Tampilkan postingan dengan label Fokker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokker. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

AIR MATAKU LURUH DI SCHIPHOL..!

Assalamualaikum wr wb...
Copas dari web www.patriotgaruda.com...
Agustus 1992, langit Amsterdam cerah ketika kami menjamu para undangan menikmati hidangan kuliner Indonesia, hasil racikan keluarga kami.Tetamu yang datang pun bukan sekedar dari Amsterdam, Roterdam atau kota-kota lain di Holland, malahan konon ada yang datang dari Belgium, Luxemburg, French, Germany, Austria, Italy, Spain, dan lain-lain.
Hehehe..! Kedengarannya sangat wah, dan datang dari tempat yang jauh-jauh. Namun tidak demikian sebenarnya. Nama-nama negara Eropa tersebut, ternyata saling berdekatan dan memiliki konektivitas transportasi yang sangat baik, sehingga hampir tidak ada masalah sama sekali tentang suatu jarak..! Bayangkan dengan Indonesia di saat itu..! Kita hanya punya beberapa maskapai penerbangan dengan kepemilikan pesawat dalam jumlah yang sangat kecil. Di laut, kita hanya punya beberapa unit angkutan kapal milik PT Pelni. Jalan tol juga baru ada di Jakarta dan beberapa kota di pulau Jawa, selebihnya kita sering menikmati segala kekurangan..!
Itulah tema pertemuan kami di Amsterdam pada hari itu. Meski sejatinya pertemuan ini diselenggarakan sebagai pengenalan keluarga kepada rekan-rekan, kerabat dan sahabat yang kebetulan berdomisili di Eropa, namun nyatanya kami secara spontan memilih pertemuan ini sebagai media tukar pikiran dan memupuk kembali rasa nasionalisme yang ada. Ayahanda menjelma menjadi keynote speaker yang handal dalam moment itu. Bagaimana tidak, meskipun kepindahan keluarga kami ke Belanda karena terpaksa dan bukan karena faktor cinta serta cita-cita, namun nyatanya beliau selalu mendengungkan semangat keindonesiaan yang berkobar..!
Ya, sangat berkobar…! Di matanya, aku melihat jilatan api, seperti api yang pernah menjilat, membakar dan memusnahkan rumah keluarga kami di Indonesia.
Semangatnya begitu menderu, laksana rentetan peluru yang menerjang pintu dan dinding-dinding rumah itu. Tangannya kembali terlihat mengepal, sama persis dengan ketika kami mengetahui bahwa ayahanda dan bunda, tidak akan pernah lagi bisa bekerja di Indonesia, tapi keduanya tidak pernah menitikkan air mata. Namun disini, di sudut mata ini, kelima putranya terhanyut dalam bah kepedihan, ditenggelamkan samudera lara yang dalam tiada tara, dan tergantung tanpa temali di atas bara api..! Luka dan duka itu, menjelma menjadi dendam dalam hati ini. Adakah aku pantas memikul balas yang kubawa, akankah dendam ini mampu menyelesaikan segalanya, pada siapa amarah ini kan kutumpahkannya, masihkah keadilan itu setia di singgasananya, atau punah, lunglai, layu dan tak berdaya..?
Berjuta pertanyaannya tiba-tiba memborbardir pikiranku, yang anehnya, di saat yang sama, setiap ucapan ayahanda seolah berusaha menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang mengalun di hati. Meski dalam duka, ayahanda selalu menekankan arti penting semangat, kemampuan dan ketangguhan. Ayahanda tidak ingin membiarkan kami terpuruk sebagai pecundang, karena kami dan kita sama-sama terlahir dari rahim ibu pertiwi yang mewarisi terah bangsa pemenang. Jangan pernah menyerah, kita bukan bangsa sampah yang cuma doyan menyepah..! Kita bangsa pejuang yang mampu bangkit menjadi pemenang yang abadi, jaya, gemah dan ripah..! Aku terkejut, ketika seseorang menepuk bahuku. Seorang relasi ayahanda yang juga senior beliau, seakan bisa membaca isi kepalaku. Dengan lembut dia menyapu air mataku. “Ini bukan akhir dari segalanya, ini adalah langkah awal, ini yang disebut sebuah permulaan. Inilah peluang, dan inilah kesempatan untuk kalian menjadi seorang pemenang..!”
Kata-kata penyemangat itu nyata telah mampu menarikku dari keterpurukan, dan mengembalikan aku akan kecintaan terhadap bangsa dan negeriku, Indonesia..! Sejak saat itu pula, aku beserta abangku, bertekad untuk pulang dan melanjutkan perjuangan keluarga yang tertunda. Kami yakin, kelak kami akan mampu mengecap dan menikmati sebuah kemenangan dan mempersembahkan bingkisan keadilan..! November 1992, ku kemas segala kenangan di dalam hati, membiarkannya menari dan menyanyi penuh ekspresi. Aku tak ingin bersedih dan kecewa lagi. Aku mencatat segalanya dalam helaian jiwa, terangkum rapi dalam kisi-kisi hati, menjadikannya sebagai sebuah album, yang tidak sekedar sebuah kenangan, tapi juga kemenangan. Kelak aku akan memutar segalanya kembali, sebagai sebuah ensiklopedi..!
Tepat di hari terakhirku, Schiphol menjadi saksi bisu pertemuan kami. Sang relasi ayahanda nan bijak itu, dengan penuh kelembutan dan keramahan, kembali menyulut semangatku dan mengingatkan segala kebesaran negeri yang kita miliki. Kita adalah kunci kemajuan dan kemakmuran bangsa, jangan pernah bercerai-berai dan saling benci. Kita harus mampu menjadi manusia Indonesia yang bersemangat, berkemampuan dan tangguh. Kita boleh berkompetisi, namun harus mengedepankan sikap kooperasi
dedenew37


