untuk belajar di luar negeri pun juga makin beragam, mendapatkan pengalaman dan wawasan internasional hanyalah satu dari sekian tujuan tersebut, ada juga yang untuk jalan-jalan  atau mendapatkan gelar luar negeri untuk gengsi dan sebagai amunisi tambahan ke calon mertua. Tetapi satu hal yang mungkin tidak akan pernah berubah adalah, secara umum, para kaum terpelajar tersebut akan tetap memberikan kontribusinya untuk dunia, ikut menjadi motor pergerakan dunia,  dan memajukan peradaban umat manusia. Saya beri contoh di bidang saya sendiri :  kemajuan teknologi peroketan Amerika dan Cina dimotori oleh seorang ilmuwan Cina, Qian Xuesen, yang mempelajari ilmu pasti di Amerika dan kemudian turut membangun teknologi luar angkasa di Amerika sebelum kembali ke Cina untuk melakukan hal yang sama di negaranya. Efek dari kemajuan teknologi luar angkasa ini dapat anda rasakan sekarang saat memakai sistem navigasi Global Positioning System (GPS), memantau data penyebaran abu vulkanik erupsi gunung berapi, mitigasi bencana, ataupun kegunaan lainnya.  Hanya saja masalah tidak akan pernah selesai, saat saya sebutkan kemajuan peradaban umat manusia, sebenarnya saat ini hanya segelintir kecil umat manusia yang dapat menikmati kemajuan tersebut; pekerjaan  masih banyak. Akan  selalu ada ruang untuk memberikan kontribusi kepada dunia dan kaum terpelajar berada di garis terdepan untuk itu. Dengan jumlah pelajar Indonesia di luar negeri yang semakin meningkat, sudah sewajarnya Indonesia juga dapat terus memberikan kontribusi ke dunia melalui medium yang berupa kaum-kaum terpelajar.  Saya akan sering menggunakan kata mahasiswa karena mayoritas pelajar Indonesia di luar negeri adalah pelajar tingkat sarjana atau lebih tinggi.

Mahasiswa Indonesia di luar negeri sering sekali menjadi harapan masyarakat di Indonesia untuk kembali membangun negara jika mereka sudah menyelesaikan masa studinya nanti. Dengan berbekal ilmu, pengalaman, dan wawasan yang mereka dapat di luar negeri, keberadaan mereka juga sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan Indonesia. Hal tersebut benar, karena tidak semua bekal penting yang diperlukan untuk membangun negeri bisa kita dapatkan di dalam negeri. Sampai saat ini mayoritas sudut pandang melihat dari apa yang dapat diberikan pelajar tersebut untuk Indonesia saja. Akan tetapi ada satu sudut pandang yang sampai saat ini sering terlewatkan: yaitu apa yang dapat diberikan mahasiswa Indonesia untuk dunia? Sebelum saya mencoba membahas lebih lanjut tentang sudut pandang ini, saya ingin memberikan contoh dari China dan India. Berdasarkan data dari The Institute of International Education tahun 2011-2012, mahasiswa India dan China menyumbang porsi besar dari total populasi mahasiswa internasional di Amerika Serikat dengan persentase masing-masing sebesar 25.4% dan 13.1%. Tidak hanya itu saja, banyak dari pelajar-pelajar ini yang kemudian menjadi ilmuwan, pengusaha, atau bahkan juga menjadi pengambil kebijakan di Amerika Serikat. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) yang terkenal dengan robot-robot canggihnya dikepalai oleh Arati Prabhakar, seorang imigran dari India yang mendapatkan gelar PhD-nya di Amerika Serikat. Efek dari kaum terpelajar ini juga dapat dirasakan oleh negara mereka sendiri, pembangunan ekonomi China tidak lepas dari sumbangan diaspora mereka yang bahkan sudah beratus-ratus tahun lamanya. Saya pernah dengar ungkapan bahwa pemerintah China tidak pernah menuntut semua diasporanya untuk kembali ke China, mereka percaya bahwa buah dari pengalaman diaspora China di luar negeri akan memberikan nilai lebih dan manfaat tersendiri untuk China nantinya. Saat ini saya sedang membaca buku “China Airborne” yang membahas tentang perkembangan bisnis aviasi dan teknologi perkembangan di China. Dalam buku ini disebutkan bahwa kaum China yang mendapatkan pendidikannya di luar negeri dan dibekali kemampuan bilingual (Mandarin + Inggris) bahkan trilingual merupakan salah satu aset terpenting negara China, dimanapun mereka berada.

