Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Agustus 2017

Regresi Data Panel : Uji Akar Unit (Unit root test)

Oleh : Jul Fahmi Salim

Selamat Pagi, Siang,Malam


Jika sebelumnya saya share cara uji akar unit pada data time series (runtun waktu), nah sekarang kita berbagi mengenai uji akar unit di data panel..
Uji akar Unit dalam data panel??? iya, ternyata bukan hanya time series saja yang menggunakan uji stasioneritas data, pada data panel pun dilakukan uji stasioneritas...

"Penelitian yang dilakukan oleh Levin dan Lin (1992; 1993), Breitung dan Meyer (1994), Quah (1994), Maddala dan Wu (1999), Hadri (2000) dan Im et al. (2003) menyarankan penggunaan uji akar unit pada model data panel. Baru-baru ini, tes akar unit yang paling umum digunakan dalam penelitian yang melakukan uji coba unit data panel secara sektoral adalah Levin-Lin dan Im Pesaran Shin Test.  (http://maxwellsci.com/print/crjet/v2-1-7.pdf)"

Berikut merupakan langkah-langkah pengujiannnya :
  • Buka Eviews (Jangan buka yang lain, apalagi Shazam dan SPSS, langkah-langkah ini tidak akan bekerja. heheheh )
  • Input data kedalam excel
  • Input data panel ke dalam excel (klik disini)
  • Hasilnya akan seperti berikut


  • Untuk melakukan uji akar unit, Double click pada variabel yang akan diuji akar unit (misal variabel y)



  • klik view - unit root test

  • Terdapat beberapa pilihan yaitu :

  1. Summary => Rangkuman hasil unit root semua metode akan keluar (Saya sarankan memakai pilihan "Summary" saja agar semua hasil dari metode akan dikeluarkan)
  2. Common root - levin, lin, chu,
  3. Common root - Breitung
  4. Invidual root - Im, Pesaran, Shim
  5. Invidual root - Fisher- ADF
  6. Invidual root - Fisher - PP

  • Pada point lag length pilih => automatic selection => kemudian klik ok






  • Berikut hasil uji akar unit variabel Y




Dari hasil uji akar unit tersebut (dengan berbagai kriteria baik LLC, IPS, ADF mapun PP) data diketahui bahwa variabel Y stasioner pada tingkat Level .

Untuk menguji variabel lainnya silahkan gunakan langkah-langkah uji akar unit pada variabel Y tersebut.

Silahkan berikan masukannya untuk memperbaiki tulisan ini..

Untuk Melihat Videonya 
Klik disini (Comingsoooon)




"Terima Kasih buat yg udah mengizinkan sebagian datanya dipake buat postingan kali ini"



Referensi :

Jamal, Abd, Muhammad, Said, Masbar, Raja dan Aliasuddin. (2015).  Did Indonesian Political Economic Reform Reduce Economic Growth Disparities Among Region?. DLSU Business & Economics Review. De La Sale University. Philiphine.

U. Doan, A. Volkan and G. Burcu. (2010). The Role of the Economic Size of a Country in Attracting Foreign Direct Investments: A Panel Data Analysis for OECD Countries (1980-2006). Current Research Journal of Economic Theory 2(1): 1-7, 2010. (Full Text =>> http://maxwellsci.com/print/crjet/v2-1-7.pdf )

Terima Kasih, semoga bermanfaat..

Senin, 15 Mei 2017

Regresi Model Autoregressive Distributed Lag (ARDL) Dengan Menggunakan EViews 9

Oleh : Mona Zahara

Assalamualaikum wr wb..

Baik lah, kali ini kita mencoba untuk belajar mengenai model regresi ARDL.

Apa itu ARDL ??
ARDL (Autoregressive Distributed Lag) adalah model dinamis dalam ekonometrika.
Jika dalam model OLS biasa, kita hanya bisa melihat jangka panjang, nah dengan menggunakan model ARDL kita dapat melihat pengaruh variabel Y dan X dari waktu ke waktu termasuk pengaruh varibel Y dari masa lampau terhadap nilai Y masa sekarang.

