Minggu, 24 Februari 2013

Siapakah Arsitek Keruntuhan Ekonomi?


Michel Chossudovsky
Akankah Administrasi Obama Membalikkan Arus?
Krisis Ekonomi Paling Serius dalam Sejarah Modern
                Keruntuhan finansial pada bulan Oktober 2008 bukanlah hasil dari fenomena siklus ekonomi. Ia merupakan hasil yang sengaja diciptakan oleh kebijakan pemerintah AS yang dilakukan melalui Departemen Bendahara (Treasury) dan Dewan Cadangan Federal AS (US Federal Reserve Board)
Ini adalah krisis ekonomi paling serius dalam sejarah Dunia
                Dana talangan (bailout) yang diusulkan oleh Departemen Bendahara AS bukanlah "solusi" bagi krisis ini. Pada kenyataannya justru sebaliknya: ia merupakan penyebab dari keruntuhan lebih besar. Ia memicu konsentrasi kekayaan yang tidak ada bandingannya, yang kemudian berperan dalam memperluas ketimpangan ekonomi dan sosial baik di dalam maupun antara bangsa-bangsa.
                Tingkat utang telah meroket. Korporasi industrial digiring menuju kebangkrutan, diambil alih oleh institusi finansial global. Kredit, tepatnya persediaan dana pinjaman (the supply of loanable funds), yang menjadi tali nyawa produksi dan investasi, dikontrol oleh segelintir konglomerat finansial.
                Akibat "bailout", utang publik membumbung. Amerika adalah negeri yang paling berutang di bumi. Sebelum "bailout" utang publik AS berada di kisaran 10 trilyun dolar. Utang berdenominasi dolar ini terdiri dari treasury bills dan government bonds berlebih yang dipegang oleh individual, pemerintah asing, korporasi dan institusi finansial.
"The Bailout": Pemerintah AS Mendanai Utangnya Sendiri
                Ironisnya, bank-bank Wall Street -- yang menjadi penerima dana talangan -- adalah juga broker dan penjamin (underwriter) utang publik AS. Walaupun bank hanya memegang sebagian utang publik, mereka mentraksasikan dan memperdagangkan instrumen utang publik denominasi dolar AS di seluruh dunia.
                Dalam lika-liku peristiwa yang pahit, bank menjadi penerima pembagian uang sebesar 700+ milyar dolar dan pada saat bersamaan bertindak sebagai kreditor bagi pemerintah AS. Kita berhadapan dengan hubungan yang sirkular dan absurd: Untuk membiayai bailout, Washington harus meminjam dari bank, yang merupakan penerima bailout.
Pemerintah AS mendanai utangnya sendiri.
                Pemerintah Federal, Negara Bagian dan kotapraja semakin terkungkung di bawah kontrol ketat konglomerat finansial global. Para kreditor ini semakin mengontrol reformasi pemerintah. Bailout tersebut kondusif bagi konsolidasi dan sentralisasi kekuasaan perbankan, yang kemudian memukul aktivitas ekonomi riil, menyebabkan serangkaian kebangkrutan dan pengangguran massal.
Akankah Administrasi Obama Membalikkan Arus?
Krisis finansial adalah akibat dari deregulasi arsitektur finansial.
                Obama telah menyatakan dengan sungguh-sungguh janjinya untuk mengatasi kegagalan kebijakan administrasi Bush dan "mendemokratikkan" sistem finansial AS. Presiden terpilih Barack Obama mengatakan bahwa ia berkomitmen membalikan arus:
                "Marilah kita mengingat kembali bahwa bila krisis finansial ini mengajarkan sesuatu hal kepada kita, itu adalah kita tak dapat memiliki Wall Street yang tumbuh subur sementara Main Street menderita. Di negeri ini, kita bangkit dan jatuh sebagai satu bangsa, sebagai satu rakyat." (Presiden terpilih Barack Obama, 4 November, 2008, ditambahkan penebalan)
Kaum Demokrat biasanya menyalahkan administrasi Bush dalam keruntuhan finansial Oktober ini.
                Obama mengatakan bahwa ia akan memperkenalkan agenda kebijakan yang seluruhnya berbeda yang akan merespon kepentingan Main Street:
                "Besok, Anda dapat meninggalkan lembar kebijakan yang meletakkan keserakahan dan ketakbertanggungjawaban Wall Street di atas kerja keras dan pengorbanan para lelaki dan perempuan di sepanjang Main Street. Besok, Anda akan memilih kebijakan yang berinvestasi pada kelas menengah dan menciptakan pekerjaan baru dan mengembangkan ekonomi ini sehingga semuanya memiliki kesempatan untuk sukses, dari CEO hingga sekretaris dan staf pembersih, dari pemilik pabrik hingga lelaki dan perempuan yang bekerja di lantai pabrik. (Barack Obama, kampanye pemilu, November 3, 2008)
Apakah Obama berkomitmen "menjinakkan Wall Street" dan "melucuti pasar finansial"?
                Ironisnya, adalah di bawah administrasi Clinton lah kebijakan yang "serakah dan tak bertanggungjawab" itu diadopsi.
                Akta Modernisasi Layanan Finansial tahun 1999 (1999 Financial Srvices Modernization Act - FSMA) kondusif terhadap pencabutan Akta Glass-Steagall tahun 1933. Sebagai pilar"New Deal" Presiden Roosevelt, Akta Glass-Steagall diterapkan sebagai jawaban atas iklim korupsi, manipulasi finansial dan "insider trading" yang menyebabkan kegagalan lebih dari 5.000 bank dalam beberapa tahun menyusul keruntuhan Wall Street tahun 1929.
                Di bawah Akta Modernisasi Layanan Finansial 1999, kendali efektif terhadap seluruh industri jasa finansial AS (termasuk perusahaan asuransi, dana pensiun, perusahaan sekuritas, dsb.) telah ditransfer ke tangan segelintir konglomerat finansial dan hedge funds rekanannya.
Para Perekayasa Bencana Finansial
Siapa saja arsitek dari kemelut ini?
                Dalam ironi yang pahit, para perekayasa bencana finansial ini kini sedang dipertimbangkan untuk ditunjuk masuk dalam Tim Transisi Presiden Terpilih Barack Obama untuk posisi Sekretaris Bendahara (Treasury Secretary):
                Lawrence Summers memainkan peran kunci dalam melobi Kongres untuk mencabut Akta Glass Steagall. Penunjukkannya yang tepat waktu oleh Presiden Clinton pada 1999 sebagai Sekretaris Bendahara menjadi ujung tombak diadopsinya Akta Modernisasi Layanan Finansial pada November 1999. Setelah menuntaskan mandatnya di pucuk pimpinan Bendahara AS, ia menjadi presiden Universitas Harvard (2001-2006)