Tentu saja Indonesia juga tidak kalah, Indonesia memiliki Sehat Sutardja yang menjadi pendiri Marvell Technology sebagai perusahaan besar di bidang semikonduktor, dan juga masih banyak lagi contoh lainnya. Dari apa yang saya diskusikan dengan kolega-kolega saya, peran penting yang seharusnya dimiliki mahasiswa Indonesia di luar negeri inilah yang sering dilewatkan. Selain berkontribusi untuk Indonesia, mereka juga memiliki peran besar dan penting untuk turut membangun dunia. Walaupun peran ini tentunya juga dimiliki oleh kaum terpelajar di Indonesia, mahasiswa Indonesia yang sedang berada di luar negeri memiliki nilai plus dengan keberadaan mereka secara fisik di luar negeri. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah: kontribusi seperti apa yang bisa pelajar Indonesia di luar negeri berikan untuk di dunia? Mahasiswa-mahasiswa tersebut bukan saja hanya sebagai duta Indonesia untuk mengenalkan Indonesia ke luar negeri. Hal tersebut penting tetapi duta Indonesia bukan hanya berarti menjadi duta budaya Indonesia, duta Indonesia artinya juga duta Indonesia untuk dunia, sebagai medium untuk Indonesia memberikan sumbangsihnya ke dunia. Contoh mudahnya adalah hasil penellitian mahasiswa master atau doktor yang dilakukan mahasiswa Indonesia di luar negeri merupakan bentuk sumbangan dari Indonesia untuk dunia. Tetapi hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan contoh yang ada, percaya atau tidak, sikap kita saat berhadapan dengan orang luar juga bisa menjadi perwujudan kecil dari sumbangsih tersebut. Saat kita berdiskusi dengan kolega dari negara luar kemudian kita menyumbangkan ide yang berguna, itu juga merupakan sumbangsih dari Indonesia untuk dunia. Jika kita berperilaku dan bertutur kata baik saat berhadapan dengan orang dari negara lain, itu juga merupakan bentuk dari sumbangan kita untuk dunia. Bayangkan jika anda sedang berdiskusi dengan orang dari negara X di suatu kelas kemudian orang tersebut selalu memotong pembicaraan orang lain ketika sedang berdiskusi, yang lazim timbul di pikiran kita adalah “orang-orang negara X perilakunya tidak sopan ya”. Walaupun belum tentu semua orang dari negara  X seperti itu tapi acapkali kita melakukan generalisasi suatu stereotipe dari suatu bangsa padahal saat itu kita hanya melihat satu sampel. Sadarkah jika itu juga berlaku untuk anda ketika anda sedang berada di negeri orang? Orang luar bisa menganggap bangsa Indonesia adalah bangsa yang malas ketika melihat kita malas-malasan kuliah dan hanya tidur di kelas, akan lain halnya jika kita berperilaku yang bertentangan dengan sikap yang dipandang negatif barusan. Mungkin saja orang luar akan melihat dan berkata “wah, orang Indonesia rajin-rajin sekali, saya tidak boleh kalah dengan mereka”. Di sini lah mengapa saya memandang keberadaan mahasiswa Indonesia di luar negeri secara fisik penting, karena tindakan dan perilaku kita dapat langsung dilihat oleh orang luar. Bahkan bukan hanya mahasiswa, saya pikir setiap orang Indonesia yang berada di luar negeri memiliki tanggung jawab yang sama, bahkan ketika saat itu anda hanya menjadi turis sekalipun.

Selain sikap, tentunya bentuk kontribusi mahasiswa Indonesia yang lebih nyata (dalam artian lebih terlihat oleh dunia) adalah sumbangan kita yang berupa ide, pemikiran, hasil penelitian, prototipe, atau produk teknologi. Penting memang ketika kita berpikir untuk kemajuan Indonesia, tetapi saya pikir peran utama dari pelajar Indonesia di  luar negeri adalah dengan secara langsung menunjukkan apa yang Indonesia bisa lakukan di mata dunia dan juga memberikan sumbangsih untuk dunia. Ingat bahwa peran ini juga dimiliki oleh mahasiswa Indonesia di dalam negeri, oleh karena itu lah pertukaran pelajar Indonesia dengan negara lain atau mengirimkan mahasiswa dalam negeri untuk kejuaraan di luar negeri sangatlah penting. Saya sendiri bangga ketika melihat mahasiswa Indonesia dari sekolah/universitas dalam negeri dapat meraih prestasi berupa penghargaan atau menjadi juara di luar negeri. Melihat ilmuwan atau pengusaha Indonesia yang sukses di luar negeri tentunya juga hal yang sangat membanggakan. Hal ini menunjukkan bahwa orang Indonesia juga dapat bersaing di kancah internasional dan secara langsung maupun tidak langsung juga mengharumkan nama Indonesia. Untuk mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di luar negeri, disinilah anda juga mendapatkan peran untuk menunjukkan apa yang orang Indonesia dapat lakukan. Jika kita belajar dari diaspora China dan India yang sudah mengisi berbagai posisi penting di negara seperti Amerika Serikat (terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi), saya pikir Indonesia juga dapat melakukan hal yang sama dengan  bonus demografi yang Indonesia miliki. Walaupun saya memberikan contoh dalam bidang teknologi, pada hakikatnya semua bidang pengetahuan memiliki peran yang sama, Muhammad Yunus dari Bangladesh (peraih nobel perdamaian 2006) adalah satu dari sekian contoh yang ada.