Sesungguhnya model ARDL merupakan gabungan antara model AR (AutoRegressive) dan DL (Distributed Lag)

Model AR adalah model yag menggunakan satu atau lebih data masa lampau dari varabel dependen diantara variabel penjelas (Gujarati & Porter, hal : 269 2013)
Model DL adalah model regresi melibatkan data pada waktu sekarang dan waktu masa lampau (lagged) dari variabel penjelas (Gujarati & Porter, hal : 269, 2013)

Ada beberapa keunggulan model ARDL :

  1. ARDL tidak mementingkan tingkat Stasioner data (jika pada model VAR dan VECM mengharuskan stasioner pada ordo yang sama) meski begitu ARDL tidak bisa digunakan jika data stasioner dalam bentuk 2nd diff / I(2).
  2. ARDL tidak mementingkan bahwa variabel terkontegreasi pada ordo yang sama (Namun harus pada level dan First Difference, tidak boleh berada pada tingkat second diff), 
  3. ARDL tidak mempermasalahkan jumlah sampel / observasi yang sedikit (Prof Inuwa)

Sebenarnya dalam melakukan regresi model ARDL ini, sepengetahuan saya ada 2 jenis, yaitu :

  • Mengikut Cara Sayed Hossain
Sayed merupakan salah satu dosen ekonometrika, dimana ia memiliki web sendiri yang banyak memposting berbagai macam model dengan softwere mulai dari shazam, EViews, SPSS, Stata, R dll


  • Mengikuti Cara Dave Giles
Dave merupakan Profesor di Universitas Victoria Canada bidang ekonometrik, beliau aktif sebagai Kontributor di forum eviews.com. Selain aktif di forum eviews, beliau juga memeiliki web yang berisi berbagai materi ekeonmetrika dan aplikasi menggunakan eviews.

Ada beberapa kelebihan dan kekurangna bagi saya dengan mengikuti cara Sayeed Hossain
Pemilihan lag ARDL dilakukan secara manual (Karena Menggunakan Eviews 8), ini dapat dilihat dari video tutorialnya bahwa untuk menentukan lag berapa yang digunakan ia melakukannya dengan cara meregresi setiap lag, dan melihat salah satu kriteria yang digunakan (AIC, SC, HQ), ia memilih yang terkecil nilai kriterianya. Misalnya menggunakan kriteria AIC, menggunakan lag 7 hasilnya AIC 13,52, Lag 6 = 13,58 , lag 5= 12,76, maka ia akan menggunakan ARDL dengan Lag 2.. Sebagai catatan, melakukan pemilihan lag, dilakukan dengan menguji lag tertinggi, kemudian jumlah semakin kecil. 
(-) Tentu saja dengan menggunakan ini waktu yang digunakan kurang efisien karena melakukan              berulang-ulang. Menurut saya, alasan ia melakukan itu karena pada Eviews 8, belum ada pilihan         model ARDL, sehingga harus melakukan secara manual.
(+) Kita bisa melihat cusum dan cusumq test untuk melihat stabilitas model pada View => Stability           diagnostic => recrusive estimate (ols only)
    Menurut saya, kenapa Sayeed Hossain bisa melihat cusum dan cusumq tes ? karena pilihan metode pada eviews menggunakan "least square"


  • Mengikuti cara yang dilakukan oleh Dave Giles
1. Pemilihan lag dilakukan otomatis (karena sudah menggunakan Eviews 9) (meskipun pada pilihan kotak legacy nya terdapat pilihan (o) automatic dan (o) Fixed) misalnya lag maks 3.
(-) Karena menggunakan penentuan Lag otomatis, kita tidak bisa melihat pengaruh dari urutan lag            seperti yang ada pada cara sayed hossain, jadi misalnya terpilih (2,3,1,) artinya 2 lag (var Y), 3lag      (var X1), 1 lag(var X2) kita hanya bisa melihat pengaruh Y(-1), Y (-2), X1(-1) X1(-2) X1(-3), X2      (-1) terhadap Y. kita tidak dapat melihat pengaruh Y(-3), X2(-2) X2(-3).
     Terlepas dari hal tersebut, pemilihan terbaik sudah dilakukan oleh EViews sendri.  
(-) Percobaan yang saya lakukan tidak menemukan pilihan menu "View => Stability doagnostic =>          recrusive estimate (ols only)", karena mungkin cara itu hanya bisa jika menggunakan metodel              pilihan "Least Square" seperti pada Sayeed Hossain
(+) Kita dapat menentukan lag maksimal masing-masing baik dependen maupun independent.