                Paul Volker adalah ketua Jajaran Cadangan Federal pada tahun 1980an pada era Reagan. Ia memainkan peran sentral dalam menerapkan tahap pertama deregulasi finansial, yang kondusif bagi kebangkrutan, merger, dan akuisisi massal yang menggiring pada krisis finansial 1987.
                Timothy Geithner adalah CEO dari Bank Cadangan Federal New York (FRBNY), yang merupakan institusi finansial swasta paling berkuasa di Amerika. Ia juga seorang mantan pejabat Bendahara dalam adminstrasi Clinton. Ia telah bekerja untuk Kissinger Associates dan juga memegang posisi senior dalam IMF. FRBNY memainkan peran di belakang layar dalam membentuk kebijakan finansial. Geithner bertindak atas nama kaum financial yang berkuasa di belakang FRBNY. Ia juga anggota dari Dewan Relasi Luar Negeri(Council on Foreign Relations - CFR)
Jon Corzine saat ini menjabat gubernur New Jersey, mantan CEO Goldman Sachs.
                Pada saat artikel ini ditulis, favorit Obama adalah Larry Summers, yang menjadi terdepan dalam posisi Sekretaris Bendahara.
                Profesor Ekonomi Universitas Harvard, Lawrence Summers, menjabat posisi Ketua Pakar Ekonomi (Chief Economist) bagi World Bank (1991-1993). Ia berkontribusi dalam membentuk reformasi makro-ekonomi yang diterapkan dalam sejumlah negeri-negeri berkembang yang terlilit utang. Dampak sosial dan ekonomi dari reformasi-reformasi ini di bawah Program Penyesuaian Struktural (SAP) yang disponsori IMF-World Bank begitu menghancurkan dan mengakibatkan kemiskinan massal.
                Masa jabatan Larry Summer di Bank Dunia bertepatan dengan keruntuhan Uni Soviet dan penerapan "obat ekonomi" IMF-World Bank yang mematikan kepada Eropa Timur, mantan republik Soviet dan negeri-negeri Balkan.
                Pada 1993, Summers pindah ke Departemen Bendahara AS. Ia awalnya memegang posisi Sekretaris Pembantu Bendahara untuk urusan internasional dan kemudian Sekretaris Deputi. Dengan bekerjasama dengan mantan koleganya di IMF dan World Bank, ia memainkan peran kunci dalam merekayasa paket reformasi ekonomi "terapi kejut" (shock treatment) yang diterapkan di puncak krisis Asia pada 1996 di Korea Selatan, Thailand dan Indonesia.
                Kesepakatan bailout yang dinegosiasikan dengan tiga negeri ini dikoordinasikan oleh kantor Summer di Departement Bendahara bekerjasama dengan Bank Cadangan Federal New York dan institusi Bretton Woods tersebut yang bermarkas di Washington. Summer bekerjasama erat dengan Direktur Pengelola Deputi Stanley Fischer, yang kemudian ditunjuk menjadi Gubernur Bank Sentral Israel.
                Larry Summers menjadi Sekretaris Bendahara pada Juli 1999. Ia adalah murid dari David Rockefeller. Ia adalah salah satu arsitek dari Akta Modernisasi Layanan Finansial, yang melegitimasi insider trading dan manipulasi finansial terang-terangan.
"Menugaskan Musang Untuk Menjaga Kandang Ayam"
                Summer saat ini adalah Konsultan di Goldman Sachs dan direktur pengelola Hedge Fund, D.E. Shaw Group. Sebagai pengelola Hedge Fund, kontaknya di Bendahara dan Wall Street memberikannya informasi dari dalam yang berharga tentang pergerakan pasar finansial. Menunjuk pengelola Hedge Fund (dengan koneksi ke bangunan finansial Wall Street) untuk memegang Departemen Bendahara sama saja menugaskan musang untuk menjaga kandang ayam.
Konsensus Washington
                Summer, Geithner, Corzine, Volker, Fischer, Phil Gramm, Bernanke, Hank Paulson, Rubin, dan tak ketinggalan juga Alan Greenspan, al. adalah suatu perkoncoan; mereka bermain golf bersama; mereka punya koneksi dengan Council of Foreign Relations dan Bilderberg; mereka bertindak serempak menurut kepentingan Wall Street; mereka bertemu di balik pintu tertutup; mereka semua memiliki frekuensi yang sama; mereka pengikut Partai Demokrat dan Republik.
                Meskipun bisa saja terdapat ketidak-sepakatan di antara mereka dalam beberapa isu, mereka semua berkomitmen teguh pada Konsensus Washington-Wall Street. Mereka benar-benar tidak menyisakan belas kasihan dalam mengelola proses ekonomi dan finansial. Tindakan mereka didorong oleh profit. Di luar kepentingan sempit mereka terhadap "efisiensi pasar", mereka hanya punya sedikit kepedulian terhadap "kehidupan manusia". Bagaimana kehidupan rakyat dipengaruhi oleh beragam reformasi makro-ekonomi dan finansial yang mematikan, yang memerosokkan seluruh sektor aktivitas ekonomi pada kebangkrutan.
                Alasan ekonomi yang mendasari diskursus ekonomi neoliberal seringkal penuh kesinisan dan penghinaan. Terkait dengan ini, diskursus ekonomi Lawrence Summers tampil mencolok. Ia dikenal oleh kaum pembela lingkungan hidup sebagai penganjur pembuangan limbah beracun di negeri-negeri Dunia Ketiga, karena rakyat negeri-negeri miskin memiliki usia hidup yang lebih pendek dan biaya buruh yang benar-benar rendah, yang artinya nilai pasar rakyat di Negeri Dunia Ketiga jauh lebih rendah. Menurut Summers, faktor ini membuat ekspor bahan beracun ke negeri-negeri miskin jauh lebih "efektif biayanya". Sebuah memo World Bank yang kontroversial pada tahun 1991, ditandatangani oleh Ketua Pakar Ekonomi Larry Summers dapat dibaca sebagai berikut (cuplikan, dengan ditambah penebalan):
TANGGAL: 12 Desember 1991
KEPADA: Distribusi
DARI: Lawrence H Summers
Subyek: GEP
"Industri "Kotor": Hanya di antara Anda dan saya; tidakkah seharusnya World Bank mendorong LEBIH BANYAK migrasi industri kotor ke Negeri-negeri Kurang Berkembang?Saya dapat memberikan tiga alasan:
1) Ukuran dari biaya polusi yang merusak kesehatan (costs of health impairing pollution) bergantung pada pendapatan sebelumnya akibat peningkatan penyakit dan tingkat kematian... Dari sudut pandang ini sejumlah tertentu dari polusi yang merusak kesehatan seharusnya dilakukan di negeri yang biayanya terendah, yang mana merupakan negeri dengan upah terendah. Saya rasa logika ekonomi di balik pembuangan limbah beracun di negeri-negeri yang berupah rendah sangatlah benar dan kita harus menerima itu.