Idealnya menurut saya, dari semua populasi mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri sekitar 50% dari mahasiswa tersebut nantinya perlu kembali ke Indonesia untuk membangun Indonesia dan juga dunia dari dalam dimana 50% sisanya melakukan hal yang sama dari luar negeri. Kesamaannya adalah dimanapun mereka berada, mereka dapat memberikan manfaat dan kontribusinya ke Indonesia dan dunia dengan caranya masing-masing. Dr. Warsito dapat dijadikan contoh dimana beliau membawa teknologi Tomografi yang ia kembangkan di luar negeri untuk dikembangkan lebih lanjut di Indonesia, manfaat dari penelitian beliau dapat dirasakan Indonesia dan juga dunia. Saya juga memiliki kenalan professor Indonesia di universitas di Australia yang tidak segan untuk membimbing mahasiswa Indonesia di universitas dalam negeri lewat komunikasi jarak jauh. Ada juga professor Indonesia di universitas Korea dan juga di Jepang yang sampai sekarang tetap aktif menjalin hubungan dengan universitas dalam negeri dan juga rajin bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang ada di Korea. Saat saya menjadi mahasiswa sarjana dan master di Bandung, saya sering berkomunikasi dengan alumni laboratorium saya yang sedang kuliah di luar negeri agar saya tetap dapat memantau perkembangan terbaru yang ada di ilmu saya mengingat saya memiliki keterbatasan untuk mengakses jurnal ilmiah saat itu. Manfaat dari hal tersebut dapat kita rasakan sendiri dimana orang Indonesia tersebut menjadi penghubung antara Indonesia dan dunia internasional. Koneksi yang dijalin dengan kolega kerja di luar negeri juga merupakan hal yang penting, dengan cara ini anda akan menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia internasional untuk terus menerus membawa Indonesia ke dunia dan juga membawa Indonesia ke dunia. Jalin hubungan baik dengan kolega-kolega internasional anda sekarang karena di masa depan anda mungkin tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi orang berpengaruh dan terkenal di bidangnya. Saya sendiri berpikir untuk nantinya terus menjalin hubungan dengan professor dan kolega internasional yang saya kenal, saya ingin menunjukkan ke mereka bahwa Indonesia juga bisa melakukan sesuatu untuk dunia. Hal ini tentunya juga sudah dilakukan oleh beberapa ilmuwan Indonesia yang kembali ke dalam negeri, professor Sri Widiyantoro dari Fakultas Teknologi Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung memiliki 3005 sitasi (sumber: google scholar) dan hingga saat artikel ini ditulis beliau aktif menjadi anggota dari berbagai organisasi ilmiah internasional. Jika saya menyebutkan satu persatu jumlahnya akan banyak sekali, tetapi contoh-contoh barusan setidaknya bisa memberikan bayangan mengenai orang-orang Indonesia seperti apa yang menjadi motor pergerakan dunia tetapi juga memberikan manfaat ke tanah airnya sendiri.  Mereka yang masih menuntut ilmu di perguruan tinggi sekarang tentunya merupakan potensi yang lebih besar lagi mengingat jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri terus bertambah dari waktu ke waktu.

Akhir kata, saya pikir kita harus mulai menggeser paradigma bahwa membangun Indonesia harus dilakukan di dalam negeri. Kita perlu memandang mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri sebagai agen Indonesia untuk membangun dunia dan juga Indonesia di saat yang bersamaan. Indonesia memiliki jalinan diaspora yang besar jika dibandingkan dengan negara lainnya, mahasiswanya pun juga memiliki jaringan besar bernama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia. Menurut saya adanya jaringan ini merupakan suatu langkah besar bagi Indonesia untuk memantapkan jejak kakinya di kancah persaingan internasional. Dimanapun anda berada sekarang, di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Jepang, Korea, Tunisia, ataupun negara-negara lainnya, anda memiliki peran besar untuk turut membangun dunia. Dunia menanti anda, dia meminta anda untuk turut membangun dirinya ke arah yang lebih baik.

 Pramudita Satria Palar

Mahasiswa doktoral bidang Aeronautika dan Astronautika

Universitas Tokyo, Jepang 

16 Februari 2014

sumber; klik disni

Kata Aman Masih Elitis

BERDASARKAN data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2012 jumlah pengangguran di Aceh mencapai 9,10%, namun pada 2013 justru naik, menjadi 10,30%. Begitu juga dengan tingkat kemiskinan. Pada 2012, tingkat kemiskinan mencapai 19,46%, tetapi pada 2013 hanya turun sekira 2%, menjadi 17,72%. Memang pada Februari 2014 jumlah pengangguran mencapai 147 ribu orang, lebih kecil 30.000 orang dibandingkan keadaan Februari 2013 yang mencapai 177 ribu orang. Namun, penurunannya tetap belum sebanding dengan banyaknya uang yang dibelanjakan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Rustam Effendi M.Econ mengatakan, setidaknya ada dua fungsi APBA, yakni fungsi alokasi dan fungsi distribusi. “Anggaran pembangunan harus didistribusikan secara adil, sehingga semua pihak mendapatkan kesempatan dan manfaat yang sama,” kata ekonom senior ini.

Rustam menyebut beberapa strategi untuk menciptakan lapangan kerja, antara lain mendirikan industri pengolahan. Sayangnya, Pemerintah Aceh belum tertarik dengan sektor ini. “Kalau kita lihat data BPS, industri pengolahan tumbuh -5,47% di Semester I tahun ini. Padahal, industri ini sangat potensial menyerap tenaga kerja,” kata alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia ini.

Rustam yang pernah 12 tahun menjadi staf ahli  di Bappeda Aceh  ini menyebutkan, sektor yang juga harus mendapatkan perhatian pemerintah Aceh adalah pertanian. Soalnya, kata Rustam yang mengutip data BPS, 47 persen warga Aceh bekerja di sektor pertanian. Kontribusi sektor pertanian untuk GDP pun mencapai 30 persen.

Masalahnya, kata Rustam, pemerintah Aceh tidak menjadikan data-data BPS semacam ini sebagai tolok ukur dalam membuat kebijakan. “Selama ini banyak anggaran yang dialokasikan, tidak menjawab persoalan riil masyarakat. Karena proyek-proyek itu dibuat berdasarkan proposal yang masuk, bukan berdasarkan kebutuhan di lapangan,” katanya.

Yang tumbuh sekarang justru lapangan kerja non-basis, seperti bangunan. Akan  tetapi, untuk sektor ini pun lebih banyak menyerap tenaga kerja dari luar Aceh. “Mulai atap, keramik, hingga besi untuk pondasi di dalam tanah berasal dari Medan. Yang kita punya cuma kerikil, pasir, batu-bata. Yang lain semua dari luar Aceh, bahkan sebagian tenaga kerjanya, sehingga yang sudah masuk pun mengalir ke luar lagi,” katanya.

