Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2020

Motif Sikhat Alas dan Piso Mekhemu (Adat Alas)

Oleh: Jul Fahmi Salim

Berawal dari masih sangat sedikitnya dan kurang dikenalnya ada Alas, tergerak hati untuk mencoba membuat sendri motif mesikhat dan piso mekhemu yang merupakan warisan budaya suku Alas. Masih jauh dari sempurna, namun semoga berguna bagi yang memerlukan. 



Motif Mesikhat Alas
 Sumber ; Klik disini







Piso Mekhemu
 Sumber ; Klik disini

Kedua gambar di atas sudah dalam format .png , jadi ketika akan di tempel ke file photoshop, Adob Ilustrator, Corel Draw dsb tidak terdapat background puth di belakang.

Semoga Bermanfaat

Sabtu, 06 Januari 2018

Suku Alas

Suku Alas

Sosial Budaya Suku Alas

Suku Alas adalah salah satu suku yang mendiami Tanah Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Arti kata “alas” dalam bahasa Alas berarti “tikar”. Ini berkaitan dengan tempat daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah sungai Alas.

Desa orang Alas disebut kute yang biasanya dalam suatu kute didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Mereka menarik garis keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge lain.

Sejarah

Ukhang Alas atau biasa disebut juga khang Alas atau Kalak Alas telah lama bermukim di lembah Alas, hal ini dibuktikan jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indonesia. Keadaan penduduk lembah Alas telah tercatat dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang bangsa Belanda bernama Radermacher (1781:8), bila dilihat dari catatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Alas, pada tahun 1325 (Effendy, 1960:26) maka jelas penduduk ini sudah ada walaupun masih bersifat nomaden dengan menganut kepercayaan animisme.

Nama Alas diperuntukan bagi seorang atau kelompok etnis, sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Menurut Kreemer (1922:64) kata “Alas” berasal dari nama seorang kepala etnis (cucu dari Raja Lambing) keturunan Raja Pandiangan di Tanah Batak. Beliau bermukim di desa paling tua di Tanoh Alas yaitu Desa Batu Mbulan.

Menurut Iwabuchi (1994:10) Raja yang pertama kali bermukim di Tanoh Alas adalah terdapat di Desa Batumbulan yang dikenal dengan nama RAJA LAMBING, keturunan dari Raja Pandiangan di Tanah Batak. Raja Lambing adalah moyang dari merga Sebayang di Tanah Karo dan Selian di Tanah Alas. Raja Lambing merupakan anak yang paling bungsu dari tiga bersaudara yaitu abangnya tertua adalah Raja Patuha di Dairi, dan nomor dua adalah Raja Enggang yang hijrah ke Kluet Aceh Selatan, keturunan dan pengikutnya adalah merga Pinem atau Pinim.

Mata pencaharian

Mata pencaharian suku Alas adalah pertanian dan peternakan. Pertanian dapat berupa menanam padi, karet, kopi,dan kemiri, serta mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan untuk peternakan mereka memelihara kuda, kambing, kerbau, dan sapi.

Agama

Suku Alas menganut ajaran agama Islam. Tetapi masih ada juga yang mempercayai praktik perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian.

Bahasa

Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Alas (Cekhok Alas) Bahasa ini merupakan rumpun bahasa dari Austronesia suku Kluet di kabupaten Aceh Selatan juga menggunakan Bahasa yang hampir sama dengan bahasa suku Alas.

Tolong Menolong Masyarakat Alas

Penelitian yang dilakukan oleh Muliadi Imami (2013) dalam desertasinya yang berjudul Perilaku altruisme di Aceh Tenggara, ia menemukan beberpa ciri khas budaya menolong masyarakat Alas, yaitu:

Bidang Sosial Ekonomi

Jika seorang dari suku Alas baru berumah tangga, secara adat akan dibantu orang tua dari pihak lelaki dan orang tua di pihak perempuan. Budaya bantuan untuk pengantin tersebut dikenal sebagai berikut:

Jawè, artinya pisah rumah. Pengantin yang dianggap telah cukup masa tinggal di rumah ibu bapanya (orang tua pengantin lelaki) harus membentuk rumahtangga yang baik dengan tinggal di rumah lain. Sebagai modal awal, ibu bapanya akan memberikan modal usaha dan beberapa peralatan yang diperlukan.
Pesula’i, bermaksud memberikan ‘hadiah’ sebagai cikal bakal dalam memulai kehidupan yang baru. Pesula’i adalah pemberian dari orang tua pengantin perempuan kepada anaknya dengan maksud membantunya dalam menempuh hidup baru. Barang-barang yang biasanya diberikan adalah perhiasan dari emas dan alat-alat rumah tangga yang diperlukan.
Bidang Pertanian

Pada bidang pertanian ada beberapa istilah tolong menolong yang dilakukan.

Budaya Peleng Akhi, Budaya ini mempunyai arti ‘bergiliran’. Maksudnya, bekerja sama dalam melakukan pekerjaan di bidang pertanian dengan cara bergiliran. Orang yang telah dibantu pekerjaannya oleh orang lain diwajibkan untuk menggantinya dengan bekerja di lahan pertanian orang tersebut di lain waktu.
Nempuhi, Artinya membantu orang lain dalam hal bertani tanpa mengharapkan ganjaran dari pekerjaan itu. Budaya ini biasanya dilakukan kepada orang yang dihormati seperti guru atau pemimpin kampung, serta orang yang mempunyai kelemahan secara fisik. Sebaliknya, bila yang dibantu itu guru atau pemimpin, mereka mempunyai kesadaran untuk menyediakan makanan dan minuman kepada para pekerja tersebut sebagai bentuk penghargaan dan terimakasih.

