Tampilkan postingan dengan label Gunung Leuser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung Leuser. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juli 2017

Pembangunan Ekonomi Aceh Tenggara

Oleh : Jul Fahmi Salim

Apa sebenarnya pembangunan ekonomi tersebut?

Pembangunan ekonomi adalah upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan perekonomian daerahnya dengan menggunakan sumber daya yang ada di daerah tersebut, baik sumber daya alam, sember daya manusia, hingga sumber daya modal.

Lantas, bagaimana dengan Kabupaten Aceh Tenggara? sudah seberapa jauhkah perkembangan perekonomian di Aceh Tenggara?

Sumber : Google.com

Dari sudut pandang penulis sendiri, Aceh Tenggara bukanlah sebuah daerah yang tertinggal, bukan merupakan daerah miskin sumber daya alam maupun sumber daya modal, sehingga masih bisa melihat beberapa opsi dalam meningkatkan perekonomian Aceh Tenggara.

Sebenarnya terdapat  beberapa hal yang bisa dijadikan Trigger dalam pembangunan di Aceh Tenggara, : 
  1. Sumber Daya Alam
  2. Memanfaatkan Sumber Daya Manusia yang ada (Terutama keterlibatan Akademisi dan Tokoh Muda)
  3. Integrasi sistim informasi dalam Kabupaten
  4. Program / Perencanaan setiap Dinas Harus Sinergi Satu dengan yang lain

1. Sumber Daya Alam

Mendengar Sumber Daya Alam, tentu sempat terfikir oleh kita untuk mengeksploitasi isi perut bumi Sepakat Segenep ini, nah kali ini saya kurang sepakat mengenai itu. Pemanfaatan sumber daya alam tidak harus mengorek isi perutnya, bisa juga dilakukan dengan memanfaatkan nama besar daerah itu sendiri. Kenapa bisa seperti itu ?

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ???
Gunung Leuser di sebut-sebut sebagai salah paru-paru Indonesia bahkan Dunia. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, seberapa besarkah manfaat perekonomian yang di dapat dari nama besar Gunung Leuser ini? 

Seberapa besar Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sudah mampu di hasilkannya?
Seberapa besar kontribusi sektor dan sub sektor yang memanfaatkan Nama Besar Gunung Leuser terhadap PDRB Aceh Tenggara??

Masukan :

a. Memaksimalkan Potensi Wisata Alam,

Bukankan Aceh Tenggara memeiliki banyak daerah pegunungan ? mengapa tidak mencoba menjadikan salah satu daerah atau lokasi yang dapat di gunakan sebagai wadah / penyalur kecintaan alam bagi mahasiswa maupun kegiatan pramuka bagi pelajar seperti Hicking, Tracking, Camping, Outbound, dsb. Lantas, dengan wilayah ini akan menimbulkan efeek ganda ekonomi yang bagus karena akan bermunculan toko peralatan camping kemah, pramuka dll, penginapan sementara pendaki, rumah makan dan sarana dan prasarana pendukung lainnya. Tentu saja tantangan terbesarnya adalah harus mampunya para pendatang (lokal / domestik / mancanegara) terhadap segala peraturan adat atau aturan tidak tertulis lainnya di daerah tersebut..

Selain itu, dari sisi ketenaga kerjaan, kegiatan yang termasuk ke dalam sub sektor pariwisata atau mungkin sektor jasa ini akan menampung tenaga kerja yang cukup baik,karena kegiatan ini akan memerlukan guide lokal, pekerja antar barang, mungkin angkutan terbatas sejenis "ojek", serta penjaga di tiap pos pemberhentian dari kaki gunnung hingga mencapai ke puncak / tempat perkemahan / camping tertinggi.

b. Memanfaatkan Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat penting dalam berjalannya roda perekonomian. Manfaatkan sumber daya manusia yang ada dari kaum professional, akademisi, pengusaha, serta masyarakat yang memiliki skill di bidang tertentu. Bila perlu lakukan pelatihan yang bersifat kewirausahaan dengan perwakilan setiap desa. Ini bertujuan untuk meunjang perekonomian dari dasar terbawah yaitu masyarakat desa.

c. Integrasi Sistem Informasi Dalam Kabupaten

Sistem yang terintegrasi sangat berguna dalam menunjang keberhasilan penerapan kebijakan Pemda. Bagaimana tidak, dalam masalah ketepatan dalam pembagian raskin dan bantuan lainnya, dapat dituju secara jelas siapa saja yang patut menerimanya.

Sebaiknya integrasi sistem informasi antar desa dan dinas  harus bisa segera dilaksanakan dan harus mengandeng BPS Kabupaten dalam menentukkan informasi yang sebaiknya di masukkan. Agar Mapping setiap daerah / desa mampu lebih tajam.


(bersambung)




Rabu, 30 Maret 2016

Leonardo DiCaprio Terpukau dengan Biodiversitas Taman Nasional Gunung Leuser Aceh Tenggara

Oleh : Jul Fahmi Salim
Asssalamualaikum wr wb..

Copas dari website GunungLeuser..