Kalau kita melihat data perusahaan-perusahaan yang menambah investasinya pada semster pertama tahun 2014, kebanyakan juga bergerak di sektor pertambangan dan energi. Investasi di sektor tambang memang akan meningkatkan GDP, tapi takkan signifikan mengurangi pengangguran. Soalnya, pekerja di sektor ini orang-orang terlatih, yang punya keterampilan khusus.  Paling-paling menambah pendapatan daerah lewat mekanisme pajak. Bahkan berdasarkan data yang dimiliki BKPMD/Bainprom Aceh, tambahan investasi yang katanya sekira Rp 1,5 triliun di Semester I 2014, ternyata cuma menyerap ratusan tenaga kerja baru.

Lalu, bagaimana dengan upaya pemerintah Aceh yang berusaha menarik investor selama ini? “Silakan saja berpromosi, namun tidak cukup dengan hal ini, persoalan riil di lapangan harus dipecahkan,” kata dia.

Persoalan riil di lapangan, menurut Rustam Effendi, adalah banyaknya pengangguran. Sepanjang pemuda-pemuda tanggung di desa-desa belum dapat pekerjaan, sepanjang itulah Aceh belum menjadi negeri yang nyaman berinvestasi.

“Sekarang saya mau tanya, kalau Anda punya uang Rp 500 juta misalnya, mau nggak mendirikan pabrik pengolahan kopi, pabrik pengolahan padi, atau pabrik lain, di desa A misalnya. Pasti Anda akan mikir-mikir, kan? Anda pasti khawatir akan diperas, diminta sumbangan ini-itu. Itulah problema di lapangan,” kata dia.

Perusahaan skala besar pun, yang mungkin mampu menyediakan centeng untuk pengamanan, masih akan berpikir puluhan kali. “Kata aman masih pada tataran elite, sedangkan persepsi orang luar tidak demikian. Persoalan riil belum dipecahkan,” kata dia.

Rustam berharap Pemerintah Aceh tak perlu berpikir muluk-muluk, misal membangun jalan tol, atau mendatangkan investor hebat misalnya dari perusahaan Samsung, atau dari Qatar dengan investasi triliunan rupiah. Dia berharap, uang yang ada dulu digunakan secara benar dan tepat, baik alokasi maupun distribusi.(*)
Sumber : serambinews.comhttp://aceh.tribunnews.com/2014/05/30/kata-aman-masih-elitis

Senin, 26 Mei 2014

Belajar Sistem Informasi Gampong, Datanglah ke Abdya

Ketika asik membaca koran Serambi seperti biasanya, ada hal yang mampu membuat saya tersenyum bangga, ya di sudut salah satu halamannya, muncul kolom "Pariwara" dengan judul "Belajar Sistem Informasi Gampong, Datanglah ke Abdya", tokoh yang berada disitu adalah Pak WERI, S.E, MA, Dosen saya di EKP Unsyiah yang kini menjabat sebagiai Kepala Bappeda Aceh Barat Daya (ABDYA). Ternyata Pemkab Abdya tidak salah mengangkat beliau sebagai kepala Bappeda, buktinya dengan di aplikasikannnya program SAIG (Sistem Adminitrasi dan Informasi Gampong) yang berasal dari studi banding beliau ke Nusa Tenggara Barat..Terbersit kagum akan pengaplikasian hasil dari studi banding tersebut ke daerah Abdya.. Semoga sehat selalu dan selalu dalm lindungan Allah SWT  Pak, dan terus Berkarya untuk membangun daerah....

(Aceh.Tribunnews.com)..TANPA data, tak ada perencanaan pembangunan. Aceh bahkan tidak akan pernah mencapai sasaran pembangunan apabila database (pangkalan data)-nya tidak ada. “Tanpa database, percuma saja dirancang semua program ini-itu karena kita tak tahu dari mana memulainya dan tak tahu kapan harus mengakhirinya.”

Itulah yang menjadi stressing pembicaraan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Aceh Barat Daya (Bappeda Abdya), Weri SE MA saat tampil dalam Seminar Inovasi Pelayanan Publik di Aceh yang digelar Logica 2 Australian Aid (AusAid) di Hotel Hermes Banda Aceh, Rabu pekan lalu.

Dari sekian banyak materi presentasi yang merupakan success story instansi/lembaga yang selama ini didampingi dan difasilitasi Logica 2 di Aceh, salah satunya adalah tentang Sistem Administrasi dan Informasi Gampong (SAIG). Materi ini menjadi andalan Pemkab Abdya karena Abdya sudah hampir setahun menerapkannya. Itu sebab, Tim Logica 2 Banda Aceh mengundang Kepala Bappeda Abdya, Weri MA untuk mempresentasikannya di depan 300 peserta yang menghadiri seminar tersebut.

Dengan gayanya yang komunikatif dan kocak, Weri berhasil memperkenalkan SAIG ala Abdya serta berbagai keunggulan dan manfaatnya. Tak lupa pula ia beberkan apa saja tantangannya.

Adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mengamanatkan bahwa hak warga desa dijamin untuk mendapatkan informasi tentang pembangunan desa. Pada Pasal 86 UU itu malah dinyatakan pemerintah wajib mengembangkan sistem informasi desa.

Ketika Pemkab Abdya ingin mengembangkan sistem informasi desa, di Aceh tahun lalu belum ada kabupaten yang bisa dijadikan tempat berguru untuk mendalami sistem administrasi dan informasi desa (SAID). Pemkab Abdya yang sejak awal antusias melengkapi SAID-nya, mendapat kabar dari Tim Logica 2 Banda Aceh bahwa di Desa Sawe, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), sudah diterapkan SAID yang hasilnya memuaskan.