Berikut langkah-langkah dalam meregresi model ARDL (Sayed Hosssain + Dave Giles)


  • Siapkan data dalam bentuk excel




- Uji Akar Unit (ADF, PP / KPSS)
uji akar unit dilakukan seperti sebelum-sebelumnya dengan menggunakan ADF, PP atau KPSS.
klik variabel => view => unit root test => pada criteria pilih salah satu ADF, PP KPSS => pilih linear dn intercept => ok
lakukan untuk semua variabel. kegunaannya hanya untuk mengecek tingkat stasioneritas data. Memastikan bahawa data yang dalm bentuk level dan first difference

Uji Pada Tingkat Level






 Uji Pada Tingkat First Difference








dari hasil uji di atas dapat dilihat Y : First Diff, X1 : First difference dan X2: First Diff
Tidak ada variabel yang stasioner pada tingkat Second Diff, sehingga model ARDL layak digunakan.

- Estimasi Model ARDL
klik object => new object=> equation => masukan semua variabel yang ingin di regresi=> misalnya Y X1 X2=> pilih jumlah lag yang diinginkan baik dependen maupun regresor (misalnya pilih lag 7)=> pada menu tab option, silahkan memilih salah satu kriteria yang digunakan ( Sayed Hossain mengguankan AIC, sedangkan Dave menggunakan SC) ,kemudian klik ok

untuk melihat persamaan jangka panjang => view =>  coeficient diagnos => cointegration and long run => ok


dari hasil estimasi jangka pendek dapat dilihat bahwa nilai ect / CointEq= -0,3628 dengan prob 0,000, artinya terjadi kointegreasi dalm model tersebut. nilai betha cointEq yang negatif menunjukkan bahwa model akan menuju keseimbangan dengan kecepatan 36,28 persen per bulan.

dari hasil estimasi jangka panjang menunjukkan bahwa X1 berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Y, sedangkan X2 berpengaruh positif dan signifikan terhadap Y dalam janngka panjang.

- Melihat Graph dari lag yang dipilih


kriteria pemilihan lag secaraotomatis telah dilakukan oleh EViews. kriteriadengan nilai AIC terkecilah yang paling baik dari 20 model terbaik yang ditawarkan oleh kriteia AIC.
kriteria yang terpilih adalah ARDL (2,7,4) artinya Y berjumlah 2 lag, X1 berjumlah 7 lag dan X2 berjumlah 4 lag.


- Uji Autokorelasi (Serial LM test) 
(Menurut dave, uji serial korelasi wajib dilakukan dalam model ARDL)
view => residual diagnos => serial LM test



hasil uji autokorelasi tersebut menunjukkan nilai prob chi sq = 0,382 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan error pada model tidak mengalami masalah serial korelasi.

- Uji Heteroskedastisitas
view => residual diagnos => Heteroscedasticity => pilih stau metode glesjer / BG / White dll (Menurut Dave, jika tidak melakukan uji heteros BUKAN merupakan permasalahan yang besar dalam ARDL, namun jika ingin mengujinya juga tidak masalah)

- Uji Normalitas
view => residual diagnos => Normality test (Menurut Dave, pengujian normalitas dalam model ARDL tidak begitu penting, sehingga bisa diabaikan)

- Uji Stabilitas Model
  Cusum  
view => stability diagnos => recrusive estimate (ols only) => ok (cattn : kata “ols only” merupakan keyword yang menyebabkan mengapa pada metode ARDL tidak muncul menu untuk melihat cusum test)


Cusumq 
view => stability diagnos => recrusive estimate (ols only) => ok (cattn : kata “ols only” merupakan keyword yang menyebabkan mengapa pada metode ARDL tidak muncul menu untuk melihat cusum test)