2) biaya polusi cenderung non-linear karena pertambahan polusi pada awalnya mungkin berbiaya sangat rendah. Saya selalu berpendapat bahwa negeri-negeri yang tidak banyak penduduknya seperti Afrika amat sangat kekurangan polusi, kualitas udara mereka mungkin amat rendah dan tidak efisien dibandingkan Los Angeles atau Meksiko City. Hanya patut disesalkan bahwa sesungguhnya begitu banyak polusi dihasilkan oleh industri yang tak dapat diperdagangkan (transportasi, pembangkit listrik) dan biaya transportasi unit limbah padat begitu tinggi sehingga menghalangi negeri-negeri yang lebih sejahtera di dunia dalam menggalakkan perdagangan polusi udara dan limbah.
3) Permintaan akan lingkungan hidup yang lebih bersih demi alasan estetis dan kesehatan cenderung memiliki elastisitas pendapatan yang sangat tinggi [permintaan meningkat ketika tingkat pendapatan meningkat]. Kepedulian terhadap zat agen yang menyebabkan perubahan jumlah penderita kanker prostat sebesar satu di antara sejuta tentunya jauh lebih tinggi di negeri yang mana rakyatnya dapat bertahan hidup dari kanker prostat dibandingkan dengan negeri di mana tingkat kematian di bawah umur 5 tahun adalah 200 per seribu..."
Posisi Summers tentang ekspor polusi ke negeri-negeri berkembang memiliki dampak yang terasa dalam kebijakan lingkungan hidup AS:
Pada 1994 "praktis seluruh negeri di dunia memutuskan hubungan dengan "logika ekonomi" sang lulusan Harvard, Mr Summers, yang mempertimbangkan dengan serius pembuangan racun negeri-negeri kaya ke tetangganya yang lebih miskin, dan menyetujui pelarangan ekspor limbah berbahaya dari negeri OECD ke non-OECD [berkembang] di bawah Konvensi Basel. Lima tahun kemudian, Amerika Serikat adalah satu dari sekian negeri yang belum meratifikasi Konvensi Basel atau Amandemen Pelarangan di Konvensi Basel terhadap ekspor limbah berbahaya dari negeri OECD ke non-OECD (Jim Valette, Larry Summers' War Against the Earth, Counterpunch, undated)
Krisis Asia 1997: Gladi Resik dari Peristiwa Yang Akan Terjadi
Sepanjang tahun 1997, spekulasi mata uang yang dilakukan oleh institusi finansial besar diarahkan kepada Thailand, Indonesia dan Korea Selatan dan berperan kondusif terhadap keruntuhan mata uang nasional dan transfer milyaran dolar cadangan bank sentral ke tangan finansial swasta. Beberapa pengamat menyinggung tentang manipulasi yang disengaja dalam pasar ekuitas dan mata uang oleh bank investasi dan perusahan pialang (brokerage firms).
Ketika kesepakatan bailout Asia secara formal dinegosiasikan dengan IMF, bank komersial besar Wall Street (termasuk Chase, Bank of America, Citigroup dan J. P. Morgan) maupun "lima besar" bank dagang (Goldman Sachs, Lehman Brothers, Morgan Stanley dan Salomon Smith Barney) dilibatkan dalam "konsultasi" tentang klausa-klausa yang akan disertakan dalam kesepakatan bailout Asia. [Catatan: Mereka adalah denominasi institusi finansial utama pada 1997)
Departemen Bendahara AS bekerjasama dengan Wall Street dan institusi Bretton Woods tersebut memainkan peran sentral dalam menegosiasikan kesepakatan bailout. Baik Larry Summers dan Timothy Geithner, secara aktif terlibat atas nama Departemen Bendahara AS pada bailout Korea Selatan pada 1997:
[Pada 1997] "Messrs. Summers dan Geithner bekerja untuk meyakinkan Mr. Rubin untuk mendukung bantuan finansial kepada Korea Selatan. Mr Rubin tidak yakin akan tindakan tersebut karena kuatir bahwa memberikan uang ke suatu negeri yang keadaannya gawat bisa menjadi suatu proposisi yang merugikan..." (WSJ, 8 November, 2008)
Apa yang terjadi di Korea di bawah anjuran Deputi Sekretaris Bendahara Summers et al, tidak ada hubungannya dengan "bantuan finansial".
Negeri tersebut secara harafiah diporak-porandakan. Sekretaris Muda Bendahara David Lipton dikirim ke Seoul pada awal Desember 1997. Dilakukan negosiasi rahasia. Washington menuntut pemecatan Menteri Keuangan Korea dan penerimaan tanpa syarat "bailout" IMF. Menteri keuangan yang baru, yang kebetulan adalah mantan pejabat IMF dan World Bank, ditunjuk dan segera dikirim dari Washington untuk "berkonsultasi" dengan mantan koleganya di IMF, Deputi Direktur Pengelola Stanley Fischer.
"Legislatur Korea telah berkumpul dalam rapat darurat pada 23 Desember. Keputusan akhir terkait perjanjian sebesar 57 milyar dolar diberikan sehari setelahnya, pada malam natal 24 Desember, setelah usainya jam bisnis di New York. Pengusaha finansial top dari Chase Manhattan, Bank America, Citicorp dan J.P. Morgan telah dipanggil untuk melakukan pertemuan dengan Bank Cadangan Federal di New York. Juga pada acara Malam Natal, hadir perwakilan dari "lima besar" bank dagang New York termasuk Goldman Sachs, Lehman Brothers, Morgan Stanley dan Salomon Smith Barney. Dan pada tengah malam Natal, setelah mendapat lampu hijau dari bank, IMF diperbolehkan "mengucurkan 10 milyar dolar ke Seoul untuk menghadang bencana longsor utang jangka-pendek yang jatuh tempo."
Kas bank Sentral Korea telah dijarah. Kreditor dan spekulator sudah tidak sabar menanti perolehan jarahannya. Institusi yang sebelumnya menspekulasikan kejatuhan won Korea kini menyedot uang bailout IMF. Ini adalah penipuan." (Lihat Michel Chossudovsky, The Recolonization of Korea, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah bab dalam The Globalization of Poverty and the New World Order, Global Research, Montreal, 2003.)
"Pengobatan ekonomi yang keras" adalah resep Konsensus Washington. "Penderitaan jangka pendek untuk keuntungan jangka panjang" adalah motto Bank Dunia pada masa Lawrence Summers menjabat sebagai Ketua Pakar Ekonomi di Bank dunia. (Lihat IMF, World Bank Reforms Leave Poor Behind, Bank Economist Finds, Bloomberg, November 7, 2000)