Akhirnya, tim yang ditunjuk Bupati Abdya, Ir Jufri Hasanuddin bertolak ke Desa Sawe NTB pada 24-25 Juli 2013. Di sinilah Weri dkk mendalami segala sesuatunya tentang SAID, program yang didukung oleh ACCESS (The Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme).

Konsep SAID itu pun diadopsi dan dimutatis mutandis untuk diterapkan di Abdya. “Tapi berhubung di Aceh, termasuk di Abdya, sudah banyak SAID, maka istilahnya kita ganti menjadi SAIG,” kata Weri berseloroh. Candaan Weri itu dia maksudkan untuk menyatakan bahwa SAID (Said) yang merupakan gelar bangsawan Aceh keturunan Arab, memang tergolong banyak di Aceh. Maka ia ganti menjadi SAIG, karena istilah desa di Aceh sudah dibakukan menjadi gampong, sebagaimana diatur di dalam Qanun Aceh tentang Gampong. Jadi, kalau di NTB namanya SAID, di Abdya justru SAIG.

Nah, dalam SAIG ala Abdya ini, kata Weri, 63 indikator sosial ekonomi ada di sana. Dengan demikian, tergambar lengkap siapa yang miskin dan siapa yang kaya di setiap desa. Jika suatu waktu ada bantuan untuk warga miskin di sebuah desa di Abdya yang sudah diinput data SAIG-nya, maka bantuan itu tidak akan salah sasaran. Soalnya, Abdya kini sudah punya peta sosial kemiskinan. Berkat SAIG langsung ketahuan siapa orang miskin yang tidak mendapat bantuan yang seharusnya ia terima dan siapa pula orang kaya yang menerima bantuan untuk orang miskin.

Data SAIG yang online itu dimungkinkan terhimpun, karena diawali dengan kegiatan pemetaan apresiatif gampong (PAG), dilanjutkan dengan pertemuan apresiatif kabupaten (PAK). Untuk itu, Pemkab Abdya menyiapkan dan melatih sejumlah kader pemetaan apresiatif gampong (KPAG) dan fasilitator pemetaan apresiatif gampong (FPAG), serta fasilitator teknis pemetaan (FTP). Pelatihan para kader dan fasilitator ini dibantu AusAid melalui LOGICA 2 (Local Governance Innovations for Communities in Aceh) Fase 2.

“Pendeknya, Logica 2 telah memberi kontribusi sangat besar dalam SAIG ini. Sedari awal program percontohan ini pun didukung oleh Bappeda Aceh,” kata Weri yang juga dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah.

Namun diakuinya, belum semua kecamatan di Abdya sudah ditata PAG dan SAIG-nya. Abdya akan mereplikasi PAG dan SAIG untuk 78 desa lagi yang tersebar di lima kecamatan lainnya.

Jadi, kalau mau belajar sistem administrasi dan informasi gampong, tak perlu lagi di NTB atau Pulau Jawa, cukup datang saja ke Abdya. “Dengan senang hati kami siap share pengalaman,” kata Weri yang berdarah Minang dan Alas.

“Hanya dua menit, sebuah surat pindah di desa bisa diproses dengan cekatan oleh kader yang hanya berpendidikan sekolah menengah,” kata Weri berpromosi.

Saat ini Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bireuen, dan Pidie Jaya telah menyertakan kader gampong mandirinya untuk dilatih di Abdya karena tertarik untuk mereplikasi PAG dan SAIG. Itu menandakan, Abdya bakal menjadi guru yang baik di bidang PAG dan SAIG. Bravo Abdya!

Apa Itu SAIG?
SAIG adalah Sistem Administrasi dan Informasi Gampong. Di Aceh, program ini pertama kali diterapkan di Aceh Barat Daya (Abdya). SAIG dikembangkan dengan memanfaatkan database penduduk (by name by address).

SAIG terdiri atas dua bagian, yaitu sistem administrasi (menyimpan informasi pribadi penduduk, dipergunakan untuk keperluan layanan administrasi, dan hanya bisa diakses oleh aparat desa yang diberi wewenang) serta sistem informasi (berisi informasi umum desa online melalui website/portal).

Database dan visualisasi melalui peta interaktif sudah pula diterapkan di sebagian Abdya. Ini memungkinkan visualisasi informasi dan data, sehingga mempermudah pemahaman dan analisis fakta database. Dengan adanya peta interaktif itu, apa lantai dan cat atap rumah setiap penduduk di sebuah desa pun terdata.

Selain itu visualisasi akan memicu diskusi terkait topik spesifik. Misalnya, siapa dan di mana orang miskin, siapa penerima program, perubahan dalam status sebagai orang miskin, dan sebagainya. Terkahir, targetting berbagai program dapat ditingkatkan akurasi sasarannya berkat SAIG.

Dalam sistem administrasi desa juga terdapat data statistik seperti grafik jenis pekerjaan warga. “Banyak hal yang dapat dilihat dari peta ini. Untuk melihat jenis kelamin cukup mengetik di sistem, maka keluarlah jumlah jenis kelamin yang ada di sebuah desa. Begitu juga ketika kita ingin melihat data jumlah KK perempuan, cukup hanya diketik dan keluarlah jumlah kepala keluarga perempuan,” kata Nashrun Marzuki, Staf Khusus Bupati Abdya Bidang Politik dan Public Relation.