Dari hasil uji CUSUM dan CUSUMQ test, dapat dilihat bahwa model dalam keadaan stabil karena garis cusum sq masih berada di antara garis signifikan 5 persen (merah)
NB Apa yang dilakukan jika model tidak stabil? bermain dengan lag hingga hasilnya stabil (Dave Giles)

- Uji Bound Test (Melihat kointegrasi dalam jangka panjang), mengapa tidak menggunakan johansen saja? karena penggunaan uji johansen untuk kointegrasi hanya boleh dilakukan jika semua variabel stasioner pada tingkat first diff "I(1)" (Dave Giles)
view => coefficient diagnostic => bound test => ok

Nilai F stat berada di atas I(1) bound => 16,52 > 4,14, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian memilki kointgrasi dalam jangka panjang.


Artikel ini sangat jauh dari sempurna, mohon kritik dan masukannya untuk memperbaiki postingan ini..
Terima Kasih

Referensi :
Asteriou, Dimitros dan Hall, Stephen, G. (2007). Applied Econometric : A Modern Approach.                             Revised Edition. Palgrave Macmillan. New York.
Gujarati, D dan Poter, Dawn, C. (2010). Dasar-dasar Ekonometrika, Edisi kelima, Buku 2, Salemba                     Empat. Jakarta
http://www.sayedhossain.com/ardltimeseries.html
http://davegiles.blogspot.co.id/2015/01/ardl-modelling-in-eviews-9.html
http://davegiles.blogspot.co.id/2014/06/some-questions-about-ardl-models.html
http://davegiles.blogspot.co.id/2013/06/ardl-models-part-ii-bounds-tests.html


Minggu, 19 Maret 2017

Perekonomian Aceh Tenggara

Assalamualaikum wr wb
Selamat Sore…

Kaleidoskop Perkonomian Aceh Tenggara : 
Mencari Sebuah Solusi Untuk Mengejar Kemajuan Daerah Tetangga

Aceh Tenggara merupakan salah satu Kabupaten yang berada di paling ujung Provinsi Aceh, berbatasan langsung dengan Kab. Karo salah satu daerah di Sumut. Aceh Tenggara sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Aceh tentu saja ikut merasakan “manisnya” dana otsus yang didapat Aceh. Lantas benarkah dana otsus mampu memperbaiki perekonomian Aceh Tenggara secara makro? Mari kita lihat dalam 5 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Aceh Tenggara, Aceh dan Nasional.




Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa 6 tahun terakhir cenderung mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada awal periode (2010) pertumbuhan ekonomi aceh tenggara mencapai 10,73 persen, sebuah angka pertumbuhan yang sangat baik tentunya. Jika dilihat secara umum pertumbuhan ekonomi nasional dikisaran 6,6 persen sedangkan pertumbuhan ekonomi aceh berada di angka 5,91 persen. Secara umum baik perekonomian aceh maupun aceh tenggara cenderung mengikuti tren pertumbuhan ekonomi nasional. Ini mengindikasikan bahwa aceh tenggara belum mampu menepis ketergantungan yang kuat terhadap provinsi maupun nasional. Aceh tenggara akan lebih baik jika mampu mengikuti “irama” pertumbuhan ekonomi yang positif baik provinsi maupun nasional, dan mampu tetap positif jika pertumbuhan ekonomi aceh dan nasional cenderung negative.

Kemiskinan Pertumbuhan Ekonomi
Kemiskinan merupakan salah satu factor penghambat dalam suatu perekonomian. Suatu daerah yang memiliki penduduk miskin yang besar biasa merupakan daerah yang memilki penduduk yang kurang produktif. Kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi dari berbagai penelitian memiliki hubunga kausalitas (sebab-akibat) yang erat. Pertumbuhan ekonomi yang baik, diharapkan mampu menurunkan angka kemiskinan. Lantas, bagaimakah dengan Aceh Tenggara? Sudahkah mampu menurunkan angka kemiskinan?
Sumber : BPS Aceh (Diolah)
Terjadi sedikit fenomena “aneh”, dimana ketika pertumbuhan ekonomi yang tinggi, angka kemiskinan juga tinggi, dan ketika pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan maka terlihat bahwa tingkat kemiskinan juga mengalami penuruan. Secara umum dalam kurun waktu 6 tahun pertumbuhan ekonomi menurun dari 10,73 persen menjadi 4,08 persen , sedangkan tingkat kemiskinan menurun dari 16,78 persen menjadi 14,91 persen pada tahun 2015. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari tahun 2012 sebesar 4,61 persen menjadi 4,89 persen diikuti dengan penurunan tingkat kemiskinan dari 15,64 persen menjadi 14,39 persen.