Apa yang sedang kita hadapi adalah seluruh "jaringan anak-anak lama" yang terdiri dari pejabat dan penasehat di Departemen Bendahara, Cadangan Federal, IMF, Bank Dunia,Think Tanks di Washington, yang secara permanen bekerjasama dengan pengusaha finansial terdepan di Wall Street.
Siapa pun yang dipilih oleh tim Transisi Obama adalah pengikut dari Konsensus Washington
Akta Modernisasi Layanan Finansial tahun 1999
Apa yang terjadi pada Oktober 1999 adalah krusial.
Pada awal negosiasi panjang di balik pintu tertutup, dalam ruang-ruang rapat di Wall Street, di mana Larry Summers memegang peranan sentral, kekangan regulasi terhadap konglomerat perbankan yang berkuasa di Wall Street dicabut dengan "sebuah goresan pena".
Larry Summers bekerjasama erat dengan Senator Phil Gramm (1985-2002), kepala komite Perbankan Senat, yang merupakan arsitek legislasi dari Akta Modernisasi Layanan FinansialGramm-Leach-Bliley , menandatangani dokumen tersebut menjadi Undang-undang pada 12 November 1999. Untuk teks lengkapnya lihat Kongres AS: Pub.L. 106-102. Sebagai Senator dari Texas, Phil Gramm memiliki koneksi erat dengan Enron.
Pada Desember 2000 pada akhir mandat Clinton, Gramm memperkenalkan dokumen legislasi kedua, yang disebut Akta Modernisasi Kontrak Berjangka KomoditasGramm-Lugar, yang melapangkan jalan bagi pembantaian spekulatif dalam komoditas utama terutama minyak dan bahan pangan pokok.
"Akta tersebut, jelasnya, akan menjamin bahwa baik SEC maupun Komisi Perdagangan Kontrak Berjangka Komoditas (CFTC) tidak akan mengurusi regulasi produk-produk finansial gaya baru yang disebut swaps - dan dengan demikian "melindungi institusi finansial dari regulasi berlebih" dan "memposisikan industri layanan finansial kita sebagai pemimpin di dunia memasuki abad baru." (Lihat David Corn, Foreclosure Phil, Mother Jones, Juli Agustus 2008)
Phil Gramm adalah pilihan pertama McCain untuk posisi Sekretaris Bendahara.
Di bawah peraturan baru FSMA - yang diratifikasi oleh Senat AS pada Oktober 1999 dan disetujui oleh Presiden Clinton - bank komersial, firma pialang, hedge funds, institusi investasi, dana pensiun dan perusahaan asuransi dapat dengan bebas berinvestasi dalam bisnis miliknya masing-masing maupun mengintegrasikan operasi finansial mereka.
Terciptalah sebuah "supermarket finansial global", yang membuka panggung bagi konsentrasi kekuasaan finansial secara massif. Salah satu tokoh utama di bawah proyek ini adalah Sekretaris Bendahara Larry Summers, bekerjasama dengan David Rockefeller. Summers menggambarkan FSMA sebagai "fondasi legislatif terhadap sistem finansial abad ke-21". Fondasi legislatif tersebut adalah salah satu penyebab keruntuhan finansial 2008.
Pelucutan Finansial
Tidak akan ada solusi yang berarti untuk krisis ini, kecuali terjadi reformasi besar dalam arsitektur finansial, secara tak langsung berarti, antara lain, membekukan perdagangan spekulatif dan "pelucutan pasar finansial". Proyek melucuti pasar finansial pertama kali diusulkan oleh John Maynard Keynes pada tahun 1940an sebagai alat untuk membangun sistem moneter internasional yang multipolar. (Lihat J.M Keynes, Activities 1940-1944, Shaping the Post-War World: The Clearing Union The Collected Writings of John Maynard Keynes, Royal Economic Society, Macmillan and Cambridge University Press, Vol XXC, London 1980, p.57).)
Main Street versus Wall Street
Manakah "orang-orang Main Street" yang ditunjuk Obama? Dengan kata lain individual yang merespon terhadap kepentingan rakyat di penjuru Amerika. Tidak ada pimpinan buruh atau komunitas dalam daftar posisi kunci Obama.
Sang Presiden-terpilih menunjuk para arsitek deregulasi finansial.
Reformasi finansial yang berarti tak dapat diadopsi oleh pejabat yang ditunjuk oleh Wall Street dan yang bertindak atas nama Wall Street.
Mereka yang menyebabkan kebakaran sistem finansial pada 1999 telah dipanggil kembali untuk memadamkan api. "Solusi" yang diusulkan terhadap krisis di bawah "bailout" adalah penyebab keruntuhan ekonomi lebih jauh.
Tidak ada solusi kebijakan yang terlihat.
Konglomerat perbankan lah yang memegang kendali. Mereka menentukan komposisi Kabinet Obama. Mereka juga menentukan agenda KTT Finansial Washington (15 November 2008) yang dipersiapkan untuk membuka lahan bagi pembangunan "arsitektur finansial global" yang baru.
Cetak-biru Wall Street telah lebih dulu didiskusikan di balik pintu tertutup: agenda tersembunyinya adalah membangun sistem moneter internasional yang unipolar, didominasi oleh kekuasaan finansial AS, yang kemudian akan dilindungi dan diamankan oleh superioritas militer AS.
Neoliberalisme dengan "Wajah Manusia"
Tidak terdapat indikasi bahwa Obama akan memutus hubungan dengan para sponsor Wall Street-nya, yang sebagian besar mendanai kampanye pemilihannya.
Goldman Sachs, J. P. Morgan Chase, Citigroup, Bill Gates dari Microsoft merupakan kontributor kampanyenya yang utama.
Warren Buffett, salah satu individual terkaya di dunia, tidak hanya mendukung kampanye pemilu Barack Obama, ia pun juga anggota tim transisinya, yang memainkan peran kunci dalam menentukan komposisi kabinet Obama.
Kecuali terjadi perubahan drastis dalam sistem penunjukan politik atau posisi kunci, sangat kecil kemungkinan bahwa agenda ekonomi alternatif Obama akan diarahkan untuk memberantas kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Yang kita saksikan adalah kontinuitas.
Obama memberikan "wajah manusia" kepada status quo. Wajah manusia ini berfungsi mengelabui rakyat Amerika tentang sifat proses ekonomi dan politik yang ada.
Substansi dari reformasi ini termasuk "bailout" bagi institusi finansial terbesar di Amerika pada akhirnya akan menghancurkan ekonomi riil, sambil melempar seluruh area ekonomi manufaktur dan jasa ke dalam kebangkrutan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diterbitkan pada 9 November 2008 oleh globalresearch.ca
Diterjemahkan oleh NEFOS.org