Lihat bandara ini, kelak kita harus mampu memindahkannya.
Lihat pabrik pesawat Fokker itu, nanti kita harus bisa mengalahkannya.
Kita berkemampuan, dan kita berpeluang menjadi bangsa pemenang. Pada yang muda, ku titipkan asa dan cinta ini untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik, sejahtera dan penuh pesona.
Jangan pernah kendurkan doa dan semangatmu, niscaya Tuhan kabulkan cita-citamu..! Berkaryalah..!
#thanks_eyangprofsubroto.com
by Patku Yayan Indocuisine
Gambar by Google dan Patsus Dede Sherman

Sumber : klik disini

BELAJAR DARI FOKKER

Assalamualaikum wr wb..
Selamat malam.. 
Mari menyimak artikel mencerahkan dan membangkitkan rasa nasionalisme kita dari www.patriotgaruda.com 
Ketika PT Dirgantara Indonesia dipailitkan oleh IMF dan menyebabkan tersungkurnya project pesawat penumpang pertama Indonesia N250, saya kembali teringat pada ucapan Eyang Prof. Subroto pada 1992, saat mengantar saya ke Schiphol Airport, Amsterdam, Belanda. Beliau berujar bahwa kelak kita harus bisa mengalahkan Fokker..! Saat itu, pesawat produksi Fokker sudah sangat terkenal dan mapan, serta dipercaya oleh berbagai negara di dunia, tidak terkecuali dengan Indonesia..! Fokker adalah sebuah perusahaan besar yang sahamnya juga dikuasai oleh perusahaan-perusahaan konglomerasi kelas global. Bandingkan dengan PT Dirgantara Indonesia yang saat itu hanya mengandalkan anggaran negara yang tidak seberapa.
Rasanya untuk bisa mengalahkan Fokker adalah sesuatu yang tidak mungkin. Namun ketika Habibie berhasil menerbangkan pesawat N250 pada Agustus 1995, semua mata dunia terbelalak, karena nyatanya, dari negeri sekelas Indonesialah, pesawat penumpang pertama di dunia yang mengusung teknologi fly by wire itu terlahir..!
Praktis, bisa dibilang semua pesawat penumpang yang ada pada waktu itu, tiba-tiba harus menanggung predikat sebagai pesawat kuno alias ketinggalan zaman..! Maklum, teknologi fly by wire, sebelumnya hanya diapplikasikan pada sebagian kecil pesawat tempur..! Dari sinilah segalanya akan bermula..! Pasca sukses terbang N250, semua produsen pesawat sekelasnya harus berpikir dan berhitung ulang, bahkan mau tidak mau harus meredesign pesawatnya..! Jika tidak, mereka akan rugi dengan wajah ditutupi malu..!
Namun sayang, ditengah kesuksesan PT DI, tiba-tiba Asia dilanda krisis ekonomi yang super parah, dan Indonesia menjadi salah satu atau bisa jadi sebagai negara yang paling hancur diterjang krisis. Dalam suasana yang tidak pasti, maka kita ketahui bahwa IMF mencoba datang sebagai dewa penolong, walaupun pada kenyataannya mereka tak lebih sebagai penodong..! Mengapa IMF sangat bernafsu untuk menggulingkan dan menggulungtikarkan PT DI..? Siapakah sesungguhnya pihak yang berkepentingan di dalamnya..? Inilah kisahnya..
Pasca N250 terbang, semua produsen pesawat dunia mulai mencium bau kematian semakin mendekatinya. Harga saham mereka anjlok di pasaran..! Di Belanda, DASA, pemegang saham mayoritas Fokker, tiba-tiba melelang kepemilikan sahamnya.Anak perusahaan Daimler Benz dari Germany ini memilih untuk lebih fokus mengurus bisnis induknya yang bergerak dalam bidang otomotif..! Sekeluarnya DASA dari Fokker, kontan perusahaan aircraft negeri Belanda itupun meregang nyawa. Tidak lama kemudian, pada 1996, Fokker dinyatakan pailit alias bangkrut..!