Memang banyak pendapat para ahli yang menyatakan bahwa, mengukur kesejahteraan suatu negara/provinsi/daerah dengan menggunakan pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang semu, tidak terkecuali yang terjadi di Aceh Tenggara. Artinya, ada hal atau factor yang lebih spesifik yang mampu menjelaskan mengapa tingkat kemiskinan di Aceh Tenggara bisa menurun dalam kurun waktu 6 Tahun terakhir.

Sumber : BPS Aceh (Diolah)

Daerah yang sedang berkembang identic dengan penyokong perekonomiannya berada disektor primer, dimana kegiatan perekonomian masi di dominasi oleh kegiata pertanian, penggalian dan pertambangan. Daerah sedang berkembang juga sangat identic dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.


Kenaikan nilai IPM setiap daerah ditentukkan oleh baik tidaknya layanan terhadap masyarakat, baik itu pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, saran dan prasarana,  infrastruktur pendukung seperti jalan, dan bandar udara. Disamping itu kebutuhan untuk industry pengolahn terhadap barang-barang raw material menjadi barang yang lebih bernilai (memiliki nilai tambah), misalnya pengolah padi menjadi beras, kemudian beras menjadi tepung. Dengan dijualnya tepung menjadi lebih mahal.

Komoditi lain unggulan yang bisa di jadikan leading sektor dalam industry pengolahan adalah Ikan Mas. Ikan mas yang melimpah dapat dijadikan ikan kaleng, dimana untuk ikan air tawar masih belum ada yang menjadi berupa makanan kaleng yang bisa lebih instan. Dengan dijadikan makanan instan, ikan tersebut lebih bisa tahan lama dan pemasarannya pun bisa menjadi lebih luas, sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih baik dibandingkan dengan hanya menjual ikan mas seperti biasa, dimana dari segi daya jangkau luas pemasaran tergantung pada kemampuan ikan bertahan. Jika pengemasan pengiriman tidak baik maka ikan mas bisa mati sebelum sampai pada tempat tujuannya.

Selain ikan mas, kakao merupakan salah satu komoditi unggulan lainnya dari Aceh Tenggara, daripada menjualnya dengan bentuk bijian yang lebih murah, akan lebih baik menjualnya dalam bentuk tepung coklat siap seduh, tentu saja dalam pemilihan (sortir) biji kakao yang baik adalah biji kakao yang sesuai standar yang tetapkan oleh BPPOM (akan sangat lebih baik jika sesuai dengan standar internasional) sehingga mampu bersaing dengan produk yang sudah ada sehingga dari segi kualitas mampu dijamin oleh produsen (kita harus belajar banyak dari Kabupaten dari dtaran tinggi Gayo yaitu Bener Meriah dan Aceh Tengah, dengan komoditi unggulan merekea berupa kopi yang sudah mendunia). Dalam mewujudkannya, perlu adanya sinergisitas yang baik antara pemerintah dan pelaku usaha yang berada di Kutacane.

Service Sector will be a leading sector, why not????
Selain dari sektor pertanian dan perkebunan, salah satu sektor yang sangat potensial di Agara adalah sektor pariwisata. Iya pariwisata, karena Agara sudah memiliki “objek wisata” yang memiliki “Branding” internasional. Jika anda berpikir “objek wisata ” itu adalah TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser), berarti kita memiliki pemikiran yang sama. TNGL memiliki nama yang sudah Go Internasional, ini terbukti dengan mudahnya menemukan nama TNGL baik d situs dalam maupun luar negeri.