Kamis, 14 Februari 2013

Cara menguji validitas dan reliabilitas dengan SPSS



                Salah satu jawaban untuk permasalahan menghitung validitas dan reliabilitas secara cepat dan mudah adalah dengan menggunakan software aplikasi statistik. Saat ini, di pasaran beredar aneka macam software aplikasi yang sering digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah perhitungan statistik. Beberapa diantaranya adalahSPSS, S-Plus,  MiniTab, SAS dan MS Excel pun bisa.
                Secara khusus, saya akan berbagi dengan Anda bagaimana cara cepat dan mudah menghitung validitas – reliabilitas menggunakan salah satu software statistik. Saya akan menggunakan software SPSS (Statistical Package and Service Solution) versi 15.
Adapun langkah operasional yang dapat Anda lakukan untuk menghitung validitas-reliabilitas adalah :
1.       Buka data instrumen (format excel) dan program SPSS.
2.       Copy- kan semua data jawaban responden termasuk jumlah skor setiap responden.
3.       Paste-kan data di no. 2 pada program SPSS
4.       Lakukan proses penghitungan validitas dengan SPSS sebagai berikut ;
·         Pilih menu Analyze –> Correlate –> Bivariate
·         Blok semua item instrumen dan jumlah skor yang ada disebelah kiri kotak data dan pindahkan    ke sebelah kanan kotak dengan cara meng-klik tombol segitiga yang ada di tengah kedua kotak.
·         Pastikan pilihan coefficient correlation adalah pearson, lalu klik tombol OK.
·         Lihat hasil yang muncul di jendela SPSS output viewer.
5.       Lakukan proses penghitungan reliabilitas dengan SPSS sebagai berikut ;
·         Pilih menu Analyze –> Scare –> Reliability Analysis
·         Blok semua item instrumen saja yang ada disebelah kiri kotak data dan pindahkan ke sebelah kanan kotak dengan cara meng-klik tombol segitiga yang ada di tengah kedua kotak.
·         Pilih metode alpha sebagai model perhitungan yang kita gunakan, lalu klik tombol OK. 
·         Lihat hasil yang muncul di jendela SPSS output viewer
6.       Tafsirkan hasil perhitungan validitas – reliabilitas sebagai berikut ; 
·         Kriteria validitas 
                Kriteria validitas dapat Anda tentukan dengan melihat nilai pearson correlation dan Sig. (2-tailed). Jika Nilaipearson correlation > nilai pembanding berupa r-kritis, maka item tersebut valid. Atau jika nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 berarti item tersebut valid dan berlaku sebaliknya. r-kritis bisa menggunakan tabel r atau dengan uji -t. 
·         Kriteria reliabilitas 
                Nilai reliabilitas diperoleh dengan melihat pada kotak output perhitungan. Nilai alpha yang dihasilkan tinggal ditafsirkan sesuai dengan kriteria pembanding yang Anda gunakan. Sebagai tafsiran umum, jika nilai reliabilitas > 0,6 dapat dikatakan bahwa instrumen yang kita gunakan sudah reliabel.
Demikianlah cara cepat dan mudah menghitung serta menafsirkan validitas dan reliabilitas dengan menggunakan software SPSS. 

Jumat, 25 Januari 2013

Adanya Sebagian Orang Muslim Yang Masuk Surga tanpa Hisab


Ibn Abbas r.a. berkata:      Pada suatu hari Nabi s.a.w. keluar pada kami dan bersabda:  “Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat semuanya,  ada seorang Nabi yang bersama satu orang, ada yang bersama dua orang, dan ada yang bersama rombongan tujuh orang, ada juga seorang Nabi yang sendirian tidak ada pengikutnya, lalu aku melihat rombongan besar yang telah menutup udara, maka aku mengharap semoga mereka umatku, tiba-tiba  diberitahu bahwa mereka Musa dan kaumnya, kemudian dikatakan kepadaku : ” Lihatlah“, maka aku  melihat rombongan yang lebih banyak bahkan telah menutupi ufuk, lalu disuruh melihat ke kanan dan ke kiri, maka aku melihat rombongan yang amat banyak telah memenuhi udara, lalu diterangkan bahwa mereka umatku, dan disamping mereka ada lagi tujuh puluh ribu yang akan masuk surga tanpa hisab.”
Lalu ditinggalkan oleh Nabi dan tidak diterangkan kepada kami sehingga orang-orang berbeda paham. Maka para sahabat berpendapat: Kami lahir dalam syirik, tetapi kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi kemungkinan anak-anak kami. Dan tanggapan itu sampai kepada Nabi saw.
Maka Nabi saw. bersabda : Mereka yang tidak mencari nasib dengan burung, tidak berjampi, tidak ber kei (kei = membakar besi lalu ditusukkan ke tempat yang sakit), dan tetap bertawakal kepada Tuhan.  Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan dan bertanya: Apakah aku termasuk mereka ya Rasulullah?  Jawab Nabi saw.: Ya.  Lalu berdiri orang yang  lain dan bertanya: apakah aku dari golongan mereka?  Jawab Nabi saw.:  Engkau telah didahului oleh Ukasyah.  (Bukhari, Muslim).