Menjaring data
Ada beberapa proses dalam mendapatkan data yang valid. Pertama, kader pemberdayaan masyarakat (KPM) menggali aset dan potensi desa. Saat potensi dan aset sudah terdata, maka warga kembali dikumpulkan untuk menyepakati. Tidak hanya sampai di situ, KPM, keuchik, Sekdes, dan kepada dusun mendata dari rumah ke rumah guna mencari informasi akurat dari warga. Setelah data diperoleh, kembali dilakukan pleno dengan warga. KPM memperoleh data klasifikasi tingkat kesejahteraan keluarga. Berdasarkan kesepakatan saat penggalian indikator, masyarakat menyepakati tiga klasifikasi, yaitu: miskin, sedang, dan kaya yang kemudian diberi warna merah, kuning, dan hijau. (*)

Sumber : klik disni

Senin, 05 Mei 2014

Cara Mengecilkan Ukuran Video dengan VirtualDub Tanpa Mengurangi Kualitasnya

Oleh : Jul Fahmi Salim

Asslamualaikum Wr Wb....

Baiklah, kali ini saya akan berbagi cara untuk mengecilkan ukuran
video tanpa mengurangi kualitasnya

saya menggunakan virtualdub

berikut langkah-langkahnya :
1. buka virtualdub
2. klik menu file, open file
3. pilih video yang akan kita kecilkan ukurannya, saya memilih video
   regresi linear berganda yang memiliki ukuran sekitar 63 mb




4. pilih menu video - compression - xvid MPEG-4 codec - ok











5. pilih menu file - save as AVI - pilih tempat penyimpan dan beri nama baru, kemudian
   klik ok





6. prosess sedang berjalan, silahkan tunggu hngga selesai


7. ok proses sudah selesai, sekarang kita lihat hasilnya.....

Perbandingan Ukuran video sebelum dan sesudah di convert dengan VirtualDub





dari 63 mb, diperkecil hingga ukuran sekitar 6,17 mb....

lihat videonya disini

terimakasih sudah berkunjung, selamat mencoba sendiri :-)

Rabu, 09 April 2014

Uji Asumsi Klasik : Autokorelasi dengan SPSS

Oleh : Jul Fahmi Salim

Asslamualaikum..Wr.Wb

Sebelumnya saya sudah share trio uji asumsi klasik (Multikolinearitas, heteroskedastisitas dan normalitas), sekarang giliran saudarnya yag ke empat, yaitu Autokorelasi.....

buka program spss
1. input data ke dalam spss


2. klik analyze => regression => linear



3. masukan IHSG ke dependent variable
   masukan kurs, inflasi dan BI Rate ke independent variabel

4. klik menu statistic




5. centang kotak "durbin - watson"


6. klik continue




7. klik ok



8. berikut merupakan hasil output regressinya



   abaikan hasil yang lainnya, fokus kepada tabel "model Summary"
   dapat dilihat bahwa nilai DW dari model tersebut adalah sebesar
   0,437. dalam model ini terdapat masalah autokorelasi karena nilainya jauh di bawah
   nilai tabel dw yaitu dL = 1,5915 & dU = 1,7275.

9. Bandingkan dengan nilai tabel D-W


 
cara mencari tabel D-W

N = 91
k = 3

lihat tabel DW

dL = 1,5915
dU = 1,7275

Contoh:
jika n = 40
     k = 4
dilihat dari rabel D-W, nilainya adalah dL = 1,285 & dU = 1,721,
- jika nilai d hitung kurang dari 1,285 terdapat bukti dari serial koralasi
  first order yang positif
- jika nilai d hitung lebih besar dari 1,721, tidak terdapat bukti dari korelasi
  first order yang positif.
- akan tetapi, jika d terletak antara batas terendah dan batas teratas, terdapat
  hubungan yang belum bisa
  dijelaskan dengan memperhatikan ada atau tidaknya korelasi serial first order yang positif

sumber contoh : Buku Dasar-dasar Ekonometrika,2010 (Damodar N. Gujarati dan Dawn C. Porter)
                         halaman L-115, edisi 5, Salemba Empat

Download tabel D-W disini

Untuk lihat videonya klik disini


Semoga dapat membantu, silahkan berikan masukanya untuk memperbaiki postingan ini.. :-)

Selasa, 08 April 2014

Belajar "Syariat" dari Negeri Jepang (Repost)

Sebuah artikel yang terbit tahun lalu, tapii sangat sangat menarik untuk dibaca, dan dijadikan sebagai pelajaran bagi diri kita sendiri, artikel tersebut mengenai bagaimana "Syariat" di Negeri sakura (Jepang) dalam berperilaku terhadap orang lain, isi artikel tersebut berdasarkan pengalaman Dosen saya Pak Abd. Jamal yang terbit di salah satu media online The Globe Journal.... Berikut isi artikel beliau....

Beberapa waktu lalu saya bersama sejumlah se-Indonesia mendapat kesempatan belajar (training) ke Jepang untuk mempelajari kebijakan publik dan perencanaan dalam Program Human Resources Development Planning (PHRDP) yang difasilitasi Bappenas. Dalam kesempatan belajar tersebut, selain belajar di kelas, kami juga diperkenalkan dengan lingkungan yang mereka hadapi dan lakukan untuk pembangunan.
Perjalanan lapangan dan in class study yang kami ikuti mulai dari Tokyo, Kyoto hingga ke Beppu - Oita. Selama perjalanan studi, ada beberapa hal yang menjadi perhatian dan saya jadikan sebagai catatan kecil tentang Jepang. Paling tidak ada delapan belas poin yang menjadi catatan penting dan sering sulit bagi bangsa kita untuk melakukannya walau sangat sederhana. Sebenarnya catatan itu hampir terlupakan bagi saya, namun karena adanya polemik tentang pelarangan wanita mengangkang di Kota Lhokseumawe, maka saya teringat untuk membukanya kembali.