Acara Adat Istiadat

Upacara adat istiadat yang ada dalam masyarakat suku Alas adalah ‘Turun Mandi’, ‘Sunat Khitan’, ‘Perkawinan’, dan ‘Kematian’. Pada setiap kegiatan ini dikenal beberapa budaya tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakat sesuai dengan posisinya dalam struktur kekerabatan. Ada tiga struktur kekerabatan dalam suku Alas yaitu Wali, Sukut/Senine, dan Pebekhunen/Malu. Adapun bentuk tolong-menolong yang dilakukan adalah: 
Pemamanen, yaitu panggilan yang diberikan kepada rombongan yang datang dari pihak Wali yaitu ayah dan saudara lelaki dari perempuan (Malu) yang mempunyai hajatan. Pada setiap acara adat Alas, pemamanen mempunyai peran penting karena mereka adalah tamu yang dimuliakan. Dalam setiap kegiatan mereka akan membawa bantuan kepada tuan rumah dan biasanya bantuan ini dalam bentuk materi atau sejumlah uang. Semakin tinggi nilai bantuan maka semakin tinggi pula prestige yang mereka dapatkan. Begitupula tuan rumah merasa lebih dihormati dan dimuliakan. Slogan yang menjadi failosofi budaya ini adalah Besar wali karena malu, besar malu karena wali.
Tempuh, artinya bantuan yang diberikan oleh saudara dekat atau diistilahkan dengan kelompok sukut artinya orang yang punya kerja (saudara kandung atau masih mempunyai pertalian darah dan marga). Bantuan ini terkadang ditentukan dalam musyawarah keluarga, namun terkadang juga tidak ditentukan, sehingga pemberian didasarkan oleh kesadaran masing-masing yang disesuaikan dengan kemampuannya, serta bergantung pula pada jauh dekatnya pertalian kekerabatan yang dimiliki.
Nempuhi Wali artinya membantu wali, bantuan ini diberikan oleh Malu yaitu anak perempuan atau saudara perempuan yang sudah kawin dan pebekhunen yaitu suaminya kepada pihak wali yang mempunyai hajatan/acara adat. Dalam setiap kegiatan bantuan yang mereka berikan adalah dalam bentuk tenaga, misalnya bertanggung jawab di dapur dalam menyiapkan hidangan dan membereskannya. Sebenarnya Nempuhi Wali ini merupakan kewajiban yang ditetapkan dalam budaya suku Alas tidak hanya pada kegiatan yang menyangkut adat-istiadat, tetapi juga pada kegiatan lainnya dalam kehidupan sehari-hari seperti membantu di sawah dan lain-lain.

Marga

Menurut buku Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas, Dr Thalib Akbar MSC (2004) adapun marga–marga etnis Alas yaitu : Bangko, Deski, Keling, Kepale Dese, Keruas, Pagan, dan Selian kemudian hadir lagi marga Acih, Beruh, Gale, Kekaro, Mahe, Menalu, Mencawan, Munthe, Pase, Pelis, Pinim, Ramin, Ramud, Sambo, Sekedang, Sugihen, Sepayung, Sebayang dan marga Teriga

Seni Tari

Tari Mesekat.
Pelabat.
Landok Alun.
Tangis Dilo.
Canang Situ.
Canang Buluh.
Genggong.
Oloi-olio.
Keketuk layakh.

Kerajinan

Nemet (mengayam daun rumbia).
Mbayu amak (tikar pandan).
Bordir pakaian adat.
Pande besi (pisau bekhemu).

Makanan Tradisonal
Manuk labakh.
Ikan labakh.
Puket Megaukh.
Lepat bekhas.
Gelame.
Puket Megaluh.
Buah Khum-khum.
Ikan pacik kule.
Telukh Mandi.
Puket mekuah.
Tumpi.
Godekhr.
Puket sekuning.
Cimpe.
Getuk.

Sumber : http://indonesia.go.id/?p=8528

Jumat, 26 Juni 2015

Sejarah Perjuangan Aceh Tenggara : Pertempuran di Benteng Kuta Reh

Assalamualaikum wr wb...

Selamat Pagiii...

Semoga sehat selalu dan lancar dalam menjalankan ibadah Puasa...

Copas Cerita Sejarah kampung halaman tercinta dari AcehCyber.net




Sehari sebelum penyerangan G.C.E Van Daalen ke Benteng Kuta Reh sekitar pukul 18.00 WID tertanggal 13 juni 1904 dibivaknya Lawe Sagu. G.C.E Van Daalen mengumpulkan seluruh opsir-opsir dan pasukanya, untuk memberikan pengaturan dan perintah mengatakan pada tanggal 14 juni 1904 ditetapkan sebagai penyerangan terhadap Benteng Kuta Reh.

Hal serupa ini lazim dilakukanya apabila hendak melakukan suatu penyerangan terhadap benteng-benteng yang dianggapnya kuat dan berbahaya.

Pengaturan penyusunan kekuatan untuk penyerangan Benteng Kuta Reh ini menurut J.C.J Kempees dalam bukunya “ de Tocht van Overste van Daalen Door de Gajo Loeos Alas en Bataklanden “ terbagi dalam tiga bagian :


Van Daalen
Pertama, 11 Brigade Mareshausse ( siap tempur ). Kedua, Pasukan Infantri dan orang-orang hukuman (peralatan, peluru). Dan yang ketiga, Pasukan Infantri serta orang-orang hukuman (alat-alat perlengkpan) dan regu kesehatan.


Dan didalam pasukan ini terdapat pula empat Brigade bekas koloni Pendeng yang di datangkan dari Kuala Simpang dibawah pimpinan Kapten de Graaf dibantu oleh Letnan Lasander.

Empat Brigade dibawah Pimpinan Kapten Sceepens, dibantu oleh Letnan Christoffel merupakan pasukan penyerang dari bagian Selatan dan Timur dari Benteng Kuta Reh, Tiga Brigade dibawah Pimpinan Letnan Watrin, dibantu Letnan Van Braam Morris, merupakan penyerangan dari bagian Barat dan Utara, dan Brigade dibawah Pimpinan Letnan Winter merupakan pasukan cadangan sedangkan pasukan Kapten Stolk sendiri langsung menyertai Van Daalen di bagian Selatan.