Tulang dan Kotoran Hewan Sebagai Makanan Jin

diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa suatu ketika Nabi Saw membawa sebelanga air untuk berwhudu dan berhajat. (ketika ia [Abu Hurairah] mengikutinya, Nabi Saw bersabda, "siapa ini?" ia berkata, "aku, Abu Hurairah". Nabi Saw bersabda, "bawakan aku batu, jangan tulang atau kotoran hewan". Abu Hurairah selanjutnya berkata; maka dengan ujung bajuku aku membawakan sejumlah batu dan setelah itu pergi menjauh. setelah selesai, aku berjalan bersamanya dan berkata, "mengapa (kau melarangku membawa) tulang atau kotoran binatang?" Nabi Saw bersabda, "itu makanan jin".

sumber: http://hadits-albukhari.blogspot.com/

Amalan yang dicintai ALLAH Swt

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra : Rasulullah Saw pernah bersabda, “perbuatan yang engkau lakukan tidak akan menyelamatkan engkau dari api neraka”, mereka berkata, “bahkan engkau sendiri ya Rasulullah?” Nabi Muhammad Saw bersabda, “bahkan aku sendiri, kecuali Allah melindungiku dengan kasih dan rahmatNya. Oleh karena itu lakukanlah perbuatan baik sepatut mungkin, setulus mungkin, sedapat mungkin dan beribadahlah kepada Allah pada pagi dan sore hari, pada sebagian dari malam hari dan bersikaplah al-qashd (mengambil pertengahan dan melaksanakannnya secara tetap) karena dengan cara itulah kamu akan mencapai (surga)”.


Diriwayatkan dari Aisyah ra : seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “apakah amal (ibadah) yang paling dicintai Allah?” Nabi Muhammad Saw bersabda,” amal (ibadah) yang dilakukan secara tetap meskipun sedikit”

sumber: http://hadits-albukhari.blogspot.com/

Rabu, 23 Januari 2013

Desaku Dahulu, Kini Dan Nanti


 Dari Dahulu hingga sekarang kehidupan di desaku tidak banyak berubah begitu tenang dan menyenangkan, orang disekeliling begitu ramah, bertegur sapa dan sebagainya apa lagi ada orang yang belajar di luar daerah seperti saya, maka ketika pulang sebagian yang saya jumapin di jalan bertanya “kapan nyampekny? Lama libur?gimana keadaan disana?” dll, yah saya hanya bisa tersenyum dan menjawab pertanyaan mereka dengan senyuman ramah. Kehidupan pagi dimulai dengan kicauan burung yag sangat membuat hati tenteram, anak-anak pun mulai bersiap pergi ke sekolah, para orang yang bekerja di kantor juga akan bersiap2. 
                                            saat matahari mulai menampakkan dirinya dari arah timur

Bagi orang yang memiliki lahan baik sawah maupun ladang, setelah selesai sarapan pagi mereka berangkat dengan membawa peralatan “tempur” seperti parang, pisau, cangkul, rembas dan sebagainya. Pada siang hari keadaan desa agak sepi, karena sebagian besar masyarakatnya masih bekerja dan ada juga yang sebagian yang  sudah pulang dari tempat bekerja.

                                        pondok sederhana di antara sawah dan kebun keluarga saya

            Setiap sore maupun selesai maghrib anak2 pergi mengaji ke mesjid yang berada di tengah desa kami Lingkungan yang mengagumkan, indah, hamparan sawah dimana-mana, kolam ikan, kebun tradisional yang berisi beragam buah2an mulai dari langsat, manggis, durian, mangga, rambutan, kuini, rambe, dan buah kayu yang masih banyak lagi. Ketika datang musimnya mulailah kebun itu penuh dengan warga baik siang maupun malam terutama anak2 dan remaja. Bagi yang sudah remaja diperbolehkan oleh orang tua untuk menjaga durian, selain udah lumanyan besar lokasi kebun pun tidak jauh dari desa, kira2 berjalan kaki sekitar 10 menit melewati pematang sawah heheheh JJ..

                                         hamaparan padi yang masih hijau


                                                   kolam ikan air tawar  
  Indahnya hidup di desa adalah masih tingginya rasa sosial sesama masyarakat, seringnya sesama masyarakat berinteraksi menyebabkan seluruh warga yang ada di kampung kita kenal, mulai dari anak baru lahir sampai denga lansia, selain itu di desa tidak semua di ukur dengan uang seperti yang kita alami di perkotaan dimana orang hampir tidak kenal dengan tetangga sendiri, semua di ukur dengan uang hingga untuk melaksanakan suatu acara pun kita harus menyewa orang untuk membantu kita. Jika ada suatu warga yang akan mengadakan suatu acara pesta maupun hajatan, maka pemuda – pemudi kampung akan di kumpulkan untuk diberikan pengarahan dan di berikan tugas masing- masing maupun berkelompok yang iasa di sebut dalam bahasa alas yaitu “titah pekhintah”. Dalam mengadakan “titah pekhintah” tersebut, tuan rumah menyediakan makanan dan minuman ala kadarnya serta rokok bagi yang merokok. Dan pada hari “H” nya maka para pemuda dan pemuda sudah tahu tugas dan pekerjaan masing-masing sehingga acara dapat di jalankan dengan lancar. JJ