Dalam pemahaman saya, syariat Islam adalah aturan untuk menegakkan amar makruf dan nahi munkar. Menegakkan aqidah. Artinya, sebagai ummat Islam kita harus menjalankan ketentuan yang digariskan oleh agama Islam. Ketentuan yang harus dijalankan bukan hanya bagaimana kita berpakaian (pakai rok atau celana?) atau menutup aurat, tapi juga bagaimana kita berdagang, memimpin negeri hingga kepada bagaimana kita berjalan di depan orang tua dan berbicara dengan orang tua (akhlak dan etika). Dengan perkataan lain, syariat Islam yang harus dijalankan sebenarnya sangat luas dan komprehensif (kaffah istilah orang-orang yang sering berceramah), bukan hanya sekedar pakai rok atau duduk ngangkang.

Kembali ke perjalanan di Jepang, dengan sekilas cuplikan cerita. Suatu hari, kami dibawa ke suatu tempat di Kyoto. Tempat itu adalah tempat belajar, semacam tempat pendidikan agama di negeri kita. Kami ingin diberikan pengetahuan tentang perencanaan pembangunan di Provinsi Kyoto. Ketika mau masuk ke gedung tempat belajar, kami diharuskan membuka sepatu dan menggantikan dengan sandal yang telah mereka sediakan di locker (rak yang terkunci) masing-masing.

Ketika sedang belajar, saya ingin ke kamar kecil (toilet) karena terlalu banyak minum, dan saya tanyakan kepada salah seorang (mungkin guru) yang ada di luar ruang pertemuan; di mana toilet dan di mana tempat buang sampah, karena saya harus membuang kaleng minuman. Saya segan untuk membuangnya sembarangan, karena tempatnya sangat bersih, dan bukan budaya orang Jepang untuk melempat sampah sembarangan.

Apa jawaban yang saya peroleh? Orang muda tersebut menjawab, tempat sampah ada di bawah (karena kami belajar di lantai dua), mari saya yang buangkan dan Anda tidak perlu ke sana. Untuk pertanyaan yang satu lagi, dia meminta saya untuk mengikutinya sampai ke depan pintu toilet dan mempersilahkan saya masuk dengan sangat santun. Pertanyaan selanjutnya adalah, adakah orang-orang kita, kalaupun bukan bangsa yang melakukan seperti itu pada tamunya? Bukankah kita sering melihat orang menunjuk dan berkata, belok ke kiri, belok ke kanan dan tanyakan pada orang di sana?

Belum selesai cerita sampai di sana. Saya melanjutkan untuk masuk ke toilet. Ketika saya masuk melewati pintu pertama, terlihat ada sejumlah sandal tersusun rapi yang dulu pernah dikenal sandal Lily di negeri kita untuk dipergunakan masuk ke dalam kamar kecil tempat buang hajat. Namun tempatnya sangat bersih. Bandingkan dengan tempat ibadah di negeri ini. Sandal yang entah dari mana datangnya, dibawa hingga ke anak tangga mesjid. Kamar kecil yang ada juga kadangkala membuat kita tidak nyaman untuk masuk ke dalamnya.

Sepenggal cerita lagi, saya pernah tersesat sehabis shalat Ashar di suatu gedung pertemuan di Oita, karena saya shalat yang terakhir di lantai yang jauh dari tempat kegiatan yang kami ikuti. Setelah shalat, saya lupa di lantai berapa kegiatan belajar kami. Akan tetapi, ketika saya sedang bingung di lift, kebetulan ada seorang gadis Jepang yang dapat berbahasa Inggris masuk, saya menjelaskan kondisi saya. Setelah mendengar cerita saya, wanita itu mengantar saya ke lantai sepuluh, dan menjelaskan tentang hal yang saya alami kepada petugas yang ada di sana.

Selanjutnya, wanita yang saya temui permisi untuk melanjutkan perjalanannya turun ke lantai tujuh. Kemudian saya di antar oleh wanita yang kedua ke tempat acara yang saya ikuti hingga ke dalam ruangan acara untuk membuktikan kebenaran kegiatan. Saya hanya bisa berkata “terima kasih” dalam bahasa Jepang yang saya tahu sepenggal. Pertanyaan kembali adalah adakah orang-orang kita mau mengantarkan orang sampai ke tempat tujuan? Sulit untuk menjawabnya.

Dari dua penggal kisah yang saya alami, apakah perlakuan orang-orang Jepang tersebut sebagai implementasi syariat Islam? Jelas tidak, karena mereka bukan beragama Islam. Namun, mengapa mereka berperilaku seperti implementasi syariat Islam? Mungkin ini yang tidak bisa dijawab oleh bangsa kita. Tidak lain, itulah etika yang berlaku bagi mereka, begitulah budaya mereka. Bagaimana dengan kita? Kita kadangkala suka memperdebatkan hal-hal yang kurang perlu (dhaif), kita juga sering membuat peraturan-peraturan yang tidak perlu atau tidak populer (kontroversial) karena ingin populer. Padahal masih banyak hal lain yang harus diurus untuk kepentingan pembangunan bangsa agar menjadi maju.