Selain itu, perusahaan sejenis di Eropa pun terancam mati mendadak. Aerospatiale, French dan Casa, Spain, harus berjibaku dengan sekaratul maut. Seandainya krisis ekonomi tidak menyerang Indonesia, sangat mungkin kini perusahaan-perusahaan itu hanya tinggal nama. Bersama IMF mereka datang membunuh PT DI..! Kita pun tak berdaya..! PT DI menjadi mati suri, selain harus dengan terpaksa menghentikan kegiatan produksinya, PT DI juga harus menanggung biaya pesangon yang amat besar atas aksi PHK besar-besaran sebagaimana yang diinginkan oleh IMF. Bahkan sekedar untuk meraih sesuap nasi, PT DI harus rela memproduksi panci, dan menjauhkan diri dari identitas dan stempel perusahaan berteknologi tinggi..! Sedih dan sangat prihatin..! Saya yakin, Eropa sangat berdendam dengan PT DI. Bagaimana tidak, berkat N250nya, PT DI telah mampu menghapus mimpi dan meleburkan laba yang sudah ada di depan mata.
Bahkan PT DI juga nyata-nyata telah melenyapkan anggaran Research and Development mereka..! Industri pesawat Eropa dan dunia menjadi oleng, sehingga melenyapkan PT DI adalah sebuah keharusan..! Sukses, PT DI pun lumpuh seketika..! Saat tak berdaya, hal yang paling saya khawatirkan adalah berpindahnya PT DI ke tangan swasta. Jika itu terjadi, maka tidak mustahil PT DI pun mengalami nasib yang sama dengan Fokker..!
yayan29
Tuhan masih menyayangi bangsa Indonesia, Perusahaan Pengelola Asset yang diamanati untuk memprivatisasi PT DI, tak kunjung menemukan pembeli, sehingga hal ini memberi kesempatan kepada kaum nasionalis untuk kembali menata pola pikirnya, agar bisa mempertahankan setiap tonggak kemajuan bangsa yang pernah dicapainya. Berkat kemauan dan kerja keras, akhirnya PT DI mampu bertahan hingga kini dan bahkan mampu bangkit kembali..!
Dengan daya tahan yang dimilikinya,
PT DI mampu memikat hati pihak CASA Spain untuk memindahkan fasilitas produksi C212nya. Type pesawat ini, sejatinya adalah pesawat bersayap tetap pertama yang dibangun oleh PT DI..!
Adapun CASA, Aerospatiale dan Dornier, kita ketahui kemudian melakukan merger dan membentuk perusahaan Airbus dan Eurocopter..!

Karena itu adalah sesuatu yang sangat tidak heran jika PT DI digadang-gadang akan mengembangkan pesawat tempur besutannya bersama Korea, dengan berlandaskan pada teknologi Eurofighter Typhoon..!
Apapun yang akan menjadi pilihan PT DI, sebenarnya saya tidak terlalu mempedulikan. Selama itu baik, why not..? Hehehe..

citoxnew56
Bagi saya bisa melihat PT DI tetap hidup, tumbuh dan berkembang adalah sebuah kepuasan, kebanggaan dan keajaiban..! Selebihnya adalah bagaimana agar kita mampu meraih mimpi, prestasi dan cita-cita yang kita impikan..? Ternyata ungkapan Profesor Subroto tentang kunci manusia Indonesia yang unggul telah menemukan kebenarannya. Kita harus terus semangat, berkemampuan dan tangguh..!
Sesungguhnya, itulah gambaran Indonesia yang kita dambakan..!
Selamat berjuang dan berkarya, bung..! Salam hangat..
by Patku Yayan@Indocuisine
Gambar by Google dan Patsus Citox
Sumber : http://patriotgaruda.com/2015/05/27/belajar-dari-fokker/

Cara Mendapatkan EViews 11 Demo Version

 Oleh: Jul Fahmi Salim Assalmkum wrwb.. Selamat Pagi, Siang, Malam teman-teman sekalian, jika dipostingan sebelumnya sydah ada cara mendapat...