            Begitu juga dengan acara lainnya seperti ketika seseorang ingin mendirikan rumah, undangannya hanya disampaikan melalui mulut ke mulut, dan ketika waktu yang di tentukan maka beberapa remaja dan orang tua sudah berkumpul di tempat pendirian rumah tersebut. Yah namanya juga tinggal di kampung, mudah untuk mendatangkan orang untuk membantu kita, ketika sampai kita disajikan makanan dan minuman tradisional yang sangat sederhana berupa “puket buban” (pulut yang diberi kelapa di atas) dan kopi. Dan sudah saatnya kita untuk mendirikan tiang rumah secara bersama-sama sambil mengumandangkan shalawat dimaksudkan agar tuan rumah dan penghuni rumah lainnya di berikan rezki dan berkah yang melimpah. Selesaikan mendirikan rumah, maka saudah saatnya kita menikmati makanan yang dari tadi sudah disajikan tuan rumah, berupa daun ubi, jipang dan labu yang di rebus, sambal terasi, ikan baakar dari hasil kolam sendiri dan sebagainya. Ketika duduk bersama2 dan menikmatinya secara bersama- sama dan diiringi canda sesama sungguh terasa nikmat walaupun begitu sederhana. JJJ
             
            Bagaimana dengan desa saya nanti???? Tentu saja Saya sangat sangat dan sangat berharap budaya ramah tamah ini tidak akan berubah dengan perkembangan zaman modern seperti yang terjadi dikota-kota besar. J J J J        

Minggu, 06 Januari 2013

Negeri Sentosa Tak Tersorot Kamera


 Indonesia ternyata tidak kekurangan pemimpin berkualitas. Saat mata banyak tertuju ke Jokowi di Jakarta dengan gebrakannya, di daerah-daerah kita sebenarnya punya banyak inspirasi lain. Salah satunya dari Sinjai, sebuah kabupaten kecil di Sulawesi Selatan. Kepemimpinan yang kuat mampu membuat daerah ini berkembang. Jokowi dijamin minder atas apa yang diperbuat bupatinya. Cerita perjalanan ini akan menjelaskan sedikit tentang wilayah tersebut.


            Sebelum masuk Sinjai, saya ditantang taruhan oleh Mail, supir rental yang menemani saya dari Makassar. “Abang boleh cari jalan jelek di Sinjai, bahkan di kampung-kampung sekali pun. Atau coba cari pengendara motor yang keluar rumah tanpa helm, walau cuma ke warung terdekat. Kalau Abang ketemu, boleh potong honor saya setengah” tantangnya.
            Awalnya saya anggap itu angin lalu saja, namun Mail semangat sekali berpromosi. Di sepanjang perjalanan dia bercerita perkembangan Sinjai di bawah kepemimpinan Rudiyanto Asapa, Bupati dua periode yang saat ini juga maju sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan.
            Masuk Sinjai menjelang maghrib, saya menginap di Hotel Sahid Sinjai, sebelah kediaman resmi Bupati.  Target pertama saya adalah menikmati satu-satunya kehidupan malam di Sinjai. Kehidupan malam yang sangat sehat. Sebuah perputaran ekonomi yang mensejahterakan nelayan maupun warga secara keseluruhan, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sinjai.


            Pusat pelelangan ikan Sinjai mulai ramai sekitar pukul 19.30. Ratusan kapal penangkap ikan parkir dan berbaris rapi di pinggir pelelangan. Parkir dengan retribusi resmi yang menguntungkan daerah.  Nelayannya bukan hanya dari Sinjai, nelayan dari Bantaeng, Bulukumba, bahkan dari Makassar lebih suka parkir dan menurunkan ikan di pusat pelelangan ikan ini. Sebab manajemennya transparan dan rapi. Taka ada tengkulak yang memonopoli harga.
            Ikan diturunkan dan langsung disambut oleh para pedagang. Masyarakat lalu-lalang bertransaksi  baik membeli ikan partai besar maupun eceran untuk kebutuhan  sehari-hari. Ini pasar yang hampir sempurna, tidak ada cukong atau tengkulak yang bisa mengintervensi harga ikan. Nelayan, penjual, dan pembeli sama-sama diuntungkan. Jika ikan tidak habis, dinaikkan lagi ke peti pendingin yang ada di kapal untuk dijual lagi pada malam berikutnya.
            Dengan uang lima puluh ribu, anda bukan hanya dapat 3-4 ekor ikan, tapi seperti meraup tauge. Bagi yang ingin segera menikmati ikan segar, di pintu masuk pelelangan terdapat banyak warung yang menyediakan pembakaran ikan. Inilah satu-satunya kehidupan malam di Sinjai.
            Pulang dari pelelangan saya mampir di sebuah toko serba ada untuk membeli perlengkapan mandi dan sikat gigi. Jangan harap anda akan menemukan waralaba semacam Alfamart atau Indomaret di tempat ini. Bupati Sinjai, hanya mengijinkan waralaba masuk ke daerahnya jika bersedia menampung produk industry rumahan warga dengan kuota tertentu. Satu hal yang sepertinya berat dipenuhi oleh perusahaan waralaba. Namun bagi sang kepala daerah, itu bentuk perlindungan terhadap sektor ekonomi kerakyatan agar tidak digilas pasar-pasar modern.
            Keesokan pagi saya bersiap-siap berkeliling ke pelosok Sinjai. melihat langsung hasil kepemimpinan Rudiyanto Asapa yang disanjung-sanjung warga Sinjai tersebut.
            Saya mulai dengan menikmati pemukiman di pusat kota. Jalan-jalan yang mulus, rapi, serta pohon rindang terbentang di sepanjang jalan. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke Sinjai Utara. Lagi-lagi Mail mengingatkan saya soal tantangannya. “Nanti coba cari jalan jelek ya bang,” tantangnya sembari senyum-senyum.
            Saya tidak tertarik mencari jalan jelek tetapi sibuk memperhatikan motor-motor yang berseliweran. Penampilan motor-motor dan pengendaranya rata-rata sama, konservatif.  Hampir tidak ada modifikasi. Motor harus dengan dua spion pabrikan, tanpa knalpot yang bikin berisik, serta pengedara yang lengkap dengan helm standar SNI. Konon tak ada kawasan khusus tertib lalu lintas di sini. Seluruh jalan adalah kawasan tertib lalu lintas. Sebab, polisi bisa melakukan tilang di jalan-jalan kampung sekalipun. Nama Kasatlantas Sinjai, H. Eddy, adalah nama terpopuler kedua setelah sang Bupati.
            Saya berhenti di Bukit Gojeng. Ini awalnya adalah tempat makam purbakala. Namun fosil-fosilnya sudah dipindahkan ke dalam museum. Lokasi situs purbakala ini sendiri diubah menjadi taman kota yang sangat asri dan indah. Sekelas dengan resort-resort super mahal di pulau jawa. Ini merupakan ruang publik tempat muda-mudi menghabiskan waktu, terutama di akhir pekan. Dan yang bikin saya kaget, petugas penjaga taman ini memberitahu saya, password free wifi yang bisa dinikmati di Bukit Gojeng. Masukkan saja password digojengku, anda bisa berselancar di internet sambil menikmati nuansa resort berkelas yang sangat asri.



