Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Pertanian. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Cara Jepang Suburkan Tanah

OLEH M ILHAMSYAH SIREGAR,
Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Kyoto

    SAYA mendapat kesempatan ikut Diklat ToT Public Policy Planning Program Professional Human Resource Development Project (PHRDP) di Jepang selama dua minggu baru-baru ini. Program ini hasil kerja sama Bappenas RI dengan Ritsumeikan University, Jepang. Ini tahun keempat program PHRDP diselenggarakan, diikuti 25 orang dari Bappenas dan berbagai universitas di Indonesia, termasuk Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Pelatihannya dipusatkan di tiga lokasi kampus Ritsumeikan University: Kyoto, Kitakyusu, dan Tokyo.

      Ritsumeikan University memiliki sejarah panjang dan reputasi cemerlang di Jepang. Universitas ini didirikan tahun 1900 dan terus berpacu  menjadi pusat riset perencanaan, teknologi, dan kebudayaan. Saat ini, Ritsumeikan University memiliki lebih dari 42.000 mahasiswa.
Di Kyoto, saya dan peserta diklat lainnya mendapatkan kesempatan mengunjungi Kameoka, kota kecil di sebelah barat daya Kyoto, kira-kira 48 menit perjalanan darat.

      Kunjungan tersebut dilaksanakan untuk mendengarkan kisah sukses inovasi Cool Vege TM yang digagas Ritsumeikan University dan Pemko Kameoka. Ide Cool Vege bermula dari kerisauan Profesor Akira Shibata, Guru Besar Ritsumeikan University dan Sekretaris Jenderal Japan Biochar Association, akan dampak perubahan iklim dan melihat ada peluang untuk mengimplementasikan teknologi arang biochar yang sederhana dan murah untuk mengikat gas karbon dengan spirit mulia mengurangi dampak perubahan iklim. Teknologi biochar yang dipakai adalah biochar yang dikembangkan oleh sahabatnya, Profesor Makoto Ogawa dari Osaka Institute of Technology tahun 1980.

      Ide inovasinya adalah dengan cara mengikat gas karbon di udara dan disimpan di tanah. Gas yang diikat dari proses fotosintesis tumbuhan yang mendapatkan tambahan biochar itu, tidak hanya mengurangi gas karbon pada udara bebas, tetapi juga dapat menyuburkan tanah.
Arang biochar dibuat dengan cara yang sangat sederhana, yaitu pembakaran biomas dengan teknik miskin oksigen untuk menghasilkan arang biochar yang berkualitas, namun tak menghasilkan banyak asap.

      Profesor Shibata yang menemani kami di Kameoka, menjelaskan bagaimana ia secara sistematis mengembangkan Carbon Minus Scheme Model dengan memanfaatkan teknologi biochar.
      Pertama, kelompok petani diberikan penjelasan yang lengkap tentang skema Carbon Minus serta berbagai manfaat yang akan mereka terima, termasuk manfaat penyelamatan lingkungan. Sebanyak 21 kelompok petani memanfaatkan teknologi biochar dalam proses cocok tanam yang mereka lakukan. Produksi yang mereka hasilkan diberi merek dagang Cool Vege TM dan tercatat secara resmi di Kementerian Perdagangan. Proses ini merupakan kunci keberhasilan seluruh skema yang dijalankan. Profesor Shibata dengan cerdik mengantisipasi potensi kegagalan skemanya dengan cara mempersiapkan kelembagaan kelompok petani dan memperkuat kapasitas mereka, serta memberikan merek dagang sebagai identitas yang berkarakter.
      Kedua, untuk memastikan ketersediaan kompos, Pemko Kameoka dibantu Kementerian Pertanian Jepang membangun pabrik pembuatan kompos di pinggiran Kota Kameoka. Produksi pabrik tersebut 5.000 ton per hari di atas lahan seluas kurang lebih 1 hektare. Kompos yang dihasilkan dijual kepada kelompok petani yang sukarela mengikuti skema Carbon Minus, dengan harga 5.000 yen per 500 kilogram, atau kira-kira Rp 1.000 rupiah per kilogram. Harga yang sedemikian murah tidak lepas dari efisiensi produksi kompos di pabrik tersebut.
      Ketiga, agar produksi 21 kelompok petani yang terlibat dalam skema ini lebih cepat dikenali, lebih mudah dipasarkan dan memiliki reputasi yang lebih baik, Profesor Shibata mengembangkan aspek pemasaran yang memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan di Kyoto dan di prefektur lainnya. Tak main-main, perusahaan properti raksasa Jepang Daiwa House dan Bridgestone mengeluarkan uang banyak untuk mendukung Cool Vege TM.
Cool Vege TM dijual di berbagai supermarket di Kyoto dengan harga kompetitif, meskipun diproduksi serbaorganik. Kemampuan bersaing menjadi kata kunci kebersinambungan produksi mereka.