Maka pada tanggal 14 Juni 1904 jam 07.15 pagi-pagi bergerak dan berangkatlah pasukan bivak Lawe Sagu menuju Benteng Kuta Reh, Pada jam 07.55 wib oleh pasukan Kapten Scheepens dan Lasander dari kejauhan telah dapat melihat keadaan Benteng Kuta Reh.

Benteng Kuta Reh didirikan tidak di Kampung, tetapi di sebuah lapangan terbuka yang luas, berdinding setinggi 2 meter, setebal 2 meter bagian atasnya cukup tebal bila berjalan dapat berpapasan dengan mudah.

Dinding cukup curam, dibagian luarnya dipagari dengan bambu-bambu setebal 4,5 meter, kemudian ditanami pula dengan bamboo berduri setebal 5meter diatas benteng dipagari pula lagi dengan bambu runcing setinggi 2 meter, dan seluruh dinding benteng diberi berlobang-lobang kecil untuk tempat menembak keluar.

Dibagian dalam sepanjang dindingnya digali lobang untuk tempat perlindungan, kemudian lobang/ parit-parit ini dalamnya terdapat pula pondok-pondok (barak) tempat perlindungan.

Setelah pasukan Van Daalen melihat secara umum keadaan dari Benteng Kuta Reh, kemudian pasukan meneruskan perjalanananya menuju Benteng ini dengan menempatkan pasukan-pasuan sebagaimana yang telah digariskan semula, dan berusaha seluruh pasukan mendekatkan diri sedekat-dekatnyanya ke arah benteng.

Pihak Benteng Kuta Reh, hasil laporan dari siasat-siasatnya terhadap rencana Van Daalen lah diketahui, sehingga penghuni kampung sejak lama telah mempersiapkan diri dan perlengkapan seperlunya untuk menantang pasukan Van Daalen.


Kala itu, dari lebih kurang 700 orang kekuatan yang berada dalam Benteng terdapat beberapa Panglima Perang yang gagah berani antara lain; Panglima Mamad anak Kejerun Bambel, Panglima Haji Djafar adik dari Raja Cik Batu, Panglima Guru Leman dan Panglima Ejem.

Panglima-panglima ini diatur pula untuk memimpin rombongan dalam Benteng antara lain Panglima Mamad dibagian Timur, Panglima Guru Leman dan Panglima Ejem di bagian Selatan, dan Panglima Haji Djafar di bagian Utara dan Barat Benteng.

Panglima Guru Leman setelah melihat pasukan penyerang Van Daalen dibawah Pimpina Kapten Scheepens maju mendekati dinding Benteng lantas memberi komando tembak serentak, melepaskan tembakan bedilnya dari selah-selah lubang dinding Benteng dengan gencar, mengakibatkan Kapten Scheepens kena tembak dilambung kirinya, maka seketika itu juga dengan serta merta Kapten Scheepens beserta seluruh pasukanya di bagian Selatan mundur porak poranda.

Melihat keadaan Kapten Scheepens dan pasukanya yang sedemikian maka Van Daalen langsung memberi perintah tepat pada pukul 08.45 wib, tembak dan serbu. Pasukan Moris maju menaiki dinding benteng dan sewaktu dia membalik kebelakang mengomandokan serang tembak, dengan tiba-tiba Pasukan Panglima Haji Djafar melemparkan lembing bercabang yang mengenai bagian belakang badannya.

Maka terjadilah pertempuran tembak menembak dengan dahsyatnya. Dalam keadaan tembak menembak itu pasukan Van Daalen dari Selatan berusaha menguasai pintu masuk Benteng.

Setelah pintu masuk ini dapat dikuasai oleh pasukan Christoffel maka seluruh pasukanya memasuki Benteng, maka terjadilah pertempuran yang dahsyat main kelewang, tombak lembing antara satu satu persatu, didalam keadaan kepanikan sedemikian maka bergelimpahan korban didalam Benteng, melihat keadaan sedemikian rupa pasukan Panglima Mamad, Panglima Guru Leman dan Panglima Ijem mengalihkan pertahananya dari arah belakang Benteng mengadakan tembakan terhadap musuh.

Dalam keadaan demikian tidak sebegitu lama, maka seluruh perlawanan dalam kubu dapat dilumpuhkan musuh sehingga pada jam 09.40 keadaan telah mereda, kecuali sekali kali oleh pasukan Guru Leman, Panglima Mamad, Panglima Ijem mengadakana tembakan dari arah belakang Benteng.

Dibawah Pimpinan Van Daalen langsung mengadakan pembersihan didalam Benteng, dan memerintahkan pasukan Infantry untuk membawa senjata senjata dan mengira korban-korban yang jatuh, bahan-bahan perlengkapan Benteng yang telah disita. Kemudian seluruh pasukan kembali ke Lawe Sagu, pada jam 15.45 seluruh pasukan Van Daalen telah berada kembali di Bivak Lawe Sagu.

Menurut catatan J.C.J Kempees korban-korban yang jatuh dalam penyernangan dalam Benteng Kuta Reh antara lain sebagai berikut,

Kerugian dipihak Benteng Kuta Reh; 
313 pria tewas, 189 wanita tewas, 59 anak-anak tewas, 20 wanita luka berat, 31 anak-anak luka berat, 63 anak anak dan wanita cedera, 75 karaben disita dan bahan bahan makanan.

Kerugian pihak Belanda:
2 marsause tewas, 3 opsir luka luka masing masing, Kapten Scephens, Letnan van bram moris, Letnan cristoffel, 1 brigade lebih marseuse luka luka, 4400 peluru ditembakan

Diantara yang tewas terdapat Kepala Kampung Kuta Reh dan Kejeruntua Batu Mbulan dan Pengulu Cik Batu Mbulan.

( Bersambung )


Sumber: http://www.atjehcyber.net/2015/06/BentengKutaReh.html#ixzz3e7YvhQ9w 
Follow: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID 

http://www.atjehcyber.net/2015/06/BentengKutaReh.html

Selasa, 24 Maret 2015

Sejarah Tanah Alas

Oleh : Jul Fahmi Salim

Assalamualaikum wr wb......
Selamat malam..