            Dari Bukit gojeng, saya menuju dataran rendah. Ada deretan pulau-pulau yang menarik perhatian saya ketika  melayangkan pandangan dari puncak bukit gojeng. Menurut warga setempat, namanya Pulau Sembilan. Ada sembilan pulau yang terpisah dari daratan utama Kabupaten Sinjai.
            Saya menuju pelabuhan untuk mendapatkan speed ke Pulau Sembilan. Tidak ada tujuan khusus, hanya ingin tahu kondisi pulau-pulau yang terpisah dari daratan utama. Saya menuju pulau yang paling ramai, dan juga merupakan Pusat kecamatan Pulau Sembilan, namaya Pulau Kambuno.

            Pulau ini dihuni oleh para nelayan. Tapi jangan bayangkan sebuah kampung nelayan yang berantakan dan kumuh. Ini jauh di luar perkiraan. Yang terlihat justru sebuah pemukiman yang sangat rapi dan bersih. Rumah-rumah panggung berjejer rapi dan gang-gang yang bersih. Hampir tidak ada rumah yang jelek, begitu juga perahu-perahu mereka yang bersandar di pinggir pulau. Persis di tengah-tengah pulau terdapat sebuah ruang publik berupa lapangan yang multifungsi. Jika diptret dari udara, akan mirip seperti stadion di tengah pulau, dikelilingi oleh rumah-rumah panggung dan tebing. Ini contoh kearifan lokal yang tidak tunduk pada keserakahan.

            Dulu pulau ini gelap gulita. Tidak ada listrik. Namun setelah dipimpin oleh Rudiyanto Asapa, Kambuno sudah dialiri listrik. Mekipun masih terbatas pada malam hari, namun membuat kemajuan dalam banyak hal, terutama pendidikan. Anak-anak bisa melajar dengan baik. Kehidupan pulau juga lebih semarak, dan sebagian di antara mereka justru bisa berselancar di internet. Ternyata pulau ini juga tersedia fasilitas Free Wifi yang dipancarkan dari kantor kecamatan.
            Saya telusuri semua sisi pulau. Wajah-wajah cerah penghuni pulau, terutama anak-anak menghiasi setiap langkah saya menyisir pulau. Seorang anak mengajak saya melihat bangunan SMP tempat dia bersekolah. Tempatnya ada di puncak tertinggi pulau kambuno. Katanya pemandangannya sangat indah dan tak akan bisa dilupakan. Ah, saya pikir itu hanya hiperbola saja.

            Saya susuri jalan  setapak menanjak yang sudah dibeton. Di kiri kanan terdapat hamparan hutan kaktus seperti di gurun pasir. Sungguh nuansa yang sangat berbeda ketika sadar bahwa ini masih di pulau tropis. Di tengah-tengah hutan kaktus, terdapat sebuah balai nikah, di puncak tebing dan menghadap ke laut. Sejenak saya layangkan pandangan. Mulut ternganga dan takjub. Hamparan laut bening dengan warna kehijauan membentang di hadapan mata. Bisa dibayangkan betapa romantisnya jika pernikahan digelar di balai nikah ini. Besarnya tidak seberapa, tapi pemandangannya akan membuat moment pernikahan sebagai kenangan yang sangat berkesan.
            Tidak jauh dari Balai Nikah itu, berdiri megah sebuah SMP negeri. Klaim anak kecil tadi ternyata bukan hiperbola. Pemandangan dari ruang guru maupun ruang belajar SMP ini setara dengan resort-resort mewah di Bali. Pantai pasir yang sempit, pohon kelapa yang tidak terlalu banyak, dan hamparan laut bening berwarna kehijauan. Saya tidak tahu apakah pemandangan ini akan membuat semangat belajar bertambah atau malah membuat ngantuk.

            Namun, memang harus diakui bahwa 100 persen anak-anak di sinjai sudah menempuh pendidikan dari SD sampai SMA, dan itu gratis, baik di sekolah negeri mapun swasta. Bupati Sinjai Rudiyanto Asapa sudah menerapkan kebijakan ini sejak tahun 2003. Kalau mau jujur, mungkin dia pelopor pendidikan gratis di Indonesia. Seorang Bupati yang pernah dilaporkan warganya ke polisi sebagai penculik anak, karena membawa anak-anak yang bekerja di sawah ke sekolah meski mereka tak punya seragam.  Hanya sayang, tidak ada kamera wartawan Jakarta yang mampir di sini.
            Menjelang sore saya kembali ke daratan Sinjai. Bersiap-siap kembali ke Makassar. Rasa tidak puas memenuhi dada. Sebab, selalu ada kejutan di setiap pelosok Sinjai. Dan itu inspirasi untuk membuat Indonesia lebih baik. Tapi sayang, pekerjaan terlalu banyak menumpuk di Makassar dan Jakarta. Suatu saat, saya pasti kembali menyusuri sisi lain daerah ini.
            Sinjai memang bukan daerah ternama. Bahkan jarang ditulis media. Namun bagi yang hadir dan menikmati langsung akan segera paham bahwa ini seperti sebuah negeri yang diperintah raja bijak. Kebijaksanaan yang melahirkan ketenangan dan kesejahteraan bagi warganya.

Cara Mendapatkan EViews 11 Demo Version

 Oleh: Jul Fahmi Salim Assalmkum wrwb.. Selamat Pagi, Siang, Malam teman-teman sekalian, jika dipostingan sebelumnya sydah ada cara mendapat...