      Selama tahun 20013, total penjualan produk Cool Vege TM telah menyentuh angka hampir 10 juta yen.  Hingga April 2014, angka tersebut meningkat hingga lebih dari 30 juta yen. Meskipun statistik di atas bukan statistik yang fantastis, tetapi carbon minus scheme dan Cool Vege TM merupakan ide yang hebat. Idenya sederhana, tapi dibangun dengan pilar pembangunan yang utuh: membangun social capital petani, memberdayakan ekonomi masyarakat, dan menyelamatkan lingkungan. Kerja keras Profesor Shibata diganjar Gold Prize Achievement dari Kementerian Lingkungan Jepang pada 17 Februari 2013. Sesaat sebelum Profesor Shibata turun dari bus yang membawa kami ke Kameoka, sambil tersenyum Profesor Shibata berujar, “Use your brain.” Domo sensei, arigatogozaimash. 
[email penulis: ilhamatwork@yahoo.com]

Sumber : klik disini

Selasa, 18 September 2012

REFORMASI STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN UNTUK KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA



Pada awal Repelita pertama, 1967/70 – 1974/75, ada dua keputusan politik terpenting bagi pembangunan sektor petanian. Pertama, negara indonesia harus mencapai swasembada pangan dan menjaga kesetabilan harga yang menguntungkan produsen dan konsumen. Kedua, adanya intervensi  pemerintah dalam bentuk subsidi, penegendalian perdagangan beras dan berpartiipasi langsung dalam pemasaran melalui perdagangan dan distribusi pangan.
Ada 2 dasar pemikiran utama yang mendukung keputusan ini, yaitu :
1.       Sejak awal PELITA I sektor pertanian memang harus  memegang peranan dominan  dan sangat menentukan perkembangan ekonomi di Indonesia.
2.       Karena indikator penting dalam pengukuran kesejahteraan ekonomi bangsa antara lain yaitu ketahanan pangan dan stabilitas harga. Pertumbuhan perkapita yang cepat dan peningkatan kesempatan kerja seta kualitas sumber daya manusia.

Perangkat implementasi strategi pembangungan terdiri atas 2 unsur, yaitu :
1.       Kebijakan harga pangan, yang terjangkau oleh konsumen dan menjabit prifitbilitas usaha tani.
2.       Investasi publik (public investment) untuk pengembangan teknologi pertanian, prasarana dan kelembagaan pertanian.
Sasaran penggunaan kedua perangkat diatas adalah meningkatknya keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif sektor pertanian dan sektor pedesaan yang dicerminkan dengan meningkatnya daya saing dan term of trade hasil pertanian.
                Kebijaksanaan harga pangan mempengaruhi pertumbuhan struktur ekonomi melalui berbagai jalur, dalam hubungan ini ada dua pandangan berbeda yaitu :
-          Pertama, kebijakan harga pangan berlandaskan campur tangan pemerintah adalah tidak efisien karena kebijakan itu menimbulkan distorsi struktur pasar relatif dari berbagai komoditi dan hubungannya dengan harga beras dipasar internasional.
-          Kedua, adalah alokasi anggaran pembangunan untuk pembangunan prasarana fisik dan prasarana ekonomi di pedesaan dan kebijakan makro.  
Ciri – ciri kebijakan dan strategi pembangunan pertanian selama PJP I adalah :
1.       Pola pembanguna pertanian sangat mengandalkan intervensi kebijakan harga, swasembada pangan dan stabilitas harga pangan telah menjadi fokus kebijaksnaan pertanian selama lebih dari dua dekade.
2.       Pembangunan pertanian selama PJP I adalah terfokus pada pemanfaatna potensi pertumbuhan tinggi.
3.       Pembanguna pertanian belum terpadukan dengan pembangunan dan wilayah.
4.       Belum adanya rekonsilasi antara tujuan pemenuhan kebutuhan mnimum nutrisi terutama disektor pertnaian perkotaan dan kebijakan untuk pertumbuhan produksi dan pendapatan secara efisien.
5.       Pembangunan pertanian belum berlandaskan kebijakan pangan sebagai suatu sistem yang terdiri atas tiga unsur, yaitu potensi produksi, pla konsumsi pangan dan kebijakan makro untuk mengkondisikan kedua hal tersebut.
Dalam PJP II keampuhan kedua keputusan politik tersebut adalah layak dievaluasi kembalai karena sejak tahu 1994 derajat  swasembada pangan mengalami penurunan sehingga telah melemahkan ketahanan pangan. Keadaan ini menjadi lebih buruk akibat adanya krisis moneter serta ekonomi sejak bulan juli 1997.
Timmer (1996) dalam studinya dengan kasus indonesia, jepang dan inggris, membuktikan bahwa tidak ada satu negara manapun yang bisa mempertahankan proses pertumbuhan ekonomi yang pesat tanpa terlebih dahulu memecahkan pemasalahan ketahanan pangan. Ketahanan pangan dapat didefenisikan sebagai kemampuan suatu negara yang mengalamai defisit pangan untuk memenuhi sasarna konsumsi pada tingkat tertentu. FAO (1997) mengatakan ketahanan pangan adalah suatu situasi dimana rumah tangga mempunyai akses baik secara fisik maupun ekonomi terhadeap pangan dan semua rumah tangga tidak menghadapi kehilangan akses.
Ketergantungan ketahanan pangan disebabkan dua hal, yaitu : fluktuasi produksi dalam negeri dan fluktuasi ini menyebabkan fluktuasi pendapatan riil dari kelompok masyarakat yang berbeda, dengancara yang bebeda pula.
= Kebijakan Ketahanan Pangan =
        Kebijakan ketahana pangan harus didasarkan pada kemampuan negara indonesia untuk meningktan akumulasi kapital. Akumulaasi ini dapat dilakukakn dalam bentuk peningkatan stok pangan nasional dan valuta asing atau kombinasi keduanya.
Jika dalam bentuk stok pangan nasional, yang berasal dari produksi dalam negeri, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah investasi besar-besaran dalam pembangunan sistem produksi, distribusi pangan, transport, komunikasi dan sistem peringatan awal (early warning system), kebijakan stabilisasi harga pangan.  
Jika dalam bentuk valuta asing, langkah utama adalah meningkatkan ekspor hasil pertanian dan industri serta peningkatan pariwisata. Jika dalam bentuk keduanya, maka implikasinya ada tiga, yaitu pengembangan insentif bagi peningkatan produksi petani, peningkatan perdagangan luar negeri, dan anggaran pemerintah untuk menyerap ketidakstabilan, kompensasi berkurangnya daya beli atau pendapatan riil petani atau tenaga kerja serta pengembangan sistem cadangan pangan nasional, penyesuaian konsumsi dan produksi
= Perencanaan Pembangunan Pertanian =
                Sejarah teori perencanaan pembangunan dapat dilacak dari dua pandangan yang berbeda tentang proses pembanguna, yaitu structuralist dan neoclassicalis. Neoclassicalis adalah suatu pemikiran hubungan dengan konsep marjinal utilitas dan produktifitas yang menerangkan bahwa harga sebagai perubahan nilai. Neoclassicalis memandang bahwa kuantitas produksi adalah fleksibel, sumber daya dapat bergerak dengan sempurna dan perubahannya mengandalkan produksi pasar.
                Argumentasi dari structuralis adalah jelas, teori neoclassical tidak bekerja dengan sempurna sehingga diperlukan intervensi pasar. Dinegara berkembang pandangan neocassical ini jauh dari kenyataan. Di dalam dunia nyata terlihat bahwa kondisi pasar selalu berbeda dari kenyataan kompetisi ideal, bahkan kalau ada persaingan pasar, hasil yang dicapai dengan mekanisme pasar hanya menjadi efisien jika terjadi pemerataan hasil-hasil pembangunan.
                Disuatu negara selalu ada tujuaj pembangunan ekonomi yang sah, baik bersifat ekonomi maupun non ekonomi yang perlu dicapai untuk memenuhi tuntutan masyarakat melalui intervensi-intervensi pasar. Karena itu, kebijaksanaan harga perlu mempertimbangkan tiga hal pokok, yaitu efisiensi, equity dan peningkatan penerimaan negara.
Nama                    : Jul Fahmi Salim
NIM                      : 0901101010011
Jurusan                   : Ekonomi Pembangunan
                                  Univ. Syiah Kuala Banda Aceh