Pas Lagi Bantuin si Arie Nyari data di kantor BPS Aceh, eh nemu ni  di buku Aceh Tenggara dalam angka... cerita sejarah daerah saya tercinta ACEH TENGGARA...

Mulaaaaiiii.....

Tanah Alas meliputi bagian Tengah lembah Alas yang bagian muaranya dinamaan simpang kiri, lembah tersebut diapit oleh pegunungan leuser dan membentuk lembah yang memanjang.

Asal Usul Masyarakat Alas

Asal Usul masyarakat Alas berasal dari :
- Berasal dari Rao melalui Aceh dan membentuk Kejerun yang pertama dan bermukim di Batu bogoh, dsebut keluarga Raja Dewa.
- Berasal dari Aceh Utara dan berpindah ke pegunungan  disekitar danau laut tawar, sebagian berpindah e Gayo luas (Gumpang) dan sebagian ke lembah Alas. Penduduk tersebut membentuk Kejerun bambel dan bermukim di Desa perapat tinggi.
- Perpindahan penduudk  fak-fak (dairi) dan membentuk Kejerun pulonas dari singkil melalui sungai simpang kanan ke Kutacane dengan meggunakan perahu dan menyusuri sungai Alas ( Lawe Alas).
- Tapanuli, kabanjahe (suku karo dan fak-fak) melalui jalan setapak menuju Kutacane dan mendiami Desa Pulo Sepang.
- Dibawa dari medan oleh Belanda yang bernama Letnan de Boer, 600 orang pemikul yang trdiri dari ornag cina, melayu dan batak pada tahun 1904.
- Pengungsian yang berasal dai Tanah karo dan tapanuli pada tahun 1947-1948 saat agresi militer Belanda terjadi.
- Penduduk dari dataran tinggi Gayo.

Sistem Pemerintahan Masyarakat Alas
Sistem pemerintahan masyarakat Alas adalah sistem keRajaan (Kejerun) yaitu kekuasaan tertinggi berpusat pada Raja. Di aanah Alas terdapat dua Kejerun yaitu Kejerun Batumbulan / Bintang dan Kejerun Bambel. Setiap Kejerun dipimpin oleh Raja yang dibantu oleh Raja muda dan Raja berempat yang menjadi pemimpin (pengulu) 4 mukim dalam Kejerun.
Setiap pengulu dibantu oleh :
1. Simetue kute
2. Imam
3. Katib
4. Bilal
5. Fakir miskin
6. Petua dalam
7. Wakil pengulu
8. Pegawai memperlu sunet.

Masyarakat Alas terdiri dari belah yang merupaka kumpulan masyarakat yang didasarkan keturunan atau satu datuk maupun satu kelompok pendatang dan mempunyai satu ikatan yang kuat.
Kejerun batumbulan terdiri dari belah 
- Selian
- Desky
- Beruh
- Keling
- Sinage
- Pelis
- Bencawan
- Keruas
- Minte
- Karo
- Pinem
- Aceh
- Pase
- Bangko
- Reme
- Cebero
- Mahe
- Sekedang
- Gayo
Kejerun Bambel terdiri dari belah :
- Sekedang
- Munte
- Pinem
- Beruh
- Pagan
- Karo
- Selian
- Tarigan
- Desky
- Keling
- Pase sebayang
- Cebero
- Gayo

Hubungan masyarakat Alas dengan KeRajaan Aceh

Raja Batumbulan / Raja Bintang  

Raja Dewa berasal dari rao melalui Aceh (Pase) samapai ke aTanah Alas yang telah memeluk islam. Raja yang pada awal pemerinthannya berkedudukan di batumbulan dan kawin dengan putri selindung bulan, adik panglima saridana yang berasala bahorok. Keturuna Raja Dewa adalah Raja kemala yang telah menghadap Sultan Aceh dan mendapat pengakuan kekuasaan untuk memerintah Tanah Alas, atas pengakuan ini Sultan Aceh memberi tanda kedaulatan berupa sembilan pisau yang disebut bawar, serta dilantik sebagai Kejerun Alas dan menerima surat keputusan sarakata yang dibubuhi stempel siku.

Raja Bambel
a. Nazaruddin (datuk Rambat) berasal dari Aceh (Pase) menuju Tanah Alas dan diangkat menjadi Raja wilayah bambel oleh Raja kemala. Setelah wafat digantikan oleh Raja tunggal Alas kemudian Raja T. Bedussamad
b. Raja T. Bedussamad lahir tahun 1863 di Tanah Alas yang telah menghadap Sultan Aceh dan mendapat pengakuan kekuasaan di wilayah Tanah Alas dan dilantik sebagai Kejerun bambel. Raja T. Bedussamad membawa 100 orang ke Gayo luas untuk memerangi Belanda dan wafat pada tanggal 14 April 1904 ditembak oleh Van Daleen saat melaksanakan shalat subuh di mesjid penampaan.

Masa Penjajahan Belanda
Setelah pasukan Belanda telah menguasai seluruh wwilayah Gayo lut, Gayo linge dan Gayo luas, mereka merencankan penyerangan ke wilayah Alas. Perlawanan pertama masyarakat Alas terhadap Belanda terjadi pada 10 April 1904 dari Desa salang Alas. Setelah jatuhnya Benteng kutarih, Benteng kute likat dan Benteng lengat baru maka secara militer seluruh Tanah Alas telah dikuasai Belanda. Dalam suatu perteuan pada tanggal 28 juni 1904 Belanda mengumumkan keputusanya kepada Raja dan pengulu mengenai masa depan Tanah Alas dibawah kekuasaan Belanda.

Masa Penjajahan Jepang
Pada tanggal 27 Maret 1943 pukul 14,30 wib pasukan jepang memasuki wilayah Kutacane setelah berhasil memukul mundur pasukan Belanda hingga ke Gayo luas. Wilayah yang telah dikuasai ini dibagi menjadi 3 bagiian yaitu Gun Bambel, Gun Pulonas dan Gun Gayo Luas.