Tampaknya Pemda Agara masih belum optimal dalam memanfaatkan “Branding” TNGL yang sudah ada. Seharusnya pemda yang sudah memiliki branding tersebut harus lebih “gila” dalam mempromosikannya. Dalam beberapa tahun terakhir memang sudah terlihat cukup menggeliat, dengan adanya beberapa event nasional bahkan internasional yang di adakan oleh pemda Agara seperti International Rafting Festival 2015. Ini merupakan sebuah langkah besar yang sebaiknya rutin dilakukan tiap tahunnya baik dalam maupun luar negeri.
Sumber : http://www1-media.acehprov.go.id/uploads/rafting-sungai-alas.jpg

Diharapkan kedepannya pemda Agara lebih mampu lagi menggali potensi-potensi yang ada di Agara sehingga mampu meningkat taraf hidup masyarakat yang bermukin di Tanoh ALah Metuah ini.

Terima Kasih..




Kamis, 12 Januari 2017

Bu Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Beri Kuliah Umum di Unsyiah

Asslamualaikum wr wb..

(Copas)

Jumat, 6/01/2017 – Banda Aceh, Sri Mulyani merupakan menteri keuangan RI beri kuliah umum untuk mahasiswa Unsyiah pada hari Kamis, 5 Januari 2017 tepatnya di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah Darussalam.
Acara ini dimulai pada pukul 10.00 wib hingga siang hari .Adapun tema dalam kuliah umum tersebut adalah “ Peran Fiskal Dalam Pembangunan Perekonomian Inklusif” yang dihadiri oleh ribuan mahasiswa dari segala fakultas, terutama dari fakultas ekonomi dan bisnis Unsyiah.

Dalam kuliah tamunya beliau memaparkan bahwa instrumen suatu kebijakan  yang sangat penting bagi negara adalah APBN ( Anggaran Pendapatan Belanja Negara). APBN ini merupakan instrument fiskal didalam suatu perekonomian  bagi suatu negara khususnya Indonesia dan bagaimana instrument APBN kebijakan fiskal ini dapat  mendukung tujuan kita  bernegara.
“Tujuan dalam mencapai masyarakat yang adil dan makmur adalah cita-cita bangsa Indonesia . Tujuan itu harus di upayakan dengan berbagai  macam instrumen kebijakan, salah satu instrument yang penting adalah instrument APBN “ ujarnya.

APBN  sebagai   instrument kebijakan fiskal  bukan satu- satunya  instrument kebijakan. Pemerintah memiliki instrument lainnya seperti instrument ekonomi struktural dan juga instrument moneter yang berguna untuk menciptakan pertumbuhan  perekonomian.

Menteri keuangan RI ini memaparkan bahwa Tujuan masyarakat adil  dan makmur pada saat ini  untuk indonesia ada 3 issu penting yg harus dihadapi   diantaranya , kemiskinan, kesenjangan dan  kemamupuan  untuk meningkatan produktifitas dan daya saing negara yang tumpuannya adalah manusia. Daya saing suatu Negara bisa dilihat dari kekayaan alamnya, tetapi daya saing suatu Negara yang hanya bisa tetap  tahan lama tumpuannya bukan kepada geografisnya, melainkan lebih kepada manusianya.

“Kebutuhan akan  infrastruktur kita masih  jauh memadai dan juga  infrastruktur teknologi serta skill  adalah 3 hal yang diidentifikasi yang merupakan kendala bagi kita untuk memiliki daya saing yang baik  juga dalam kita mengurangi kemiskinan dan juga  menciptakan kemerataan bagi Indonesia” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa sektor keuangan yang merupakan salah satu penunjang pembangunan negara   masih cukup dangkal . Berdasarkan tabel indikator  kemiskinan dan ketimpangan ,  kemiskinan mengalami pertumbuhan dari  tahun 2007-2017 . Tingkat kemiskinan dari 17% terhadap populalasi Indonesia kini  menjadi 10.9 % .