Minggu (27 Maret 2016), Leonardo DiCaprio, aktor dunia yang terkenal sebagai tokoh Jack Dawson pada film Titanic (1997)menjejakkan kaki di Taman Nasional Gunung Leuser. Dalam kunjungannya, Leo dan rekan aktor lainnya, Adrien Brody (pemeran Jack Driscoll dalam film Kingkong) dan Fisher Stevens beserta kru menyaksikan secara langsung keanekaragaman hayati di Stasiun Penelitian Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara.  Peraih Oscar pada Academy Awards ke-88 ini beruntung bisa bertemu dengan 3 Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dewasa di lokasi yang tidak jauh dari camp penelitian. Leo sangat terpukau melihat keindahan hutan Taman Nasional Gunung Leuser di SP Ketambe dan mendengar suara rangkong serta spesies burung lainnya. Selama hampir 2 jam ia habiskan untuk menyaksikan perilaku Orangutan Sumatera (Pongo abelii), satwa liar yang  97% genetikanya mirip dengan manusia.





“Balai Besar TNGL mendukung pihak-pihak yang beritikad baik membantu konservasi Leuser. Kami juga mengapresiasi pegiat lingkungan yang mengkampanyekan kelestarian alam, termasuk Leonardo DiCaprio dan rekan-rekannya ini”, ujar Kepala Balai Besar TNGL, Andi Basrul.

“Yang penting siapapun yang masuk kawasan konservasi tetap mengikuti prosedur dengan mengurus perijinan sesuai peraturan yang berlaku”, lanjutnya.


Leonardo DiCaprio merupakan aktor sekaligus aktivis lingkungan yang gencar mengkampanyekan perubahan iklim. Melalui Leonardo DiCaprio Foundation, ia aktif mendukung kegiatan konservasi di seluruh dunia. Di Indonesia, yayasan ini membantu konservasi di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan hutan Aceh. Indonesia menjadi lokasi penting bagi mereka karena memiliki keragaman hayati yang sangat tinggi. Tak heran jika kebakaran hutan yang menghabiskan sekitar 2 juta hektar lahan tahun lalu membuat ia dan dunia tersentak.


Kedatangan pemeran Hugh Glass dalam film The Revenant ini disambut antusias warga setempat. Helikopter yang membawa Leo dan tim mendarat di lapangan SMA Negeri 1 Ketambe. Leo yang berkunjung ke Indonesia untuk melihat kemajuan program di Aceh Timur sebelumnya tidak punya rencana untuk datang ke Aceh Tenggara, namun ia ingin melihat Stasiun Penelitian Orangutan Sumatera tertua dan melihat Orangutan Sumatera secara langsung di habitatnya yang berada di Taman Nasional Gunung Leuser.


Lebih lanjut Andi Basrul menjelaskan, “Keterlibatan masyarakat lokal, nasional dan internasional dalam pelestarian Taman Nasional Gunung Leuser sangatlah penting, karena TNGL merupakan salah satu dari 5 TN tertua di Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 6 Maret tahun 1980. Selain itu, Taman Nasional Gunung Leuser juga menyandang gelar Cagar Biosfer yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1981. Pada tahun 1984, TNGL ditetapkan sebagai ASEAN Heritage Park (AHP) oleh Asean Center for Biodiversity (ACB) dan tahun 2004 ditetapkan sebagai Warisan Dunia – Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) bersama TN Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan. Pada tahun 2008, TNGL juga ditetapkan menjadi salah satu Kawasan Strategis Nasional”.


Semoga kepedulian masyarakat dunia akan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser juga menular menjadi kepedulian dan kebanggaan bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Leuser dan Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dengan konservasi.
[Teks & foto © BBTNGL | 28032016 | Agus, Yunita]

Sumber : Klik disini

Rabu, 01 April 2015

Potensi Wisata di Aceh Tenggara, Sudahkah Kita Memanfaatkannya?

Rabu, 1 April 2015 

Oleh : Jul Fahmi Salim

Assalamualaikum wr wb...

Peta Menuju Kutacane (Sumber : Google Image)


Ada apa dengan judul postingan kali ini?
Bukan apa-apa, hanya sebuah keresahan dan pandangan sederhana dari seorang pemuda asli daerah yang sedang dalam  perantauan..heheh. Jika diperjelas mungkin maksudnya adalah, kita memiliki banyak objek wisata tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Jika kita belum mampu memanfaatkan nya secara keseluruhan, sebaiknya pemerintah daerah harus mendukung dan memajukan salah satu jeis wisata yang lebih unggul dari  wisata lainnya. Beragam ekowisata yang bisa dimanfaatkan, mulai dari mengunjungi hutan Ketambe, wisata air panas, serta arung jeram di sungai Alas yang sudah terkenal hingga ke manca negara. Bahkan beberapa tahun lalu pernah diadakan kejuaraan arum jeram tingkat Internasional yang di ikuti dari berbagai negara (*baca beritanya disini). Hal itu merupakan bukti bahwa arung jeram mampu dijadikan sebagai salah satu wisata unggulan yang akan kita manfaatkan.