Proklamasi di Tanah Alas
Upaca pengibaran bendera merap putih serta pengumuman dan pembacaan teks proklamasi dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1945 di halaman kantor pengadilan. Upacara ini dipelopori oleh R.R. Rajat, Abdul Karim, Ginot, Gido Bangko Kabar Ginting, dll. Kemudian pada 14 Oktober 1945 diadakan rapat pembentukan KNI (komite Nasional Indoesia) wilayah Tanah Alas dan Gayo luas.

Kabupaten Aceh Tenggara
Sebelum terbentuknya kodam I / Iskandar Muda dan pembentukan Provinsi Aceh, kewedanan Tanah Alas dan Aceh Tengah termasuk dalam wilayah Sumatera Utara. Pada tahun 1957 setelah terbentuknya Provinsi Aceh terbentuk paitia aksi tuntutan rakyat Tanah Alas/ Gayo yang menolak dimasukan Tanah Alas dan Gayo luas ke Provinsi Sumatera Utara dan mengusulkan agar ibu kota kabupaten Aceh Tengah dipindahkan ke Kutacane. Namun jika pemindahan ibuk kota kabupaten tidak dimungkinkan, tim mengusulkan agar kewedanan Tanah Alas dan Gayo luas dibentuk kabupaten baru deng ibukota Kutacane.
Setelah perjuangan selama 17 tahun (1957 - 1974), pada hari kamis tanggal 4 juni 1974 kewedanan Tanah Alas dan Gayo luas resmi menjadi kabupateb Aceh tenggara berdasarkan UU No. 4 Tahun 1975 dan Letkol Syahadat menjadi Bupati pertama. Namun pada tahun 2002 kewedanan Gayo lues memisahkan diri dan membentuk kabutapen Gayo lues denga keluarnya UU No. 4 Tahun 2002 dengan ibukota Blangkejeren.

Sumber :Publikasi BPS Aceh,  Aceh Tenggara dalam Angka, 2014

Kamis, 15 Januari 2015

Kiras Bangun, Pahlawan Kebanggaan Tanah Karo

Jakarta (7/11/2014) – Bhineka Tunggal Ika, merupakan semboyan yang kuat untuk menyatukan keberagaman suku dan budaya di Indonesia. Semboyan yang bersifat plural ini ternyata sudah lebih dulu diterapkan oleh Kiras Bangun. Seorang tokoh yang berasal dari Tanah Karo, tepatnya di daerah Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tokoh kelahiran 1852 ini menggalang kekuatan lintas agama dan lintas suku di Sumatera Utara dan Aceh, untuk melawan penjajahan Belanda. 

Dalam melakukan perjuangan melawan Belanda, Kiras  Bangun melakukan kerjasama lintas etnis dan agama yang menghasilkan kurang lebih 3000 pasukan. Pasukannya terkenal dengan sebutan Pasukan Urung (Desa), disebut demikian karena pasukannya terdiri dari orang-orang  kampung di Tanah Karo dan Aceh. Pasukan Urung beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo. Kiras Bangun yang memiliki nama lain Garamata (mata merah) berasal dari keluarga yang menguasai adat Karo di Batukarang.  Kiras Bangun memiliki empat saudara kandung, seorang perempuan dan tiga orang laki-laki. 

Pada masa mudanya Kiras Bangun disekolahkan di Binjai dan menguasai bahasa Melayu serta aksara Karo. Sejak berusia muda, Kiras Bangun dikenal sebagai tokoh muda bijak dalam melakukan pembelaan terhadap hak-hak rakyat yang ingin dirampas oleh Belanda. Dalam perjalanan hidupnya, Kiras Bangun menyandang banyak jabatan yaitu Sesepuh Adat Karo, Ketua Urung (desa) Lima Senina, Penghulu Lima Senina Batu Karang, Juru Damai Perang Antar Desa dan Pemimpin Urung Tanah Karo. 

Perjuangan Kiras Bangun dimulai sejak tahun 1870 saat Belanda menduduki Sumatera Bagian Timur, tepatnya di Langkat dan sekitar Binjai. Saat itu Belanda membuka perkebunan tembakau dan karet di daerah tersebut. Pada tahun 1901, timbul niat Belanda untuk memperluas wilayah perkebunan mereka ke Tanah Karo.   Belanda yang telah mengetahui kharismatik dan kepopuleran Kiras Bangun, mencoba menjalin diplomasi dengan mengirimkan utusan dan menawarkan imbalan berupa uang, pangkat dan senjata. Namun Kiras Bangun menolak tawaran tersebut. Penolakan tersebut mencerminkan sifat Kiras Bangun yang lebih mengedepankan kepentingan rakyatnya daripada kepentingan pribadinya. 

Melalui kemampuan negosiatornya, Kiras Bangun berhasil  mengajak raja-raja di Tanah Karo untuk melakukan musyawarah. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan bahwa Belanda diijinkan untuk menjalin persahabatan dengan rakyat Karo asalkan saling menghargai dan menghormati. Selain itu, Belanda juga dilarang memasuki Tanah Karo dan ikut campur tangan dalam soal pemerintahan di Tanah Karo. Kesepakatan antara raja-raja di daerah Karo tersebut akhirnya menutup kemungkinan Belanda masuk ke Tanah Karo lewat jalur diplomasi. 

Belanda tidak kehilangan akal untuk menguasai Tanah Karo, pada tahun 1902 mengirimkan sejumlah pasukan kembali ke Tanah Karo. Kiras Bangun memberikan peringatan kepada Belanda agar segera pergi. Upaya ini ternyata tidak membuat pasukan yang dipimpin Guillaume menyerah dengan masih saja menetap di Tanah Karo hingga 3 bulan lamanya. Melihat gerak-gerik serdadu Belanda yang semakin mencurigakan, Kiras Bangun terus berusaha menghimpun kekuatan dengan beberapa Urung untuk mengusir Belanda meninggalkan Tanah Karo. Upaya pengusiran ini berhasil, sehingga menimbulkan kemarahan Belanda  dan  menyebabkan situasi semakin memanas. 