Menurutnya Jika ketimpangan dibiarkan pada level tertentu maka akan   menjadi penghabat bagi pertumbuhan ekonomi. Jika Indonesia ingin  megalami pendapatan yang tinggi maka  harus mewaspadai  ketimpangan. Ketimpanagn inilah  akan menciptakan “middle income trap” atau perangkat bagi banyak Negara yg pendapatannya di tengah dan tidak akan pernah maju . Ciri dari middle income trap adalah  ketidakmampuan negara untuk  meyelesaikan masalah institusi .Beliaupun menambahkan penyakit yg sering terjadi  untuk Negara yang ingin  maju  bukan  karena musuh dari dari luar akan tetapi penyakit tersebut adalah korupsi dalam Negara.

Ibu Sri Mulyani  hadir untuk kedua kalinya setelah terjadinya tsunami Aceh, dan  sebelumnya hadir untuk meresmikan gedung- gedung  keuangan Negara yg dibangun kembali setelah tsunami Aceh. “Dan hari ini saya bangga bisa hadir kembali ke Aceh tentunya ke kampus” begitulah ujarnya saat pembukaan kuliah umum pada hari Kamis lalu.

Antusias terhadap kedatangan Ibu Sri Mulyani Menteri Keuangan ke Unsyiah juga dirasakan oleh  Fifi  salah satu mahasiwa feb Unsyiah. “  Senang dapat melihat ibu Menteri Keuangan RI secara langsung” imbuhnya.

Adapun rektor Unsyiah  Prof.Dr.Samsul Rizal, M.Eng  berharap, semoga APBA  provinsi  Aceh segera dapat di sepakati antara  legislatif dan ekisekutif sehingga dapat dijadikan instrumen yang penting  bagi pelaksanaan pemerintah. (Sumber )

Kamis, 27 Oktober 2016

Regresi Linear Berganda Dengan Menggunakan Microsoft Excel

Assalamualaikum wr wb..

Selamat malaaaam...

Biasanya untuk melakukan processing data menggunakan  spss, eviews dan shazam kan?
Nah apa jadinya jika semua program pengolahan data tidak ada di laptop kita?????? ( khusus anak EKP pasti kelabakan, apalagi sedang ngambil Etrik pulak,haahhahah) hayoooo.....

di laptop atau komputer pasti punya office kan?n dalam office pasti ada microsoft excel kan?

Tenang...tenang.... ternyata dengan menggunakan excel kita bisa melakukan regresi linear berganda. hehehe  :-)

Berikut langkah-langkahnya :

  1. pastikan dalam tab menu data di microsoft excel sudah ada menu "Data analysis"
  2. jika belum ada, maka harus di lakukan pemasangan secara manual / add in
  3. klik menu file => add in => pilih "analysis toolpack" => klik ok
  4. Kembali ke menuutama, silahkan klik tab menu "Data" dan lihat apakah sudah terdapat menu "Data Analysis", jika sudah maka lanjutkan langkah-langkah regresinya.


















  • Siapkan data dalam bentuk excel (Seperti Gambar di bawah ini).





  • Kemudian pada tab menu pilih "data" 
  • klik "data Analysis"





  • kemudian akan muncul windows data analysis, kemudian pada kolomm "Analysis Tool", pilih "regression"






  • Selanjutnya, untuk input variabel (Y range) silahkan klik sekali pada barisnya, kemudian klik dan sorot dari "Y" (pada cell B1) hingga ke akhir data (B81). 
  • Untuk variabel X1 hingga X3 juga seperti itu, block dari C1 hingga E1 terus hingga ke bawah samapi akhir dari data, kemudian klik ok



input variabel Y



Input variabel X


  • Nah hasilnya akan tampil seprti di bawah ini. untuk hasilnya sama persis ketika menggunakan eviews dan spss yg sudah saya share sebelumnya. (Klik disini untuk melihatnya
  • kalo malas kliknya, nih saya kasih langsung hasilnya

Eviews
R square = 0.829235
R square ad = 0.820128
koefisien x1 = 0.592358
koefisien x2 = 254.3892



SPSS
R square = 0,829
R square ad = 0,820
koefisien x1 =0,592
koefisien x2 = 254,89



hasil Regresi dengan menggunakan Microsoft Excel

Terima kasih sudah berkunjung, silahkan berikan masukannnya untuk memperbaiki tulisan ini
Terima kasih

Kamis, 20 Oktober 2016

Regresi Data Primer Dengan EViews

Assalamualikum wr wb...