Penegakan Syariat
Sejak tahun 2001 pemerintah kita (Aceh) telah berupaya untuk menegakkan syariat (Islam), dalam artian menegakkan amar makruf dan nahi munkar. Kita selalu mendengar pelaksanaan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh), Pengertian menyeluruh harusnya pelaksanaan pada berbagai aspek, yaitu aspek ekonomi, sosial, ideologi dan politik serta hukum. Akan tetapi, yang terjadi? Dalam banyak pengalaman, perwujudan penegakan syariat masih sangat parsial. Hanya menyentuh aspek-aspek kecil dari sebuah aspek. Bukankah bila kita berbicara syariat Islam yang kaffah, berarti berbicara sebuah suprasistem di daerah ini?

Saya tidak ingin menggugat apapun kebijakan yang dibuat oleh penguasa. Dari berbagai pengalaman yang ada, telah dibuktikan, bahwa kebijakan yang coba-coba dan kebijakan yang hanya untuk mencari popularitas, tidak bertahan lama. Dia menghilang dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu, atau ketika ada pihak yang di dalam kekuasaan berhadapan dengan persoalan itu.

Penegakan syariat Islam, seharusnya dimulai dari hal-hal yang sederhana serta tidak menimbulkan pro dan kontra. Sebagai contoh, adakah pemotong ayam membaca bismillah saat akan memotongnya? Adakah kamar kecil di mesjid memenuhi syarat suci? Adakah penjual melakukan timbangan yang benar dan jujur? Kalau hal-hal seperti itu telah berjalan dengan benar, baru dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi, seperti mencambuk pedagang yang tidak jujur dalam timbangan. Tidak jujur dalam timbangan adalah identik dengan mencuri atau korupsi.

Sepertinya, untuk menegakkan syariat Islam di negeri ini tidak perlu muluk-muluk dan untuk kepentingan popularitas sesaat. Kalau pemerintah daerah serius ingin menegakkan syariat Islam, silahkan memulai pada semua aspek yang dengan unsur-unsur terpilih tanpa diskriminasi ras, seks ataupun suku.

***

Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, dapat dihubungi di abdjml@aim.com

sumber : klik disini


kunjungi website beliau disini http://abdjamal1966.wordpress.com/ , anda akan menemukan berbagai artikel menarik yang beliau tulis..

Terimakasih sudah Berkunjung... :-)

Kamis, 03 April 2014

Transformasi data Ke Dalam Bentuk Log dan Ln dengan SPSS 20

Oleh : Jul Fahmi Salim

Asslamkum Wr.Wb

Sebelumnya saya sudah share mengenai Transformasi data ke dalam bentuk Log dan Ln menggunakan microsoft Excel, kali ini saya share mengenai Transformasi data Ke Dalam Bentuk Log dan Ln dengan SPSS 20...
cara mentransformasi data ke dalam bentuk Log dan Ln dengan menggunakan SPSS 20
1. Buka spss
2. input data
3. klik menu transform => compute Variable





4. Setelah keluar jendela compute variable, isi seperti berikut



5. Pada Target Variabel, isi dengan nama yang akan muncul di data editor, saya membuat "Log_IHSG"
6. Kemudian pada kotak "Function Group" klik "All" dan pada kotak "Fuction and Special Variables", double klik pada "Log10"


7. Kemudian double klik IHSG




8. Maka, pada Numeric Expression akan menjadi LG10(IHSG), yang artinya, Variabel IHSG akan diubah      ke dalam bentuk logaritma. kemudian klik Ok

9. Coba di cek pada data editor, maka akan bertambah variabel Log_IHSG  berikut



untuk variabel lainnya seperti Kurs, inflasi dan BI rate, lakukan hal yang sama
untuk kurs => Pada Target Variabel, isi  dengan "Log_kurs"
                      pada numeric expression "LG10(kurs)"

untuk Inflasi => Pada Target Variabel, isi  dengan "Log_Inflasi"
                      pada numeric expression "LG10(Inflasi)"

untuk BIR => Pada Target Variabel, isi  dengan "Log_BIR"
                      pada numeric expression "LG10(BI_Rate)"


Sedangkan untuk transformasi dalam bentuk Ln, caranya hampir sama, hanya berbeda pada "Function and special variables". jika untuk Log kita menggunakan "LG10", maka untuk Ln kita menggunakan Function and special variables "Ln"



- Pada Target Variabel, isi dengan nama yang akan muncul di data editor, saya membuat "Ln_IHSG"
- Kemudian pada kotak "Function Group" klik "All" dan pada kotak "Fuction and Special Variables", double    klik pada "Ln"
- double klik pada variabel IHSG (bisa juga, klik sekali dan klik tanda panah yang terdapat di samping IHSG tersebut (yang tandai lingkaran merah)), maka hasilnya seperti gambar dibawah ini.





- Hasilnya adalah bertambahnya variabel lagi di samping kolom Log_IHSG, yaitu Ln_IHSG,seperti gambar      berikut: 




untuk kurs => Pada Target Variabel, isi  dengan "Ln_kurs"
                      pada numeric expression "Ln(kurs)"

untuk Inflasi => Pada Target Variabel, isi  dengan "Ln_Inflasi"
                      pada numeric expression "Ln(Inflasi)"

untuk BIR => Pada Target Variabel, isi  dengan "Ln_BIR"
                      pada numeric expression "Ln(BI_Rate)"


Untuk Melihat videonya, silahkan klik disini

Silahkan Berikan masukan untuk menjadikan postingan ini lebih baik...
Terimakasih sudah berkunjung :-)

Cara Mendapatkan EViews 11 Demo Version

 Oleh: Jul Fahmi Salim Assalmkum wrwb.. Selamat Pagi, Siang, Malam teman-teman sekalian, jika dipostingan sebelumnya sydah ada cara mendapat...