Kiras Bangun segera membangun kekuatan dengan melibatkan tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan untuk menghindari serangan Belanda yang dapat mengakibatkan kekalahan di pihaknya. Upaya lain yang dilakukanya adalah menggiatkan kembali pertemuan Urung untuk menyiapkan strategi dan rencana melawan Belanda. Hasil kesepakatan pertemuan Urung ini tercetus ide untuk membentuk pasukan dan benteng pertahanan di setiap Urung. Kiras Bangun tidak patah semangat walaupun mengetahui bahwa persenjataan mereka masih dalam jumlah terbatas dan hanya mengandalkan pedang, parang, tombak dan senapan. Dengan mengobarkan semangat juang ribuan rakyat di Tiga Jeraya dengan ikatan  “Sumpah Setia Melawan Belanda”, Kiras Bangun berhasil mempersatukan beberapa kelompok dengan latar belakang budaya dan etnis berbeda untuk mencapai tujuan bersama. Bukan hanya pemimpin yang kharismatik, namun Kiras Bangun merupakan orator yang ulung, sehingga dapat mengobarkan semangat juang dari pasukan yang di pimpinnya. 

Perjuangan Kiras Bangun melawan Belanda di mulai dari saat Belanda  melancarkan serangan  pada tahun 1904 yang menewaskan 20 orang pasukan Simbisa Urung. Penyerangan ini dilakukan Belanda di beberapa tempat, termasuk di Kabanjahe. Pasukan Kiras Bangun memberikan dua kali ultimatum, tetapi tetap tidak didengar, bahkan Belanda menambah jumlah pasukan yang lebih besar. Penyerangan Belanda terhadap pasukan Urung semakin tak terkendali. Ketidakseimbangan dalam aspek persenjataan tentu saja membuat pihak Belanda dengan cepat menguasai satu persatu benteng pertahanan Urung, termasuk menduduki Batukarang dan mengakibatkan gugurnya 30 orang dari pasukan Urung dan menyebabkan Nd. Releng br Ginting, istri Kiras Bangun menderita luka tembak. 

Setelah Batukarang berhasil dikuasai Belanda, maka pusat pertahanan berpindah ke Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal. Daerah ini terletak di perbatasan Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Pemilihan tempat ini dilakukan karena medan yang bergunung, disertai lembah yang terjal, kurang subur serta berpenduduk jarang. Banyaknya korban berjatuhan akibat penyerangan Belanda tidak membuat pasukan Kiras Bangun menyerah. Selain sumpah yang telah mengikat mereka, semangat bertempur juga berkobar dengan motto yang selalu ditanamkan Kiras Bangun untuk terus melakukan perjuangan terhadap Belanda dimanapun, dengan apa yang dimiliki. Motto tersebut berbunyi “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” yang bila diartikan berbunyi sekarang kita kalah, besok kita menang.  

Pada kondisi terdesak, Belanda menawarkan Opportinuteits Beginsiel (prinsip oportunitas atau memanfaatkan situasi) untuk Kiras Bangun berunding mengambil keputusan. Jiwa Kiras Bangun yang heroik dan selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya membuat beliau menerima penawaran Belanda walaupun dengan berat hati. Beliau mempertimbangkan perikemanusiaan dan batinnya yang terluka melihat banyak rakyatnya yang tewas menjadi korban pertempuran. Melihat sikap Kiras Bangun beserta pasukan yang berada dibawah pengaruhnya, Belanda melanggar kesepakatan dengan menghukum Garamata dalam bentuk pengasingan di kawasan ladang di Riung selama 4 tahun dan dibebaskan pada tahun 1909. Selepas ditahan, Kiras Bangun tidak berhenti melakukan perlawanan terhadap Belanda, rentang waktu 1919-1926 dengan dibantu kedua anaknya Kiras Bangun melancarkan gerakan bawah tanah hingga menimbulkan peperangan di Tanah Karo. Perang ini mengakibatkan dirinya dan kedua anaknya dibuang ke Cipinang sebagai bentuk hukuman dari Belanda. Kiras Bangun tutup usia di tanah kelahirannya di Batu Karang pada 22 Oktober 1942. 

Menurut catatan mantan Ketua Umum Yayasan Garamata, Mulia Tarigan, semangat perjuangan Kiras Bangun patut menjadi teladan. Falsafah hidup Kiras Bangun mementingkan kehidupan bersama dibandingkan dirinya sendiri. Sosok seperti Kiras Bangun dapat menjadi teladan agar bangsa Indonesia terus berkembang dalam kondisi sulit sekalipun. Pada 7 November 2005 berdasarkan SK Presiden RI No.82/TK/Tahun 2005, Kiras Bangun ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional setelah melalui serangkaian riset dari 13 ahli, diantaranya melibatkan pakar sejarah Anhar Gonggong dan Taufik Abdullah. Kisah heroiknya dapat memberikan tauladan bahwa agama dan adat istiadat yang berbeda bukanlah penghalang dan alat pemicu perpecahan, melainkan sebagai unsur pemersatu untuk bersatu membangun tekad dan tujuan demi kepentingan bersama. (*/Disarikan dari Pelbagai Sumber)
- See more at: http://www.bin.go.id/wawasan/detil/321/3/07/11/2014/bpk--bin#sthash.egbgIL3k.dpuf

Sumber : http://www.bin.go.id/wawasan/detil/321/3/07/11/2014/bpk--bin

Malahayati, Admiral Perempuan Pertama di Dunia

Jakarta, (17/9/2014)- Emansipasi sejak jaman penjajahan memang masih belum dikenal, tetapi sejarah telah menorehkan lain, ternyata angin emansipasi lambat laun berhembus menuju Bumi Nusantara. Kehebatan kaum perempuan Melayu-Nusantara telah menginspirasi perubahan peran kaum perempuan di seluruh dunia, terbukti torehan nama kapal perang KRI Malahayati yang diambil dari seorang pejuang perempuan dari Aceh sebagai admiral perempuan pertama di dunia.  Beliau juga tercatat dalam sejarah sukses menghalau Portugis dan Belanda masuk ke Aceh, sesuai catatan seorang wanita Belanda, Marie Van Zuchtelen, dalam bukunya berjudul “Vrouwlijke Admiral Malahayati” (Malahayati- Sang Admiral Wanita). 