Teori dan Model Pembangunan Pertanian


Teori dan Model Pembangunan Pertanian
  • Model Perubahan Struktural
  • Teori Ketergantungan Internasional
  • Pembangunan Pertanian dan Pertumbuhan
  • Pembangunan Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan
  • Pembangunan Pertanian dan Kebutuhan Dasar Manusia
  • Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
1. Model Pembangunan Struktural
Proses pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang mengikuti pertumbuhan pendapatan perkapita. Perubahan struktur ekonomi yang semula didominasi oleh sektor primer (pertanian) ke sektor-sektor non-primer (industri, pedagangan dan jasa).
2. Teori Ketergantungan Internasional
Keterbelakangan (underdevelopment) terjadi pada saat masyarakat pra-kapitalis tergabung ke dalam system ekonomi dunia kapitalis.

3. Model Pertanian dan Pertumbuhan
Apabila sektor pertanian tidak produktif, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada suatu negara akan menurun pula.
4. Pembangunan Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan
Pertumbuhan pertanian memiliki kontribusi yang signifikan dalam pengentasan kemisikinan.
5. Pembangunan Pertanian dan Kebutuhan Dasar Manusia
Pilihan untuk berumur panjang dan sehat, mendapat pendidikan yang cukup, dan menikmati standar kehidupan yang layak -> direpresentasikan dalam Human Development Index (HDI).
6. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Terminologi -> Pertanian Alami, Pertanian Organik, Pertanian Biodinamik, Pertanian Ekologis, Pertanian Rendah Input Luar, Pertanian Berkelanjutan, Pertanian Berkelanjutan yang Rendah Input Luar.

Cara Mendapatkan EViews 11 Demo Version

 Oleh: Jul Fahmi Salim Assalmkum wrwb.. Selamat Pagi, Siang, Malam teman-teman sekalian, jika dipostingan sebelumnya sydah ada cara mendapat...