Guest House di Ketambe (Sumber Google Image)


Arung Jeram di Lawe Alas (Sumber : Google Image)


Arung Jeram di Lawe Alas (Sumber : Google Image)


    Sebenarnya apa yang salah dengan kita? Begitu banyak di karuniai wisata alam tetapi malah mengabaikannya. Bandingkan dengan daerah atau bahkan negara lain yang rela membuat objek wisata buatan karena tidak memiliki objek wisata alami. Yang ingin saya perjelas adalah, sebenarnya apa kegiatan  / kerjaan dari dinas pariwisata Kab. Aceh Tenggara? apakah mereka bekerja? Apakaha dari sekian banyak pns di Dinas tersebut tidak ada yang memiliki ide-ide cemerlang? Atau program kerjanya hanya Copast (Copy paste) saja dari tahun ke tahun? Jika sudah ada, Apa output yang sudah dihasilkan? Hasil nyatanya apa?. Sebagai contoh sederhananya adalah, apakah kita sudah memiliki sebuah website yang khusus berisi info wisata di daerah Aceh Tenggara? seperti tourism center lah , dimana terdapat berbagai informasi seperti lokasi, jarak tempuh, tempat penyewaan alat-alat wisata, biaya perjalanan, biaya penginapan, Contact Person yang jelas serta Costumer Service tempat wisatawan mengadukan berbagai keluhan yang pada akhirnya informasi tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas dan pelayanan di objek wisata yang dituju.  Sepengetahuan saya belum ada..!!  lantas bagaimana kita bisa mengetahui potensi wisata apa saja yang kita miliki? Jangankan masyarakat luar Aceh Tenggara (Agara), bahkan banyak penduduk Agara sendiri yang tidak tahu sebenarnya di mana saja potensi wisata itu berada. Karena bukan persoalan yang sulit untuk membuat website, hanya kisaran ratusan ribu Rupiah kok. Jika masih berat juga, maka buat saja dalam bentuk blog, namun resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Aceh Tenggara. Sungguh miris bukan?

    Bayangkan Efek ganda (Multiplier Effect) yang mampu kita dapatkan dari pengembangan objek wisata ini, mulai dari makin lancarnya roda perekonomian masyarakat, bertambahnya pendapatan daerah baik dari pajak maupun retribusi, besar potensi susksesnya usaha angkutan umum maupun travel, berpeluag untuk membuka jasa penukaran uang (Money Changer), berpeluang untuk membuka toko cinderemata, serta toko penyewaan alat-alat untuk arung jeram, hiking dsb serta  peluang usaha lainnya.

   Dengan berkembangnya sektor wisata, bukan tidak mungkin akan membangkitkan serta memunculkan sektor lainnya seperti sektor perkebunan dan pertanian, untuk sederhana mungkin bisa dibandingkan degan daerah tetangga yaitu berastagi. Dimana dapat dilihat dengan berkembangnya sektor wisata, kemudian membangkitkan sektor perkebunan dan perhotelan bahakan memiliki hotel bertaraf  internasional. Dengan nyata dapat dilihat bagaimana potens wisata, sektor pertanian dan perkebuna serta jasa berajalan beriringan dan saling menguatkan di Brastagi. Buka tidak mungkin, Aceh Tenggara juga mampu seperti itu, asalkan pemerintah mau serius dan konsisten dalam mewujudkan dan mengembangkan potensi wisata tersebut.

salah satu Hotel di Brastagi (sumber : Google image)

Salah satu wisata perkebunan buah (sumber : Google image)

Pasar Buah Brastagi (sumber : Google image)


    Selain wisata arung jeram, wisata yang tidak kalah besar peluang untuk pemanfaatannya adalah Eko Wisata Hutan Ketambe. Pemerintah perlu segera menyelesaikan pembangunan pusat penelitian Ketambe yang telah terbakar beberapa tahun yang lalu (**baca disini ). Stasiun penelitian ini sangat penting karena merupakan salah satu tujuan dari berbagai peneliti di dunia, sebaiknya stasiun penelitian yang baru dibangun dengan sarana yang memadai salah satunya fasilitas wifi, namun tetap harus menjaga kelestarian ekosistem dan lingkungan sekitar stasiun penelitian. Dengan begitu para peneliti yang datang ke stasiun terebut dapat berkomunikasi lebih mudah  dan nyaman, sehingga ketika mereka kembali ke daerah maupun ke negara asalnya akan menceritakan bagaimana pengalaman mereka melakukan penelitian di stasiun penelitian Ketambe. Sehingga Tanpa disadari promosi dari mulut ke mulut telah terjadi dan di masa mendatang menarik para peneliti lebih banyak lagi.

dan selalu yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, apakah ada niat untuk memajukan sektor pariwisata ini?

Karena jika ada niat maka segala sumberdaya dan upaya akan di lakukan..

Terimakasih telah membaca tulisan ini. silahka berikan masukan agar tulisan ini bisa semakin baik..

:-)


Cara Mendapatkan EViews 11 Demo Version

 Oleh: Jul Fahmi Salim Assalmkum wrwb.. Selamat Pagi, Siang, Malam teman-teman sekalian, jika dipostingan sebelumnya sydah ada cara mendapat...