Pahlawan wanita bernama Keumlahayati atau Malahayati mendapat kepercayaan menjadi orang nomor satu dalam memimpin pasukan militer dari kesultanan Aceh. Malahayati akrab dengan dunia angkatan laut, karena tidak terlepas dari didikan Sang Ayah yang juga seorang Laksamana, bernama Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Dalam darah Malahyati juga mengalir kuat darah seorang kakek yang juga merupakan putra Sultan Salahuddin Syah dan pernah memimpin Aceh pada 1530-1539.

Sebagai pelaut dan pejuang wanita, Malahayati pernah memimpin 2000 orang yang terdiri dari para janda yang suaminya telah tewas sebagai pahlawan di medan laga (mereka dikenal dengan sebutan pasukan Inong Balee) untuk berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada tanggal 11 September 1599. Pada pertempuran tersebut, Malahayati berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam sebuah duel di atas geladak kapal. Oleh karena itulah, Malahayati memperoleh gelar laksamana pertama di dunia. 

Malahayati hidup di masa Kerajaan (Kesultanan) Atjeh dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yang memerintah antara tahun 1589-1604 M. Malahayati pada awalnya dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana, berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai petugas Dinas Rahasia dan Intelijen Negara. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Meunasah/ Pesantren, beliau meneruskan pendidikannya ke Akademi Militer Kerajaan, “Ma’had Baitul Maqdis”, akademi militer yang dibangun dengan dukungan Sultan Selim II dari Turki Utsmaniyah. Akademi ini didukung oleh 100 dosen angkatan laut yang sengaja didatangkan dari kerajaan Turki tersebut. Disini pula dirinya bertemu jodohnya sesama kadet yang akhirnya menjadi Laksamana, namun sampai kini nama suaminya belum dapat diketahui dengan pasti. Lulus dari akademi, Malahayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam, begitu juga dengan suami yang diangkat menjadi Laksamana.

Tidak banyak catatan mengenai sejarah hidup Malahayati, namun terdapat sumber catatan dari seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis pernah mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksamana Malahayati, Kesultanan Aceh memiliki perlengkapan armada laut. Malahayati digambarkan pula sebagai sosok yang tegas dan sigap mengkoodinir pasukannya di laut serta mengawasi berbagai pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, serta secara seksama mengawasi kapal-kapal jenis milik Kesultanan Aceh Darussalam. Namun sayang, suaminya gugur di palagan Selat Malaka ketika melawan Portugis. Setelah suaminya gugur, Malahayati memohon kepada Sultan al-Mukammil, raja Aceh yang berkuasa dari 1596-1604, untuk membentuk armada perang. Prajuritnya adalah para janda pejuang Aceh yang gugur dalam pertempuran di Selat Malaka itu, yang dinamai Laskar Inong Balee dengan anggota berjumlah 2000 orang prajurit.

Bertahap demi tahap, karir Malahayati mulai melesat, saat itu Kerajaan Aceh memang tengah meningkatkan keamanan karena gangguan Portugis. Usul membentuk armada dikabulkan, Malahayati diangkat jadi Panglima Armada Inong Balee atau Armada Perempuan Janda. Pasukan itu bermarkas di Teluk Lamreh Kraung Raya. Benteng Kuto Inong Balee dengan tinggi sekitar tiga meter dibangun. Lengkap dengan meriam. Sisa-sisa benteng itu kini masih bisa dilihat di Aceh. Tak hanya menyusun pertahanan di darat. Pasukan Inong Balee dilengkapi seratus lebih kapal perang. Pasukan yang semula hanya seribu, lama-lama bertambah hingga mencapai dua ribu orang. Armada asing yang melintas di Selat Malaka pun menjadi gentar.

Pada 21 Juni 1599, pasukan ekspedisi dari Belanda yang baru selesai berperang dengan Kesultanan Banten tiba di Aceh. Rombongan yang dipimpin Cornelis dan Frederick de Houtman disambut baik. Namun armada asing itu malah menyerbu pelabuhan Aceh. Karir militernya menanjak setelah kesuksesannya “menghajar” kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Cornelis de Houtman yang terkenal kejam. Bahkan Cornelis de Houtman tewas ditangan Malahayati pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599, sedang adiknya Frederich de Houtman tertawan dan dipenjarakan selama kurang lebih dua tahun. Frederich inilah orang Eropa pertama yang menterjemahkan Bijbel kedalam bahasa Melayu. Akhirnya beliau diberi anugerah gelar Laksamana (Admiral). Kerajaan Aceh melawan Laskar Inong Balee pimpinan Malahayati jadi tembok terdepan dan Belanda berhasil dilibas. Belanda kembali menyerang, pada 21 November 1600 dibawah Komando Paulus van Caerden, mereka menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal yang penuh rempah di pantai Aceh. Di tahun berikutnya, bulan Juni, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah berlayar di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden, Belanda mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Aceh melalui utusan Maurits van Oranjesent.

Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung. Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranjesent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy. Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi penyerbuan yang dilakukan van Caerden. Sepak terjang Malahayati sampai juga ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris. Sehingga negeri raksasa itu memilih cara damai saat hendak melintas Selat Malaka. Pada Juni 1602, Ratu Elizabeth memilih mengutus James Lancaster untuk mengirim surat kepada Sultan Aceh untuk membuka jalur pelayaran menuju Jawa.

Malahayati disebut masih memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Sejumlah sumber sejarah menyebut Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis itu. Setelah wafat dalam pertempuran laut Teluk Krueng Raya Malahayati dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah desa nelayan yang berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh, tidak jauh dari Benteng Inong Balee,. Lokasi makam pada puncak bukit, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu suci. Beberapa kompleks makam di daerah lain yang terdapat di puncak bukit antara lain: Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri Yogyakarta, makam Sunan Giri di Giri Gresik, Sunan Muria di Kudus, dan Gunung Jati di Cirebon.