Selamat Pagi..

Semoga kita semua dalam lindungan Allah swt.. Amiin Ya Rabbal alamin..

Udah lama nggak sharing ni masalah pengolahan data,, nah kali ini saya mau sharing cara mengolah data primer menggunakan EViews.. 
Q : Nah loh, emang dengan program lain emang nggak bisa? SPSS? Shazam? dll 
A : ada beberapa alasannya, 
1). Bagaimana jika tidak ada program pengolahan data lain? (Hayoooo.Emang bisa kita hitung pake jari??? hihii) 
2). Setelah belajar-belajar dengan ibu-ibu Tim Hiber (Ibu 1, Ibu 2, dan Ibu 3) baru dapat ilmunya, karena pemikiran saya awalnya eviews lebih sering digunakan untuk meregresi data runtun waktu (time series), (atau emang saya yang masih malas baca...hahahha). 
3). untuk menjawab pertanyaan "hasil dengan spss kurang bagus, bisa nggak di coba dengan eviews, mungkin hasilnya bagus?" ini membuktikan bahwa hasil regresi dengan mengunakan eviews dan spss itu sama. ini pertanyaan yang kadang datang dari kawan, adk2, pengunjung blog ini serta entah dari mana-mana.

Yok kita lihat gimana langkah-langkah regresi data primer dengan eviews..


  • Siapkan data dalam bentuk excel yang sudah disusun rapi




  • Buka program eviews - file - new - workfile 

  • untuk data primer, pada workfile structure type pilih unstructured / undated
  • untuk obseravtion isi dengan jummlah sampel data misalnya dalam penelitian ini menggunakan 80 sampel - klik ok

  • sekarang membuat variabel satu persatu sesuai denan penelitian yang ada, misalnya saya buat y x1 x2 x x4 untuk membuatnya , klik object - new object- series - isi namanya sesuai keinginan



  • untuk variabel selanjutnya cukup di copy kemudian paste dan diganti namnya

  • untuk memasukan nilai dari tiap variabel, blok variabel sesuai urutann di file excel

  • setelah itu klik kanan open as grup, klik edit - copy data excel dn paste di eviews
  • biasakan setelah di copy untuk cek data sudah masuk atau belum



  • kemudian langkah selanjutnya di close
  • selanjutnya membuat equation / persamaan
  • object - new object - equation - pada name isi dengan nama yang diinginkan

  • untuk eq estimation nya isi dengan persamaan yang akn di regresi y c x1 x2 x3 x4


  • untuk uji asumsi klasik sama dengan uji asumsi klasik pada data time series yang sudah saya posting sebelumnya
  • untuk hasilnya bisa langsung di interpretasi seperti biasa..



Nah terkadang ada pertanyaan, hasil regresi eviews dengan spss sama nggak?
ya jawabannya sama. karena spss eviews mmerupakan alat yang digunakan untuk proses perhitungannya

mari kita lihat..
bandingkan dengan spss

ini merupakan data yang sama dengan dikerjakan di evviews
sekarang mari kita coba regresi dengan persamaan yang sama yaitu Y X1 X2 X3 X4

ini merupakan hasil regresi dengan spss dengan menggunakan data yang sama

sekarang coba kita perhatikan beberapa hal ini :

Eviews
R square = 0.829235
R square ad = 0.820128
koefisien x1 = 0.592358

koefisien x2 = 254.3892

durbin watson = 1.880249


SPSS
R square = 0,829
R square ad = 0,820
koefisien x1 =0,592
koefisien x2 = 2554,89
durbin watson = 1,880






sama persis kan?

berarti hasil yang ada dari kedua program pengolahan ini memang sama..


Ditunggu komen dan masukannya untuk membuat tulisan ini lebih baik...

Terima Kasih sudah berkunjung

Cara Mendapatkan EViews 11 Demo Version

 Oleh: Jul Fahmi Salim Assalmkum wrwb.. Selamat Pagi, Siang, Malam teman-teman sekalian, jika dipostingan sebelumnya sydah ada cara mendapat...