Nama Malahayati sangat melegenda karena semangat dan perjuangannya melawan dan mengusir penjajah. Untuk mengenang jasanya sebagai pejuang tanpa pamrih tersebut nama Malahayati diabadikan untuk nama jalan, rumah sakit, universitas di Pulau Sumatera, hingga kapal perang TNI Angkatan Laut. Sejarah sudah mencatat beberapa pelaut wanita yang hebat di dunia ini. Laksamana Malahayati harus dikenang sebagai salah satu pahlawan diantaranya karena perjuangannya yang tanpa peduli harus menderita, bahkan sampai kehilangan suami tercinta. (*/Disarikan dari Pelbagai Sumber)

See more at: http://www.bin.go.id/wawasan/detil/308/3/18/09/2014/bpk--bin#sthash.6SlSKpvD.dpuf

Sumber: http://www.bin.go.id/wawasan/detil/308/3/18/09/2014/bpk--bin

Kamis, 05 Juni 2014

Ketika Bung Karno Membicarakan "Atlantis"

Anda pernah dengar legenda Atlantis? Ini merujuk pada cerita Plato pada 335 SM. Dalam salah satu karyanya, Timaeus, Plato menceritakan tentang Atlantis yang hilang. Konon, Critias, nama orang dalam buku Plato, mendengar kisah Atlantis dari Solon. Dan Solon mendengarnya dari seorang pendeta Mesir.


sumber foto : http://m.berdikarionline.com/


Atlantis digambarkan sebagai sebagai negeri dengan peradaban yang sangat maju. Sayang, seperti diceritakan Plato, negeri hebat itu tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam”. Itu diperkirakan terjadi pada 11.600 tahun yang lalu.

Cerita soal Atlantis mengundang rasa penasaran. Banyak orang yang berusaha mencari jejak-jejak kerajaan hilang itu. Ratusan ekspedisi dilakukan untuk mencari jejak Atlantis di Siprus, Afrika, Laut Mediterania, Amerika Selatan, Kepulauan Karibia hingga Mesir. Hasilnya pun nihil.

Belakang, seorang penulis Brazil, Profesor Arysio Santos, membuat kegemparan. Dalam bukunya, Atlantis: The Lost Continent Finally Found, Santos menyimpulkan bahwa peradaban Atlantis ada di kepulauan Indonesia. Banyak pakar, terutama pakar geoologi, membantah hipotesis Santos ini. Kita tak akan membahas polemik ini.

Rupanya, 47 tahun yang lalu, Bung Karno juga bercerita soal Atlantis. Bung Karno melakukannya di depan rapat para panglima ALRI di Tanjung Priok, Jakarta. Awalnya, Bung Karno berbicara mengenai mitos Nyi Roro Kidul.

Lalu, Bung Karno bilang, “ada kupasan yang mengatakan bahwa di selatan Pulau Jawa ini ada satu Pulau besar, yang seperti Nusa Tembini, kepulauan pulau Nusa ini, seperti Nusa Tembini diereh oleh seorang Raja Putri.”

Raja Putri itu, kata Bung Karno, mempraktekkan hukum matriarchal. Akan tetapi, kerajaan Nusa Tembini tenggelam ke dasar laut. Nah, inilah yang kemudian dikenang dengan cerita Nyi Roro Kidul.

Cerita soal Nusa Tembini ini, menurut Bung Karno, mirip dengan kepercayaan orang eropa mengenai kerajaan lautan Atlantis. Bung Karno memulai penjelasannya dengan tarikan geografis.

Ia mencoba menjelaskan, di sebelah barat Eropa Barat dan Afrika Barat, kemudian sebelah timurnya Amerika Utara dan Amerika Selatan, terdapat ruang kosong. “Sepertinya di tengah itu ada lubang,” katanya. Menurut Bung Karno, kemungkinan besar kawasan itu dulunya benua besar yang pecah.

“Di sebelah sini Amerika Utara dan Amerika Selatan, di sebelah sini Afrika dan Eropa, dan ditengah-tengahnya itu ada, itu tadi, satu pulau besar yang dinamakan Atlantis,” ungkap Bung Karno.

Pulau besar itu, katanya, dilingkari oleh lautan luas yang disebut Lautan Atlantis. Pulau besar Atlantis itulah yang tenggelam. Jadi, Bung Karno menyimpulkan, Atlantis itu ada di tengah-tengah antara Amerika Selatan-Amerika Utara dan Afrika-Eropa.

Lebih jauh, Bung Karno menjelaskan, kerajaan Atlantis ini juga diperintah oleh seorang raja perempuan. Hukumnya pun bersifat matriarchal. Bagi Bung Karno, hal itu memang sangat masuk akal, karena—seperti ditulis dalam buku “Sarinah”—hukum tertua dalam sejarah manusia itu adalah hukum matriarchal.

Namun, Bung Karno menegaskan, cerita Atlantis agak berbeda dengan Nyi Roro Kidul. Bung Karno tidak ingin melihat kepercayaan Nyi Roro Kidul itu berakhir sebagai mistik belaka. Baginya, cerita Nyi Roro Kidul hanya simbol belaka, bahwa jikalau kita bersatu dengan laut, bisa menjadi negara maritim, maka kita akan menjadi negara kuat.

Jadi, dalam konteks ini, Bung Karno tidak sedang membenangkan dirinya dalam pendiskusian soal mitos. Sebaliknya, ia berusaha menarik kepercayaan itu sebagai penanda simbolis belaka. Dengan begitu, ia berusaha menjadikan cerita Nyi Roro Kidul sebagai legitimasi bahwa kita harus memperkuat karakter maritim bangsa kita.

Mahesa Danu

sumber: klik disini

Cara Mendapatkan EViews 11 Demo Version

 Oleh: Jul Fahmi Salim Assalmkum wrwb.. Selamat Pagi, Siang, Malam teman-teman sekalian, jika dipostingan sebelumnya sydah ada cara mendapat...